
"Kamu kenapa harus bersikap kayak gini?" tanya Rosa tak habis pikir dan masih tak mengerti maksud Hari.
"Sudahlah. Aku sudah memilih hidupku sendiri. Begitu juga kamu yang sudah memilih hidup kamu sendiri bukan? Tolong jangan ganggu hidup aku yah" kata Rosa lagi dengan pelan. Hari menggelengkan kepalanya tak terima.
"Tapi dia menikahi kamu karena taruhan sama aku Ros. Dan aku gak terima itu" jelas Hari yang tak menerima kekalahannya. Rosa membulatkan matanya tak percaya tapi dirinya menoleh kepada Rizki yang masih menatap Hari sinis juga tangannya yang menggenggam Rosa erat malah semakin erat.
"Kamu jangan asal bicara Har. Alasan kamu apa bicara seperti itu?" tanya Rosa heran.
"Ck. Rosa aku serius. Rizki menikahi kamu karena dia menerima taruhan denganku. Yang mana jika aku kalah dalam taruhan ini, aku akan menyerahkan 3% saham dari perusahaan yang aku pimpin" jawab Hari mengatakan kebenarannya. Rosa merasa tak percaya namun tatapan yang terlihat marah dari mata Rizki seolah membuktikan jika yang di katakan Hari itu memang benar.
"Rizki tahu jika aku menginginkan kamu. Karena aku tahu kalo kamu menjaga hati kamu semenjak putusnya hubungan kita dulu. Bahkan kamu gak pernah dekat dengan siapa pun. Dan sekarang kamu pun sangat berbeda dengan kamu yang dulu. Aku menginginkan kamu Ros. Aku yang menginginkan kamu menjadi istri aku, menjadi pendamping hiduo aku tapi Rizki gak mau itu terjadi" jelas Hari mengungkapkan kebenarannya.
"Aku tahu aku salah. Aku salah saat itu yang menilai kamu dari kecantikan kamu padahal kamu memiliki kencantikan yang tersembunyi. Aku minta maaf akan kejadian dulu, aku minta maaf. Aku salah Ros. Dan Rizki gak terima itu. Rizki gak terima jika aku mendekati kamu lagi dan berencana membangun hubungan serius dengan kamu. Hingga akhirnya Rizki dan aku taruhan untuk bisa bersanding dengan kamu. Bahkan aku akan memberikan saham perusahaanku jika Rizki berhasil dalam taruhan ini" jelas Hari lagi membuat Rosa seperti tercekik. Ingin tidak percaya tapi tatapan Hari menunjukan bahwa dirinya serius. Dan memang Rosa mengenal Hari yang serius akan ucapannya.
Rizki tak bergeming, Rizki tetap bungkam dan membiarkan Hari mengatakan yang sebenarnya. Rosa seperti tertusuk ribuan jarum dalam hatinya. Menggeleng kepalanya perlahan namun tangannya masih senantiasa di genggaman Rizki.
"Kamu tanya suami kamu kalo kamu gak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Setidaknya kamu tahu keseriusan aku jika aku berucap. Aku yakin kamu pun mengenal sifat aku kayak gimana Ros"
__ADS_1
Rosa menunggu Rizki membantah ucapan Hari tapi Rizki tak kunjung membatahnya dan membiarkan Hari mengatakan semua kebebaran itu. Dan disitulah Rosa yakin jika Hari tak berbohong.
"Ck" decih Rosa dengan senyum yang sulit di artikan. Dengan menarik nafas dan menstabilkan emosinya, Rosa menatap Hari dengan penuh keseriusan.
"Jika memang karena taruhan kenapa? It's oke gak apa-apa karena yang di lakukan Rizki benar. Dia gak mau aku jatuh di kesalahan yang sama. Dia mau melindungi aku dari kamu. Dia mau aku gak terluka dan menangisi laki-laki seperti kamu" kata Rosa mencoba mengumpulkan keberaniannya. Sejujurnya Rosa shock dengan kebenaran ini meski belum ada bukti yang menguatkan.
