
"Gue tetap pantau dari sini. Dan untuk selebihnya ada Bima yang menjalankan. Lo gak perlu mikirin kerjaan gue" kata Yuda dengan santai lalu duduk di kursi sebelah brankar Rosa.
"Iya tapi jangan kesusahan lagi karena gue. Gue terlalu sering ngerepotin lo"
"Ha ha ha gak apa-apa gue seneng di repotin lo biar otak dan pikiran gue gak lurus saja, sekali-kali ada tikungan atau putar baliknya" kata Yuda lagi dengan tawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Yuda tak habis pikir Rosa bisa berkata demikian padahal dalam hatinya Yuda merasa sudah sebagai kewajibannya melindungi perempuan ini. Rosa dan Yuda pun berbincang random, Yuda sengaja agar Rosa bisa melepaskan segenap kecewanya. Yuda bahkan menceritakan hal-hal yang sudah pasti membuat Rosa kembali tertawa lagi. Bagaimana tidak Yuda yang terkenal dingin bisa sereceh itu ketika bersama dengan Rosa. Meski Yuda seorang desainer tapi Yuda tidak seramah itu kepada setiap kliennya. Bahkan Yuda terkenal dengan seorang desainer yang susah senyum namun karyanya tidak bisa diragukan lagi.
Ceklek
Pintu ruang rawat Rosa pun terbuka. Menampakan Ayyas yang juga datang membawakan makanan kesukaan Rosa tentunya. Pokoknya yang di pikiran Ayyas hanya bagaimana bisa membuat Rosanya kembali kuat, untuk selebihnya biar Yuda yang mengurus. Ayyas yakin jika Yuda pasti akan bergerak tanpa harus berunding. Dan sudah Ayyas duga jika saat ini jarangnya Yuda ke rumah sakit karena harus mengusut akar dari permasalahan yang sedang Rosa alami.
Namun ketika Ayyas mendapati Yuda yang tengah duduk santai disana langsung memicingkan matanya dengan melempar tatapan curiga kepada sahabatnya itu. Sedang apa dia disini? Pikir Ayyas dengan melangkah menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Apa lo liat-liat" ketus Yuda merasa tatapan Ayyas mengintimidasi dirinya. Ayyas pun menghiraukan dan masih menatap Yuda dengan ekspresi yang sama saat dirinya muncul di pintu.
"Gue colok nih mata lo" ketus Yuda lagi tak kalah sengit menatap Ayyas yang masih diam tanpa kata.
"Ngapain lo disini?" tanya Ayyas akhirnya dengan mengangkat dagunya angkuh.
"Suka-suka gue donk. Emang lo siapa pake nanya ngapain gue disini? Hah?" tantang Yuda membalas Ayyas.
"Gue? Lo gak tau siapa gue? Apa lo pura-pura lupa? Lo amnesia? Hmm"
"Hmm gak penting juga lo siapa. Ck"
"Gue pemilik rumah sakit ini. Mau apa lo" kata Ayyas semakin sengit.
"Mau gue lo diem. Dateng-dateng malah ngajakin ribut"
__ADS_1
"Lah emang, emang gue lagi ngajakin ribut. Keberatan lo?" tanya Ayyas yang akhirnya mendapat lemparan bantal dari Rosa.
"Ihk kok lo lempar gue pake bantal si Ros" kata Ayyas melembut dengan bibir manyun lima centi.
Yuda menaikan alisnya satu dengan menatap sahabatnya aneh.
"Lo abis lewat kamar jenazah apa abis lewatin ruangan yang pasien menghembuskan nafas terakhirnya? Dateng-dateng bukannya permisi malah nantang begitu" keluh Rosa yang tak berpikir jika Ayyas sedang bercanda.
"Iya gue abis lewat kuburan baru. Puas lo!!" balas Ayyas sambil mengembalikan bantal milik Rosa.
"Pantes" jawab Yuda mengkompori.
"Diem lo" suhut Ayyas memelototi Yuda dan Yuda membalas pelototan mata Ayyas yang sipit.
"Udah Yas udah. Lo lagi dateng bulan apa? Kok sensi begitu?" tanya Rosa dengan nada lembut.
