
"Ck!" decah papi Roni dengan sudut bibir terangkat miring.
"Saya tidak mau tahu menahu. Rizki harus menikahi anak saya sore ini karena semua sudah saya siapkan" lanjut papi Roni dengan tegas.
"Mau sampai kapan pun saya gak akan membiarkan anak saya menikahi anak bapak" seru ibu Titi dengan nafas yang memburu.
"Lagi pula untuk apa saya menikahi anak om? Saya sudah menikah, memiliki seorang istri dan akan menjadi seorang ayah. Dan saya tidak ada hubungan apa pun dengan anak om setelah berakhirnya hubungan kami dulu" kata Rizki membela dirinya. Papi Roni menghiraukan perkataan yang terucap oleh Rizki. Tatapannya sangat meremehkan.
"Saya pastikan jika kamu tidak mau menikahi anak saya, perusahaan kamu akan rata dengan tanah besok pagi" ancam papi Roni.
Rizki dan ibu Titi menjadi tak habis pikir dengan apa yang di dengarnya barusan. Sebuah ancamankah?
"Bersiaplah!! Nikahi anak saya sore ini di ruang VVIP Anggrek no. 301"
"Kenapa saya harus menikahi anak om? Apa alasannya?" tanya Rizki dengan suara sedikit tinggi. Papi Roni tertawa menertawakan pertanyaan Rizki. Bagi papi Roni memang semua salah Rizki yang membuat Sani bisa hamil karena ulah kakak sepupunya. Terlebih kakak sepupunya gak mau bertanggung jawab jadi mau gak mau Rizki yang harus bertanggung jawab. Papi Roni sendiri gak peduli dengan status Rizki saat ini.
Terlebih hubungan rumah tangga Rizki dengan istrinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dan papi Roni menggunakan kesempatan ini untuk memisahkan Rizki dan istrinya.
"Karena anak bodoh saya terlalu mencintai laki-laki seperti kamu. Dan kamu jangan lupa jika kamu pernah mengatakan akan bertanggung jawab dengan anak saya dan cucu saya jika ayah biologisnya tidak mau bertanggung jawab" jelas papi Roni.
"Kakak sepupu?" tanya ibu Titi pada dirinya sambil berpikir siapa kakak sepupu Rizki yang di maksud papi Roni.
"Indra? Apa kakak sepupu yang pak Roni maksud itu Indra?" tanya ibu Titi serius. Papi Roni tersenyum sinis dengan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Ibu Titi melebarkan matanya dengan mulut sedikit menganga karena merasa tak percaya. Ibu Titi mencoba mengingat masalah yang terjadi antara anak dan menantunya yang mana Rosa pergi karena hal demikian. Indra? Pikiran ibu Titi melayang.
"Anak saya sudah melahirkan, dan cucu saya lahir harus memiliki seorang ayah. Saya harap kamu mengerti dan mau mempertanggung jawabkan perkataan kamu!" kata papi Roni lalu meninggalkan ruang rawat ibu Titi.
Setelah keluar dari ruang rawat ibu Titi, papi Roni melebarkan matanya. Pasalnya dirinya berpapasan pas dengan Rosa, Ayyas dan Yuda. Rosa melebarkan senyum saat dirinya bertatap mata dengan papi Roni tapi tidak dengan papi Roni yang merasa semua akan berantakan karena kehadiran Rosa saat ini.
Papi Roni pun terus berjalan tanpa membalas senyuman Rosa. Rosa menatapnya bingung namun segera ditepisnya. Mungkin papi Roni lupa akan dirinya. Tapi yasudahlah.
"Itu bukannya om Roni? Papinya Sani?" tanya Ayyas yang juga mengenali.
"Kayaknya iya deh tapi kenapa keluar dari ruang rawat itu? Bukannya itu ruang rawat mertua lo Ros?" jawab dan tanya Ayyas lagi dengan memperhatikan pintu depan ruang rawat dan punggung papi Roni yang semakin menjauh.
"Jangan mulai deh Yas" kata Yuda dengan mencoba tidak membuat persepsi yang salah sebelum tahu kebenarannya.
"Jangan buat gue berubah pikiran dan melangkah keluar dari sini" kata Rosa dengan tatapan bingung.
