Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
90.


__ADS_3

"Rosa enggak sendiri. Disini ada ibu ya Ros. Rosa kuat, iya ibu mengerti semua juga demi kebaikan kamu dan anak kamu juga. Boleh ibu peluk kamu?" tanya ibu Ratna dengan membentangkan kedua tangannya. Rosa menganggukan kepalanya dan bu Ratna beranjak dari duduknya menghampiri Rosa dan segera memeluk Rosa dengan lembut.


"Maaf ya bu kalo Rosa menceritakan ini. Sejujurnya Rosa malu tapi benar kata ibu, karena Rosa sedang hamil pasti akan banyak yang bertanya kenapa bisa tinggal sendirian seperti ini. Tapi terlebih dari itu, Rosa gak peduli bu. Rosa tidak akan memikirkan omongan orang yang tidak bermanfaat. Toh mereka kan gak tahu kebenarannya hanya menilai apa yang di lihat saja" kata Rosa yang masih di dalam pelukan ibu Ratna.


"Iya ibu setuju dengan kamu. Pesan ibu, jangan sungkan jika kamu membutuhkan sesuatu ya Ros. Ibu paham sekali yang namanya hamil sendirian karena dulu ibu pernah mengalaminya" sahut ibu Ratna lalu melepaskan pelukannya kepada Rosa.


Rosa menganggukan kepalanya dengan senyum kepada ibu Ratna.


"Yaudah kalo gitu Rosa pamit pulang dulu ya bu. Terima kasih untuk penawaran penitipan kuenya. Insyaallah mulai lusa Rosa akan menitipkan kue-kue buatan Rosa. Dan juga terima kasih karena ibu sudah baik dan menerima Rosa yang bukan siapa-siapa ini"


***


"Ayyas" panggil Rizki ketika mendapati Ayyas yang tak jauh dari hadapannya.


Ayyas memutar bola matanya malas merasa kecewa dengan Rizki. Dan Ayyas juga tak bisa menahan amarahnya jika mengingat masalah yang sedang terjadi.


"Ayyas dimana Rosa?" tanya Rizki langsung sengan nafas yang naik turun karena berlari mengejar Ayyas yang tak mau menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ck. Lo kan suaminya kenapa lo tanya ke gue?" tanya Ayyas balik dengan tatapan datar seolah tak peduli.


"Yas gue mohon kalo lo tau dimana Rosa, tolong kasih tau gue" kata Rizki dengan mengkantupkan kedua tangannya di depan dada dan memohon kepada Ayyas.


"Gue gak tau dimana Rosa. Sekali pun gue tau, gue gak akan kasih tau lo!" tegas Ayyas membuat kening Rizki berkerut.


"Dimana lo sembunyiin Rosa Yas? Rosa istri gue"


"Rosa adek gue kalo lo lupa"


"Gue serius Yas. Rosa dimana? Tolong kasih tahu gue. Gue khawatir sama Rosa dan juga kandungannya Yas. Please!"


"Yas kenapa lo jadi emosi gini sama gue? Apa yang lo tau? Apa yang lo sembunyiin? Apa? Apa ada kaitannya dengan Sani atau Hari?" tanya Rizki dengan serius tapi Ayyas hanya membalas dengan senyuman miring karena tak suka.


"Ck. Udah gue bilang sekalipun gue tahu dimana Rosa, gue gak akan kasih tahu lo. Apa lo lupa janji lo saat nikahin Rosa ke gue? Hm"


"Ayyas semua ini salah paham. Please tolong dengerin gue" pinta Rizki dengan terus memohon tapi Ayyas sangat acuh dan tak ingin mendengarkan sama sekali. Tapi Ayyas pun tak boleh menilai secara sepihak bukan? Terkadang apa yang kita lihat bukanlah suatu kenyataan yang terjadi? Apakah benar?

