
"Aku tau kamu masih ada perasaan sama aku. Jadi apa salahnya kalo sekarang aku minta kamu nikahin aku?" kata Sani dengan lancarnya menatap Rizki penuh keseriusan. Bahkan sampai matanya berkaca-kaca meminta Rizki untuk menikahinya.
Rizki tak menjawab dan hanya membalas tatapan Sani penuh sesal. Rizki merasa muak dengan sikap Sani yang sedemikian ini. Kenapa dari sekian tahun dirinya menampakan lagi dan meminta untuk dinikahi? Why? Ada apa dengan Sani? Bahkan pertemuan terakhir beberapa minggu lalu, Sani masih dengan angkuhnya terhadap Rizki namun mengapa hari ini seolah dirinya menjatuhkan harga diri yang ia punya?
"Rizki aku mohon nikahi aku" pinta Sani lebih memohon lagi.
"A-aku hamil" katanya lagi dengan air mata mengalir dan menundukan kepalanya.
Rosa membulatkan matanya mendengar hal yang tak pernah ada dalam bayangannya. Hamil? Hah?
"Aku hamil. Aku hamil anaknya Indra. Kakak sepupu kamu" jelas Sani membuat Rosa bernafas lega. Iya Rosa kira Sani hamil anaknya Rizki. Untung di dengarkan dulu Ros, coba kalo main labrak. Bisa malu sendiri lho nanti.
"Kamu hamil anaknya Indra? Kenapa kamu minta aku menikahi kamu? Indra ayahnya lah yang harus menikahi kamu dan bertanggung jawab kepada kalian berdua. Bukan aku" terang Rizki tentu semakin membuat Rosa lega. Lega karena Rizki berani menolak permintaan Sani.
"Di-dia gak mau tanggung jawab anak ini. Dia bilang anak ini bukan anaknya. Tapi aku bersumpah bahwa aku gak pernah tidur dengan laki-laki lain selain dia Rizki. Selain dia. Hisk hisk hisk" Sani semakin mengalirkan air matanya meluapkan amarah yang berkecambuh di hatinya. Sesak? Sangat karena harus menghadapi ini sendiri. Terlebih keluarganya cukup terpandang jadi jika ketahuan hal demikian maka jangan di tanyakan bagaimana nasib dirinya kedepan.
"Gak bisa. Aku gak bisa nikahin kamu" jawab Rizki menolak Sani.
Krek
Suara pintu terdorong dan muncullah Rosa di baliknya dengan senyum lebar kepada Rizki. Mata Rizki pun berbinar bahkan melunak setelah mendapati sang istri di hadapannya.
"Rosa" panggil Sani pelan tak menyangka bisa bertemu sahabat Rizki yang dulu selalu menjadi prioritas.
__ADS_1
Rosa melangkahkan kakinya begitu juga dengan Rizki segera menghampiri Rosa. Semakin dekat membuat Rizki tersenyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya. Aduh manisnya Ki.
Rizki pun langsung memeluk Rosa begitu saja. Bahkan sampai mengeratkan pelukannya begitu dalam dan menghirup dalam-dalam harum tubuh yang di keluarkan Rosa.
Sani diam namun berpikir kenapa mereka bisa seintim itu? Padahal kan mereka hanya sahabat. Wah Sani gak tau yah kalau mereka sudah menikah? Berarti gak di undang ho ho jelas enggak tau tapi gak apa-apa ya San.
"Rosa" panggil Sani lebih keras sedikit suaranya hingga terdengar oleh Rosa dan Rizki. Rosa meminta Rizki mengurai pelukannya namun bukannya di urai malah semakin di eratkan oleh Rizki.
"Aku kangen" bisik Rizki dengan suara manja.
"Ada orang lain disini. Enggak baik" ucap Rosa sangat lembut membuat Rizki segera mengurai pelukannya meski bibirnya sudah mengkrucut.
"Rosa" panggil Sani lagi.
Sani menghampiri Rosa yang bersebelahan dengan Rizki. Sani menggenggam tangan Rosa erat dengan sorot mata meminta pertolongan kepadanya.