"Rosa cukup kamu bodoh karena aku. Jangan lagi kamu bodoh karena yang lain. Aku gak mau kamu terluka. Kamu ngerti gak sih?" tanya Hari yang terus meyakinkan Rosa.
"Iya aku memang bodoh. Terima kasih yang pintar karena sudah memberitahu yang bodoh ini" ucap Rosa yang sungguh membuat Rizki tak percaya. Apa Rosa sedang membelanya? Atau Rosa menerima ini? Atau apa? Tanya Rizki dalam hatinya.
"Rosa gak gitu maksud aku. Please Ros. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku gak mau terluka. Aku akan memperbaiki semuanya Ros" bujuk Hari lagi.
"Sayang maaf" kata Rizki yang akhirnya bersuara. Rosa hanya mengangguk dan melemparkan senyum.
"Apa kamu gak bisa kasih aku kesempatan Ros?" lirih Hari menahan air matanya.
"Maaf. Aku sudah menikah dan sudah pasti tidak ada kesempatan lagi untuk kamu" sahur Rosa dengan lembut meski sebenarnya hati merasa sakit. Luruh air mata Hari saat itu juga. Hari menggigit bibir bawahnya yang bergetar, mungkin ini yang Rosa rasakan dulu. Atau mungkin rasa sakitnya lebih dari ini. Hari menundukan kepalanya sebentar lalu menatap Rosa dan Rizki secara bergantian.
__ADS_1
"Oke baik. Maaf Rosa, maaf telah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu dan aku akan mengurus tentang saham yang akan aku berikan kepada Rizki atas taruhan ini. Terima kasih Rosa sudah mengajarkan aku arti dari perasaan ini dan buat lo Rizki selamat atas kemenangan lo. Dan inget kalo sampe lo bikin Rosa kecewa, bikin Rosa nangis, gue akan pastiin akan merebut Rosa kembali. Apa pun caranya" tegas Hari menatap sengit Rizki lalu menundukan kepalanya dan berlalu meninggalkan Rosa dan Rizki.
Setelah kepergian Hari, perlahan Rosa melepas genggaman tangannya kepada Rizki dan merubah raut wajahnya menjadi datar. Rizki paham jika Rosa kecewa, Rizki menyadari jika dirinya salah, Rizki juga mengetahui jika Rosa menahan emosinya hingga dirinya lebih memilih diam dan berpura-pura baik-baik saja.
"Sayang" panggil Rizki yang mencoba meraih tangan Rosa. Rosa masih membiarkannya meski sebenarnya Rosa ingin meninggalkan restoran saat itu juga.
Rosa menoleh dan menatap mata Rizki yang penuh dengan penyesalan. Rosa mengukir senyum sebaik mungkin. Rizki merasa perih dengan raut wajah yang kini di tampakan Rosa.
"Maafin aku" ucap Rizki dengan mata merahnya. Rosa hanya mengangguk pelan lalu kembali membuka buku menunya.
"Kamu mau makan apa? Apa mau sama dengan pesananku?" tanya Rosa yang masih membolak-balikan buku menunya.
"Sayang" panggil Rizki lalu meraih kedua tangan Rosa dan mencium punggung tangan Rosa secara bergantian dengan air mata yang tumpah disana. Rosa membiarkan hal itu dengan menahan perasaan sesaknya sebaik mungkin.
Rizki mendongakan kepalanya lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Rosa.
"Maaf, maafin aku sayang. A-aku gak bermaksud menjadikan pernikahan kita sebagai taruhan. Aku sangat mencintai kamu, aku sangat menyayangi kamu, Maaf maafin atas kebodohan aku" kata Rizki dengan memeluk Rosa. Rosa menahan agar matanya tak jauh, Rosa juga mengelus punggung Rizki agar suaminya berhenti menangis di tenoat umum seperti ini.
__ADS_1
***