Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
13. Iri tanda Tak mampu


__ADS_3

"Ngapain sih lo mikirin omongan orang? Emangnya yang ngasih lo makan mereka? Bagus donk kalo mereka iri. Itu artinya mereka harus bisa ngalahin kemampuan lo. Ngapain pusing sih" kata Ayyas enteng dan menghampiri Rosa yang menyenderkan tubuhnya di sofa ruangan Ayyas.


"Seandainya gue terlahir jadi sultan. Huft!" kata Rosa sambil memejamkan matanya.


"Kalo lo terlahir dari sultan. Gue gak yakin kalo lo sekarang punya kemampuan di atas rata-rata. Bersyukur woy bersyukur. Gue aja bersyukur punya sahabat kayak lo" ucap Ayyas sambil mengangkat satu kakinya mendindih kaki satunya lagi. Rosa membuka matanya lalu menatap Ayyas aneh.


"Ck"


"Lo pun selain punya kemampuan di atas rata-rata. Lo juga bisa ngendaliin 4 toko bakery lo. Malah gak pernah sepi lagi tuh toko. Dan lo juga kadang masih suka terima tawaran model kan. Bahkan di butik Yuda lo itu model utamanya. Jadi wajar aja sih kalo banyak yang iri sama lo" ucap Ayyas lagi yang tak bisa menutupi kebanggannya atas pencapaian Rosa.


"Nah kalo lo terlahir dari sultan. Belom tentu lo jadi Rosa Malinka kayak sekarang ini"


"Hm iya iya"


"Yaudah tanda tanganin tuh surat keputusan gue. Masih mending gue naikin jabatan lo jadi direktur keuangan dari pada gue turunin jabatan lo jadi staf biasa. Bisa kerja terus bagai kuda lo ha ha ha" ujar Aldo sambil tertawa lepas.


"Sialan lo" balas Rosa yang lalu menanda tanganin selembar surat keputusan yang di buat oleh Ayyas.


"Selamat atas jabatan lo yang baru ya. Dan untuk merayakannya ntar siang kita makam barenga sama Yuda dan Rizki" kata Ayyas dan membuat Rosa berpikir sejenak.


'Makan siang bareng? Tadi Rizki emang nawarin makan siang bareng. Apa gak apa-apa kalo bareng-bareng juga sama anak-anak? Eh tapi kan mereka sahabat gue sama Rizki juga. Eh eh eh kan mereka juga belom tau kalo gue udah di lamar Rizki dan akan di nikahin Rizki bulan depan. Aduh Rizki kenapa gak kepikiran kasih tau mereka sih kemarin' ucap Rosa dalam hati.


"Kenapa lo? Gak mau teraktir kita makan?" tanya Ayyas menebak.


"Eh?" jawab Rosa ketika tersadar.


"Bukan gitu. Emang mau makan ap--"


"Woy. Gila panas banget si luar" kata Yuda yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Rosa. Begitu juga Rizki setelahnya dan duduk sebelah satunya Rosa.

__ADS_1


Rosa tiba-tiba canggung dengan suasana seperti ini. Ruangan yang dingin seketika menjadi panas rasanya.


Bagaimana tidak, Rizki terus menunjukan senyumnya yang tak pudar sedikit pun.


"Cepet juga kalian sampe" kata Ayyas yang langsung melirik jam tangannya.


"Kalo menjelang jam makan siang, gue takut macet Yas. Yang ada gue telat sampe sininya" jawab Yuda yang merebahkan punggungnya ke sandaran sofa. Sedangkan Rizki hanya membalas dengan senyum saja.


Iya Rizki menjadi pendiam lagi jika sudah kumpul berempat. Memang Rizki ini lebih tertutup dari dulu hingga saat ini.


"Eh mau makan apa? Rosa yang teraktir. Abis naik jabatan dia" goda Ayyas sambil melirik Rosa.


"Oh my god. Rosa Malinka sayang uuccchhh selamat yaa" kata Yuda yang langsung mencium pipi kanan dan kiri Rosa. Baik Rosa dan Rizki sama-sama membulatkan matanya.