"Kamu ngapain disini malem-malem?" tanya Rosa basa basi.
"Rosa tolong aku Ros" ucap Sani langsung pada intinya. Karena masih dalam ingatan Sani jika Rizki memang sangat luluh dengan Rosa bahkan tak jarang Rizki selalu menuruti maunya Rosa.
"H-hah?" tanya Rosa dengan perasaan tak enak. Seperti ada maksud yang menuntut terlebih Rosa sudah mendengar permintaan Sani sebelumnya.
"Tolong bujuk Rizki buat nikahin aku Ros. Tolong Ros. Cuma kamu orang yang akan di dengar Rizki. Aku mohon Ros. Tolong bujuk Rizki yah. Tolong bujuk Rizki buat nikahin aku. Hisk hisk hisk" kata Sani penuh memohon dengan air mata yang deras.
__ADS_1
Rosa sendiri melempar pandang dan menatap mata suaminya yang menatap dirinya tak suka. Rosa juga menatap Sani lagi seolah sedang memindai perempuan yang dulu pernah membuat Rizki sakit hati.
"Gak, aku gak bisa bantu. Maaf ya San" ucap Rosa lembut lalu menatap Rizki lagi yang mana Rizki menatapnya dengan senyum dan tangan Rizki sudah meraih pinggang Rosa dari samping membuat jarak di antara keduanya terkikis.
"Kenapa? Kenapa gak bisa Ros? Rosa aku hamil, aku hamil Ros. Dan yang menghamili aku itu kakak sepupunya Rizki. Lagi pula aku yakin kalau Rizki masih memiliki perasaan sama aku terlebih dari hal dulu. Aku yakin Rizki udah maafin aku dan mau memulai semua dari awal" kata Sani tak menyerah membujuk Rosa agar membantunya.
"Rizki memang sudah memaafkan kamu San. Tapi belum tentu Rizki mau kembali lagi dengan kamu" sahut Rosa benar adanya.
"Kok kamu ngomong gitu Ros? Harusnya kamu bujuk Rizki supaya mau nikahin aku bukan malah berkata kayak gitu" seru Sani yang tak terima.
"Coba kamu tanya Rizkinya. Apa dia mau kembali lagi sama kamu?"
Sani beralih menatap Rizki saat ini, tak peduli dengan Rizki yang masih memeluk Rosa dari samping. Meski Sani merasa tidak suka tapi dirinya membuang ego saat itu.
"Ki kamu mau kan nerima aku kembali?. Kamu mau kan memulai semuanya dari awal? Kamu mau kan Ki?" tanya Sani dengan pipi basah dan penuh pengharapan.
Rizki menggelengkan kepalanya cepat dengan satu tangan menggenggam tangan Rosa. Melihat hal demikian Sani pun semakin menggenggam tangan Rosa yang satunya.
"Kenapa? Apa perasaan kamu udah berubah? Apa udah gak ada aku lagi di hati kamu? Tapi kenapa? Kenapa? Hisk hisk hisk" tanya Sani semakin histeris.
Jujur sebenarnya Rizki tidak tega melihat perempuan sampai menangis seperti ini di hadapannya. Rizki jadi mengingat kakak, adik perempuannya juga Rosa yang berada di sampingnya. Tapi Rizki tetap pada pendiriannya. Bagaimana juga Rizki sudah menikahi Rosa dan sangat mencintai istrinya ini.
"Kamu yang buat aku berubah. Kamu lupa? Sudahlah. Aku gak bisa menikahi kamu karena aku sendiri sudah menikah. Aku sudah menikah dengan perempuan yang jelas menerima aku apa adanya. Perempuan yang selalu bersama aku meski aku gak punya apa-apa" jelas Rizki pelan namun penuh penekanan. Rasanya sakit jika harus mengingat dulu saat Sani meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"A-apa? Kamu sudah menikah?" tanya Sani cukup terkejut dengan mata yang membulat tak percaya.