Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
112.


__ADS_3

Indra terus mengikuti Riana dan Sani tanpa mempedulikan Mika yang terus menangis dalam gendongannya. Fokusnya hanya kepada Sani saat ini.Yuda, Ayyas dan Deby yang melihat itu langsung menghampiri Riana.


Riana melihat ketiga orang di hadapannya dengan bibir gemetar lalu merenggangkan tangannya yang menarik Sani tadi. Yuda dan Ayyas menatap Indra penuh tanya dan tak suka. Begitu Deby yang menatap Sani penuh dengan kebencian.


"Hisk hisk hisk"


"Owwwwaaaaa"


"Bawa anak dan istri kamu ke dokter saat ini. Saya tidak ingin melihatnya. Pergi sebelum saya melakukan lebih dari yang Riana lakukan!!" kata Ayyas dengan sangat tegas dan keras.


Indra hanya menatap tak suka tapi bagaimana pun juga dulu saat Adel di rawat di rumah sakit ini, Ayyas banyak membantu dan memberi tolerasi sehingga membuat Indra merasa berhutang budi.


Indra pun pergi membawa anak dan istrinya. Riana meluruh dan terduduk dengan menangis tersendu-sendu. Deby lalu meraih Riana dan membawa dalam pelukannya. Deby tahu jika Riana sangat menyayangi Rosa, Deby juga mengerti kenapa Riana bisa melakukan hal demikian tanpa memikirkan resikonya jika terjadi apa-apa kepada Sani dan anaknnya.


"Gak apa-apa tapi lain kali jangan seperti ini. Saat ini kita hanya perlu berdoa untuk kesembuhan Rosa dan Rizki. Terlebih Rizki karena dia harus bertanggung jawab atas yang di alami Rosa. Kita akan pakai jalur hukum untuk kejadian ini. Jadi kamu jangan mengotori tangan kamu untuk manusia seperti mereka. Kamu paham kan maksud aku?" kata Deby dengan lembut dan membelai punggung Riana yang menangis terisak.


"Mas Rizki emang bodoh, dimana pikirannya sampai harus melakukan itu di depan istrinya. Aku ikhlas kalau setelah ini kak Rosa memilih berpisah dengan mas Rizki karena memang mas Rizki tidak pantas dan tidak baik disebut sebagai suami, hisk hisk hisk hisk"


"Aku berharap begitu tapi semua keputusan biarlah Rosa dan Rizki yang menentukan. Tenangkan diri kamu saat ini yaa" kata Deby lagi dan di anggukan oleh Riana.

__ADS_1


Riana melepaskan pelukan Deby dan menghapus air matanya dan menatap ketiga orang tersebut secara bergantian.


"Bagaimana keadaan kak Rosa? Aku sangat malu untuk menemuinya karena kebodohan sikap mas Rizki. Apa kak Rosa akan melahirkan?" tanya Riana yang memang sama sekali tidak mengetahui perkembangan Rosa.


Setiba di rumah sakit tadi yang membawa Rosa adalah Alif dan sisanya fokus kepada Rizki yang mengalami luka cukup serius itu. Bahkan Alif setelah mengantar Rosa dan sudah ada Yuda, Ayyas dan Deby langsung pergi karena ada urusan pekerjaan yang sangat mendesak terlebih Rizki kecelakaan yang mana seluruh pekerjaan kantor akan teralih oleh dirinya.


"Rosa sudah melahikan anak-anaknya dengan operasi karena pendarahan yang tak berhenti" jawab Ayyas dengan nada tak suka. Jelas tak suka, sangat tidak suka dengan keluarga Rizki yang hampir sama dengan Rizki yaitu membiarkan Rosa tanpa tahu apa yang di alami Rosa cukup serius.


Riana dengan bibir bergetar menjatuhkan air matanya lagi bahkan dengan tubuhnya yang sudah sangat terasa lemas.


"Ya Allah. Hisk hisk hisk... Lalu sekarang dimana kak Rosa dan anak-anaknya?" tanya Riana lagi yang sangat ingin sekali menemui Rosa dan keponakannya.


"Lalu anak-anaknya kak?"