"Nih. Dimakan yaa. Harus banyak makan biar Asi lo makin banyak dan jangan banyak pikiran" kata Ayyas sambil memberikan tentengan yang di bawanya. Rosa menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada Ayyas.
"Deby dirumah. Dia harus banyak istirahat. Puji Tuhan Deby hamil tapi kandungannya sedikit lemah jadi harus bedrest. Dia titip salam buat lo"
"Waah alhamdulillah. Selamat ya Yas. Enggak sabar mau ketemu Deby" ucap Rosa dengan suara manjanya. Yuda mengulas senyum merasa bahagia dengan kabar baik yang baru di dengarnya. Meski dirinya yang masih sendiri tapi tidak sekalipun membuatnya tak bahagia.
"Nanti kalo lo udah keluar dari rumah sakit baru boleh ketemu Deby ya. Sekarang jangan macem-macem. Fokus sama pemulihan lo dulu" kata Ayyas dan dianggukan oleh Rosa.
"Selamat Yas. Alhamdulillah keponakan gue bakalan nambah lagi" kata Yuda tulus dengan mengukir senyum kepada sahabatnya itu.
"Iya makasih Yud. Puji Tuhan banget. Semoga lo segera nyusul yaa"
__ADS_1
"Iya doain ya" balas Yuda asal.
"Iya gue doain. Asal jangan kelamaan nungguin janda orang aja" ujar Ayyas yang langsung mendapat tatapan tajam Yuda dan tatapan bingung Rosa.
***
"Kamu siap ketemu Rosa?" tanya Indra yang merasa ragu. Indra hanya tidak ingin menambah masalah baru. Terlebih ini lebih dari dua minggu sejak kejadian.
Rosa sendiri sudah di bolehkan pulang hanya saja Rosa masih menetap di rumah sakit. Ayyas memberikan satu kamar VVIP milik keluarganya yang di tempati Rosa agar tidak harus bolak balik ke rumah sakit untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.
"Aku harus siap kak. Dari pada tidak sama sekali. Biar bagaimana pun kejadian itu menyebabkan perubahan hidup Rosa. Bahkan sampai saat ini Rizki belum sadarkan diri dan masih di rawat di ruang ICU" jawab Sani dengan yakin.
Indra tertegun, setelah sekian lama seperti menghindar karena tidak mau disalahkan meski semua kejadian diluar kendali tapi tetap saja masa lalu antara Rizki dan Sani yang tidak baik-baik bisa memicu masalah baru nantinya dan itu sangat di khawatirkan Indra.
"Baiklah kita siap-siap sekarang ya sayang" kata Indra dengan mengelus rambut Sani.
"Iya kak"
Setelah semua siap, Sani, Indra dan juga anak mereka Mika segera bergegas ke rumah sakit untuk menemui Rosa. Degup jantung Sani tak menentu. Antara takut dan khawatir menjadi satu. Lah emang Rosa mau ngapain sampe harus begitu San?
Tok tok tok
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu kamar VVIP keluarga Ayyas yang di tempati Rosa. Rosa yang saat itu sedang bersama Ayyas dan Yuda menoleh ke arah suara pintu dan Ayyas segera menghampiri sambil membukakan pintu tersebut.
Raut wajah Ayyas berubah dengan memutar bola matanya malas. Merasa apa lagi sih ini. Kok gak kelar-kelar. Mau apa? Buat apa? Kenapa baru sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja? Astaga. Pikir Ayyas setelah melihat kedua orang yang sangat Ayyas malas sekali temui tetapi malah berani menampakannya saat ini. Menampakan? Lah emang mereka apaan Yas sampe harus bilang menampakan, lho?
__ADS_1
"Hai Yas" sapa Indra lebih dulu dengan senyum tapi Ayyas hanya membalas dengan senyum kecut. Lalu menatap Indra dan Sani secara bergantian. Mengerti dengan tatapan Ayyas, Indra dan Sani salung pandang lalu menganggukan kepalanya.
"Rosanya ada? Bisa aku ketemu dengan Rosa?" tanya Sani dengan memberanikan diri.