
Rosa menangis di dalam pelukan mama Wina. Begitu juga dengan mama Wina yang menangis memeluk anak semata wayangnya. Mama Wina merasa sakit hati sekali setelah mengetahui apa yang barusan di dengar dan di lihatnya. Meski bukan pernyataan dari menantunya langsung. Dan belum membenarkan apa semua itu benar pada nyatanya atau tidak.
Saat mama Wina dan Rosa sedang menangis berpelukan tiba-tiba ada seseorang masuk dalam ruang rawat inap Rosa. Mendengar suara tangis seseorang tersebut langsung menghampiri arah suara dan mendapati Rosa berpelukan dengan mamanya tapi keduanya dalam kondisi menangis.
"Rosa, mama Wina" panggilnya lalu menghampiri. Rosa sendiri masih dalam posisi nyaman di pelukan mama Wina yang mengelus rambut anaknya. Diam-diam mencoba memberikan ketenangan untuk Rosa.
Mama Wina melepaskan pelukannya dan merangkul Rosa untuk keluar dari dalam kamar mandi dan kembali ke brankarnya. Tapi Rosa masih memeluk mama Wina meski dari samping tubuh.
"Kamu gak sendiri. Ada mama disini, ada mama di samping kamu. Cerita sama mama apa yang terjadi. Jangan kamu pendam sendiri. Melihat kamu seperti ini mama merasa jadi orang tua yang gagal. Gagal melindungi anaknya. Dan sepertinya mama pun terlibat dalam hal ini yang mana mama membiarkan kamu bersama dia. Maafin mama yang memaksa kehendak untuk meminta kamu segera menikah tapi nyatanya pernikahan kamu membuat kamu sangat terluka. Maafin mama sayang. Maafin mama" kata mama Wina yang tak kuasa menyesal.
Rosa menggelengkan kepalanya lalu mengurai pelukan mama Wina. Rosa menghapus cepat air mata yang turun dari matanya dan mencoba memaksakan senyuman di bibir merahnya.
"Kok mama minta maaf? Mama gak salah. Jangan salahin diri mama yah. Mungkin ini udah jalannya mah"
"Apa yang di katakan perempuan hamil itu benar? Lalu yang di katakan Hari itu juga benar? Ros mama gak bisa bayangin kalo semua itu benar. Kenapa rumah tangga yang baru seumur jagung ini seperti ini?" tanya mama Wina dengan isak tangisnya.
Rosa diam sejenak karena mulutnya masih terasa terkunci untuk mengatakannya. Ayyas mengerutkan keningnya merasa cukup terkejut saat mama Wina mengatakan perempan hamil yang Ayyas sangka itu adalah Sani. Lalu Hari? Mengapa Hari menemui Rosa? Apa ada sesuatu juga yang terjadi yang Ayyas tak mengetahui ini?
__ADS_1
"Hari kesini ngapain Ros?" kini Ayyas bertanya dengan serius. Rosa menatap Ayyas dengan bibirnya melengkung kebawah. Sudah di pastikan jika Rosa tak bisa berbohong kepada Ayyas. Rosa lalu menoleh ke atas nakas hingga mata mama Wina dan Ayyas tertuju pada tatapan Rosa.
"Hari bawa itu" kata Rosa dengan nada pelan.
"Laper Yas. Mau makan itu" kata Rosa lagi dengan nada manjanya. Ayyas menjauh dan mengambilkan apa yang di bawakan Hari dan yang di inginkan Rosa.
Rosa dengan cepat menyunggingkan senyumnya lalu menatap kedua orang tersayangnya secara bergantian. Rosa mulai memakan bubur kesukaannya dengan semangat. Bahkan Ayyas sampai di buat tak percaya dengan tingkah sahabatnya ini.
Begitu juga dengan mama Wina yang tadinya sedih kini tak lagi karena melihat anaknya makan dengan lahap.
"Alhamdulillah" ucap Rosa setelah selesai memakan bubur ayam bawaan Hari.
"Ngasih bubur ini" jawab Rosa sambil membereskan bekas makannya dan di lanjut oleh mama Wina.