"Diruang perawatan bayi karena Rosa melahirkan bayi prematur dan belum cukuo waktu melahirkan jadi anak-anak Rosa harus mendapatkan perawatan di ruang perawatan bayi. Dan disana ada mama Wina yang mengurusnya" jawab Deby membuat Riana semakin merasa bersalah. Keluarganya ada disini tapi tak ada satu pun yang mengurus dan membantu Rosa. Sungguh sangat tak berperasaan. Riana menangis tapi sungguh tangisannya tak ada arti sama sekali bahkan tak ada arti sama sekali.


***


Rosa menampikkan senyumnya saat dirinya sudah berada di ruang perawatan. Rosa tersenyum dan memendam perasaannya saat Mama Wina, Yuda, Ayyas, Deby dan Riana berada dalam satu ruangan dengan dirinya. Dengan wajah yang sangat pucat tidak memudarkan aura cantik dari seorang ibu yang baru melahirkan anak-anaknya beberapa jam lalu.

__ADS_1


"Selamat ya anak mama sekarang sudah menjadi ibu" kata mama Wina dengan haru dan memeluk Rosa. Jauh dari haru itu ada luka yang mama Wina sulit ungkapkan atas kesabaran anak semata wayangnya ini. Rosa tersenyum manis dan membalas pelukan mama Wina.


"Terima kasih mah" jawab Rosa sebisa mungkin untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Semoga pemulihan kamu lebih cepat ya sayang" kata mama Wina dan mengurai pelukannya. Lalu bergantian dengan Deby yang mendekat dan memeluk sahabatnya dengan air mata yang sudah sangat deras. Tapi Rosa malah tertawa dalam pelukan sahabatnya itu.


"Cengeng deh. I'm fine okee" kata Rosa dengan mengeratkan pelukan kepada Deby.


"Kamu yang terlalu kuat Ros. Ah sebel banget pokoknya. Berasa lagi senam jantung tahu gak sih kamu. Iiihhhkkkss sebel hisk hisk hisk" sahut Deby yang membuat Rosa semakin ingin tertawa sedangkan yang melihatnya ikut tersenyum atas tawa yang terlihat di raut wajah Rosa. Sungguh Rosa tak menunjukan kekecewaannya sama sekali.


Rosa pun mengurai air matanya lalu menghapus air mata Deby yang masih membasahi pipi sahabatnya itu. Dengan senyum Rosa menatap Deby yang sangat terlihat khawatir akan dirinya. Iya Rosa merasa sangat beruntung saat itu. Meski dunia sedang bercanda dengan dirinya tapi dirinya masih mempunyai keberuntungan lainnya yaitu memiliki sahabat yang gak pernah meninggalkannya.


"Aku baik-baik saja. Jangan nangis lagi yah" pinta Rosa dan di anggukan oleh Deby.


"Selamat sekarang sudah jadi ibu. Cepet sehat yah biar nanti kita bisa main lagi dan mainnya kali ini sama anak-anak kamu. Aku gak sabar" ucap Deby dan kali ini Rosa yang menganggukan kepalanya.


Rosa menatap dua sahabatnya juga dengan adik iparnya yang sangat terlihat tidak bisa menahan air mata sama seperti Deby. Jujur Rosa pun merasa sedikit kecewa karena Rosa ingat saat dirinya merintih kesakitan saat itu hanya Alif yang menolongnya bahkan Alif pula yang mengantarkannya hingga sampai di ruang IGD dan juga Alif yang menyelesaikan administrasinya sampai Ayyas dan Deby datang. Bahkan saat Alif akan pergi meninggalkannya di IGD pun Alif berpamitan dengan berat hati.


Rosa tersenyum kepada Riana yang sudah memandangnya penuh dengan malu. Rosa menganggukan kepalanya lalu merentangkan kedua tangannya. Riana dengan cepat menghampiri Rosa dan memeluk Rosa pelan karena masih ingat dengan luka operasi bekas melahirkan keponakan kembarnya itu.

__ADS_1


"Maaf, maafin Riana kak. Maafin Riana" ucap Riana menyesal dan Rosa diam saat mendengar permintaan maaf Riana.


__ADS_2