"Ros, niat kita kesini kan mau jenguk ibu mertua lo. Jangan lo urungkan niat lo karena satu hal yang kita gak tahu kebenarannya. Jangan menerka-nerka sesuatu yang takutnya sesuatu yang salah itu malah melekat di pikiran lo. Mama Wina juga kan sebentar lagi sampai sini. Masa lo mau pergi" ucap Yuda pelan dan lembut. Rosa diam dan mengangguk mengerti ucapan Rosa. Emang Yuda gak ada lawan kalo masalah menasehati Rosa deh pokoknya. Lho?
Sampai saat Yuda dan Ayyas membuka pintu masuk ruang rawat ibu Titi. Ibu Titi dan Rizki yang masih dalam kebingungan melempar senyum kepada dua orang yang terlihat. Ayyas dan Yuda berjalan masuk perlahan satu per satu begitu juga dengan Rosa yang mengikutinya paling belakang.
"Assalamualaikum bu" salam Yuda lalu menghampiri dan mencium punggung tangan ibu Titi.
"Waalaikumsa....lam" jawab ibu Titi terputus kala melihat sosok terakhir yang tak lain menantu perempuannya. Rizki pun yang mengucek matanya berkali-kali segera menghampiri Rosa dan berlutut hingga memeluk kaki Rosa.
__ADS_1
Rosa membeku lalu memandang Ayyas, Yuda dan Ibu Titi secara bergantian. Rosa tak mengerti apa yang harus di lakukannya saat ini.
Rizki menangis tanpa berucap sama sekali. Rizki menangis sejadi-jadinya di kaki Rosa. Rosa mencoba mengapai bahu Rizki namun tak mampu karena tertahan dengan perut buncitnya.
"Maaf" ucap Rizki lirih bahkan sangat pelan namun Rosa masih mendengarnya. Rosa memegangi bahu Rizki dan meminta Rizki untuk berdiri tetapi Rizki menggelengkan kepalanya dan tetap menangis sambil memeluk kaki Rosa.
"Yud, kursi. Pegel" kata Rosa menatap Yuda. Rizki yang mendengar kalimat Rosa barusan langsung berdiri dan memeluk tubuh Rosa. Tubuh yang berbeda saat ini. Lebih berisi dengan perut yang buncit.
"Maaf, hisk" ucap Rizki lagi pelan dengan suara paraunya.
"Hm" jawab Rosa dengan anggukan kepalanya. Yuda sudah menyiapkan kursi di sebelah brankar ibu Titi. Ibu Titi ikut menjatuhkan air matanya bisa melihat Rosa lagi kini.
Rizki melepas pelukannya dan menggenggam tangan Rosa sambil menuntun Rosa untuk menghampiri ibu mertuanya. Rosa meraih tangan ibu Titi dan mencium punggung tangannya. Ibu Titi tersenyum bahagia dengan mata yang masih basah.
"Ibu gimana kabarnya?" tanya Rosa setelah duduk di kursi. Menyandarkan tubuhnya dan memperlihatkan bagian perut yang bulat.
"Ibu baik. Alhamdulillah ibu baik sayang. Kamu sendiri gimana?" tanya ibu Titi balik yang kini satu tangan ibu Titi menggenggam tangan Rosa. Rosa tersenyum manis memandangi wajah ibu mertuanya yang setelah berapa bulan tak di lihatnya.
"Rosa alhamdulillah baik bu. Baik-baik aja" jawab Rosa dan ibu Titi memandangi perut Rosa lalu menjatuhkan air matanya lagi. Ibu Titi memikirkan Rosa bagaimana sejak awal kehamilannya. Ibu Titi masih menerka-nerka bagaimana kondisi menantu perempuannya ini saat tak ada suami atau keluarga yang menemaninya. Hingga perasaan sesak pun terasa di dalam dadanya.
"Rosa baik-baik saja bu. Insyaallah calon cucu ibu juga baik-baik saja. Mereka sehat, mereka tumbuh baik dan mereka bisa di ajak bekerja sama selama masa kehamilan Rosa. Ibu gak perlu khawatir. Ibu cepet sembuh yah supaya nanti bisa nemenin Rosa saat melahirkan mereka" kata Rosa seperti sudah mengetahui mengapa air mata ibu mertuanya terus mengalir.
"Mereka?" tanya ibu Titi dan Rizki bersamaan.
__ADS_1