"Gak mungkin cuma kasih bubur aja pasti ada maksud lain kan?" tarkas Ayyas membatah.
"Hari mendengar apa yang Sani katakan sama gue tadi. Dan dia meminta gue buat ninggalin Rizki juga untuk menikah dengan dia"
__ADS_1
"Hah? Sani berkata apa sampai Hari bisa meminta lo kayak gitu? Apa jangan-jangan ada hubungannya sama perkataan Rizki yang kita denger waktu itu?" tanya Ayyas serius sambil mengingat. Rosa menganggukan kepalanya dan mama Wina menyimak.
"Apa yang di bilang ke lo? Kenapa mama Wina bisa sampe nangis kayak gitu begitu juga lo?"
"Sani minta gue menerima hubungan mereka. Sani mau jadi yang kedua dan meminta gue untuk menjalani hubungan bertiga. Sani juga bilang kalau dia dan Rizki saling mencintai dan gue jangan menjadi penghalang diantara mereka. Terlebih saat ini Rizki menikahi gue yang tak lain dulu gue sahabat Rizki. Dan mungkin menurut Sani mengapa Rizki masih bersama gue, karena Sani rasa Rizki gak enak harus berpisah dengan gue. Dan semua yang di katakan Sani di dengar oleh Hari. Makanya Hari meminta gue juga hal yang sama" jelas Rosa yang mood nya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Lalu apa yang Hari katakan tadi benar sayang? Apa benar pernikahan kamu dengan Rizki awalnya sebuah taruhan?" tanya mama Wina yang jelas Ayyas langsung melebarkan matanya.
"Taruhan? Rizki dan Hari mah? Rosa Malinka lo harus jelasin ini sama gue" kata Ayyas dengan tatapan tajam karena menahal kecewa semakin dalam kepada Rizki. Rosa menghembuskan nafasnya pelan karena rasanya memang harus jujur kepada Ayyas dan mama Wina terlebih agar tak menjadi sesak dalam dadanya sendiri.
"Iya. Rizki dan Hari taruhan. Siapa yang bisa menikah dengan gue. Lebih tepatnya jika Rizki berhasil menikah dengan gue, Hari akan memberikan saham perusahaannya 3% kepada Rizki" jawab Rosa jujur lalu menundukan kepalanya.
"Br*ngsek" umpat Ayyas dengan memukul tangannya ke udara sedangkan mama Wina menutup mulutnya saking tak percaya.
"Apa kamu serius dengan ini Ros? Udah kamu cari tahu kebenarannya?" tanya mama Wina setelahnya. Rosa membalas senyum lalu menggenggam tangan mama Wina.
"Rosa mendengar semua itu dari Rizki dan Hari langsung mah. Memang awalnya ada seperti itu tapi Rosa juga yakin jika Rizki juga sebenarnya mencintai Rosa. Tapi semakin hari semakin kesini, Rosa merasa bodoh dan tak bisa membedakan apa Rizki benar-benar mencintai Rosa atau tidak. Terlebih Rosa juga tak sengaja mendengar jika Rizki akan mempertanggung jawabkan anak yang di kandung Sani dan mau menjadi ayah dari anak itu. Rosa sendiri belum memastikan kepada Rizki langsung mah. Tapi tadi Sani sendiri mengatakan demikian. Jujur Rosa enggak ngerti saat ini harus berbuat apa, harus bagaimana. Hati Rosa sakit" kata Rosa mengungkapkan isi hatinya dengan lirih dan pelan. Ayyas semakin geram, Ayyas marah, Ayyas kecewa dan rasanya ingin sekali Ayyas melampiaskan amarahnya kepada orang yang bersangkutan.
__ADS_1
"Rizki jadiin taruhan pernikahan kalian? Sama Hari? Kenapa bisa gitu Ros? Apa alasan Rizki sampai harus nerima taruhan itu? Apa karena saham yang di janjikan Hari? Atau apa? Sumpah gue gak habis pikir dengan apa yang di pikirkan Rizki" keluh Ayyas dengan hati yang hancur.