__ADS_1


"Salah paham dimananya Ki? Gue sama Rosa denger sendiri saat lo bilang akan mempertanggung jawabkan anak yang ada di dalam kandungan mantan pacar lo itu bahkan lo akan menjadi ayahnya? Apa lo waras ngomong kayak gitu di saat istri lo baru dinyatakan hamil? Gue aja yang dengernya sakit bahkan kecewa apa lagi istri lo" kata Ayyas dengan menaikan satu suaranya. Rizki melebarkan matanya dengan tubuh yang terasa lemas. Astagfirullah, katanya menyesal.


"Gue emang bilang kayak gitu tapi setelah kak Indra pergi gue menepisnya Yas. Gak akan gue kembali ke masa lalu gue karena masa depan gue cuma Rosa dan hanya Rosa. Please Yas percaya sama gue. Gue gak mungkin ingkarin janji gue ke lo atau pun Yuda buat jagain Rosa dan bahagiain Rosa Yas" jelas Rizki berusaha meluruskan semuanya tapi Ayyas masih sama karena masih merasa kecewa dengan sikap Rizki itu.


"Gue minta maaf Yas. Gue minta maaf udah buat lo kecewa. Demi Allah Yas, gue gak ada maksud sama sekali dengan perkataan gue saat itu. Gue cuma kasian dengan Sani yang selalu di selalu di salahkan oleh kak Indra. Bahkan saat itu kecelakaan Adel berhubungan dengan Sena kembarannya Sani. Beneran Yas, gue sama sekali enggak ada maksud tertentu bahkan sampai harus kembali dengan Sani" jelas Rizki terus. Ayyas melirik tak suka tapi tetap mendengarkan penjelasan sahabatnya ini.


"Please kasih tau dimana Rosa Yas, gue mohon, hisk" kata Rizki dengan air mata yang membasah di pipinya.


Ayyas jujur merasa kasian, meski kecewa tapi Ayyaa juga tak tega dengan Rizki. Terlihat Rizki yang kacau mencari keberadaan istrinya. Terlebih Rosa pergi disaat dirinya hamil. Jelas ini semakin membuat Rizki semakin merasa khawatir. Bahkan bukan hanya Rizki melainkan dirinya juga.


"Gue gak tau dimana Rosa tapi gue yakin dia baik-baik aja" sahut Ayyas dengan suara yang masih datar.


"Ayyas please gue mohon Yas. Rosa dimana?" tanya Rizki lagi dengan suara bergetar.


"Gue gak tau Ki. Demi Tuhan gue gak tau sama sekali dimana keberadaan Rosa. Rosa gak bisa di lacak karena dia gak bawa ponsel sama identitasnya bahkan atm gue kasih pun enggak digunain. Padahal itu cara gue supaya bisa tau dia ada dimana" kata Ayyas yang suaranya sudah agak sedikit pelan.


"Astagfirullah ya Allah" kata Rizki yang merasa harapannya pupus. Padahal Rizki sudah meminta bantuan detective dan anak buahnya untuk mencari Rosa tapi sampai saat ini belum menemukan hasil sama sekali.

__ADS_1


"Gue rasa Rosa saat ini butuh waktu buat sendiri. Gue yakin dia akan balik saat dia udah merasa baik dan bisa mengendalikan dirinya. Dan lebih baik lo temuin mantan pacar lo dan lo tanyain apa yang udah dia katakan sama Rosa sampe akhirnya Rosa memutuskan untuk pergi. Gue gak bisa bilang apapun karena gue takut salah bicara dalam hal ini" saran Ayyas agar Rizki mencari tahu akar permasalahannya. Rizki mengangguk mengerti, Rizki sama sekali tidak patah semangat untuk mencari keberadaan Rosa meski hasilnya selalu nihil.


"Apa lo tau juga kalo Hari menemui Rosa setelah Sani saat itu?" tanya Rizki ingin tahu dan di anggukan oleh Ayyas. Rizki geram hingga mengepalkan kedua tangannya. Sungguh mantan pacar dirinya dan istrinya sama saja tak jauh beda. Ihkss..


__ADS_2