"Seriusan dia mau naik jabatan Yas?" tanya Yuda mencoba menegaskan karena takut salah dengar.


"Lo lagi gak salah makan atau ke sambet kan Ros?" tanya Yuda sambil memperhatikan dengan seksama Rosa.


Rosa pun memutar bola matanya malas. Lalu pandangan matanya bertemu dengan Rizki yang ada di sebelahnya. Rizki tersenyum manis menatap Rosa yang ada di dekatnya.


"Jadi mau traktir makan apa Ros?" tanya Ayyas yang sangat antusias.


"Hah? Apa? Eh" jawab Rosa linglung.


"Terserah lo aja mau apa. Bebas pokoknya" jawab Rosa lagi menyadarkan kesadarannya.


"Assyyyiiik gue suka nih kalo lo udah bilang bebas mau makan apa aja ha ha ha" ucap Ayyas sambil tertawa gembira.


"Tapi gak aneh-aneh" sahut Rosa mengingatkan. Sebab Ayyas adalah seorang non muslim yang kadang suka ingin memakan makanan yang halal baginya tapi tidak bagi yang lainnya.

__ADS_1


Iya pertemanan mereka berbeda keyakinan namun tetap kokoh hingga saat ini.


"Iya iya bawel. Yaudah yuuk jalan. Ntar keburu macet lagi" ajak Ayyas semangat.


"Baru juga gue ngadem Yas. Etdah ah" kata Yuda sedikit protes.


"Ntar juga di mobil ngadem lagi Yud. Yaelah lu. Emang abis panas-panasan ngapain si? Perasaan di luar gak panas-panas banget deh" gerutu Ayyas dengan menatap sini Yuda.


"Pala lo gak panas. Sono lo keluar cek sendiri dah. Panasnya poel banget ege"


"Ah masa sih. Perasaan lo aja kali yang gak bisa gak pake ac"


"Belicik lo. Udah aahh yuuk jalan. Ayook Ros" kata Yuda lalu meraih tangan Rosa dan menarik Rosa hingga berdiri.


"Gue keruangan gue dulu ambil tas sama hape" ucap Rosa lalu beranjak meninggalkan ketiga sahabatnya.


Setelah dari ruangannya Rosa pun mengikuti langkah ketiga sahabatnya. Yuda pun menoleh ke Rosa lalu merangkul mesra sahabat perempuannya itu. Refleks Rosa terdiam dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa? Ayoo ah" kata Yuda yang masih merangkul Rosa. Rizki menahan emosi dalam dirinya. Merasa gak suka melihat Rosa yang di rangkul mesra dengan Yuda.


Rizki oun berinsiatif menggenggam tangan Rosa meski Rosa di rangkul oleh Yuda. Ayyas terheran ketika membalikan tubuhnya mendapati kedua sahabat laki-lakinya yang seperti tak mau kalah mengambil perhatian sahabat perempuannya.


"Dasar curut. Bisa-bisanya lo berdua bersikap kayak gitu di kantor gue. Gue yakin besok kantor gue rame sama gosip tentang Rosa. Emang susah sih jadi primadona. Rosa-Rosa salah apa lo jadi nanggung ulah tuh curut berdua" kata Ayyas sambil menggelengkan kepalanya.


"Heh lepasin direktur keuangan gue. Apa-apaan ya kalian berdua. Bisanya nyusahin Rosa aja. Besok-besok gue bikin peraturan dilarang bersentuhan dengan Rosa sebelum jadi suaminya!!" ujar Ayyas dengan wajah tak sukanya.


"Ihks iri tanda tak mampu bos" celetuk Yuda yang tak mempedulikan perkataan Ayyas. Padahal memang jelas terlihat dari tadi banyak pasang mata yang memperhatikan ketiga orang itu.


"Nyetir lo. Jangan pegang-pegang Rosa Malinka gue" kata Ayyas melemparkan kunci mobil miliknya. Dan beruntung langsung tertangkap tangan satu oleh Yuda sedangkan tangan Yuda yang satu masih setia di bahu Rosa.

__ADS_1


__ADS_2