
Riana mengutarakan permintaan maaf dirinya dan juga keluarganya. Riana menyesali atas apa yanh telah terjadi dalam waktu yang begitu cepat bahkan di luar dugaan semuanya. Riana menceritakan kejadiannya yang membuat Ayyas maupun Yuda sedikit ada kejanggalan. Seperti kecelakaan yang sudah di rencanakan namun salah sasaran. Iya tepat kurang lebihnya seperti itu.
Dalam pandangan mata antara Yuda dan Ayyas mengerti sehingga memutuskan untuk mencari pelaku atas kecelakaan ini.
"Nak Riana sudah tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Mama rasa Rosa pun mengerti dengan sikap kalian yang demikian tapi kalo boleh jujur mama kecewa karena kalian mengabaikan Rosa dan cucu-cucu mama. Sekarang mama cuma minta doanya saja dari kamu dan dari kalian semua untuk kesembuhan Rizki, pemulihan Rosa dan juga perawatan si kembar semoga berjalan lancar dan kita dapat berkumpul lagi nantinya" kata mama Wina dengan rendah hatinya.
Riana menganggukan kepalanya dengan sedikit tenang dan sudah tak menangis lagi seperti sebelumnya. Bebannya sudah di lepaskan kala menjambak, menampar dan menyeret Sani juga saat dirinya sudah menceritakan serta meminta maaf.
Rosa mengangguk senyum dan setuju dengan apa yang dikatakan mama Wina. Dalam hatinya berkata memang hanya mama Wina yang seperti cenayang, pasti selalu tahu apa yang Rosa rasakan.
"Mah apa Rosa boleh lihat anak-anak Rosa?" tanya Rosa yang sejujurnya sangat ingin sekali melihat anaknya namun paska melahirkan Rosa sedang berusaha berdamai dengan perasaannya agar tidak terlampiaskan ke anak-anaknya.
"Kita tanyakan ke dokter yang menangani kamu dulu ya sayang. Kamu kan habis operasi. Mama hanya takut nanti akan berdampak tidak baik dengan luka sayatan di perut kamu" kata mama Wina dengan lembut. Rosa hanya mengangguk pelan. Toh jika dirinya memaksakan pun dirinya tak bisa menyentuh anak-anaknya karena anak-anaknya berada di dalam inkubator.
"Ri apa mas Rizki baik-baik saja?" tanya Rosa pada Riana dan membuat Riana membendungkan air matanya lagi. Rosa menaikan alisnya lalu menunggu jawaban adik iparnya.
__ADS_1
"Mas Rizki koma kak" jawab Riana bersamaan dengan air mata yang jatuh. Rosa berasa sedang bermain roller coaster. Ingin rasanya segera menyudahi permainan ini.
"Mah apa anak-anak sudah di azani?" tanya Rosa kepada mama Wina dan menatapnya dengan hati yang berdebar. Raut wajah Rosa semakin memucat dan semakin bingung bahkan saat Riana berkata jika Rizki koma, Rosa pun rasanya sudah tak tahu harus menyembunyikan perasaan yang bercampur aduk ini bagaimana lagi.
Mama Wina menggeleng pelan lalu menatap seseorang di dalam ruang itu. Rosa mengikuti tatapan mama Wina yang berhenti di Yuda. Iya kali ini hanya Yuda laki-laki satu keyakinan dengan Rosa.
Mata Rosa bertemu dengan mata Yuda. Yuda sangat melihat kesedihan mendalam dari mata Rosa. Sama seperti dulu Yuda bertemu Rosa saat dulu. Tapi lagi dan lagi Rosa berhasil meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
Yuda menganggukan kepalanya dengan senyum manis khasnya. Rosa membalas senyuman sambil berkata terima kasih namun tanpa ada suara. Hanya gerakan bibir saja tapi bisa di pahami oleh semuanya. Yuda beranjak dan meninggalkan ruang rawat Rosa menuju ruang perawatan bayi agar segera mengazani anak-anak Rosa. Entah hatinya bergetar merasakan sesak namun juga bahagia karena bisa ada disaat perempuan yang di cintainya membutuhkan dirinya.
***
"Maafin ibu Ros. Ibu minta maaf atas semua yang terjadi saat ini" kata ibu Titi yang tiba-tiba ada di samping Rosa saat Rosa sedang melihat anak-anaknya. Meski pembatas kaca yang menghalangi Rosa dan kedua anaknya namun wajah kedua anaknya sangat terlihat jelas.
Rosa tersenyum kecil tanpa menoleh kepada ibu mertuanya. Hatinya sangat sakit saat mengingat kejadian dimana semua tak membantunya sama sekali padahal dirinya juga dalam kondisi bahaya saat itu. Memang Rizki suaminya dan anak dari ibu mertuanya tapi apakah dirinya harus di abaikan begitu saja? Tanya Rosa dalam hati tapi Rosa menghela nafasnya panjang dengan memejamkan mata. Rasanya buat apa berperang dengan perasaan yang menyakitkan ini jika akhirnya dirinya akan tetap merasakan kecewa? Baiklah Rosa belajar lagi dalam berdamai lagi dengan keadaan yang sedang bercanda ini.
__ADS_1
"Rosa sudah memaafkan bu" jawab Rosa dengan mata yang masih menatap anak-anaknya. Sejujurnya Rosa pun masih menyesali karena anak-anaknya harus lahir bukan pada waktu seharusnya bahkan anak-anaknya harus melakukan perawatan yang cukup agar bisa segera berkumpul kepada Rosa.
"Ibu panik sehingga ibu melupakan kamu padahal saat itu kamu pasti sangat kesakitan. Maafkan ibu ya nak" ucap ibu Titi lagi yang kali ini dengan meneteskan air matanya.
Rosa tahu jika ibu mertuanya sangat menyayangi dirinya juga Rosa tahu bahkan ingat betul bagaimana ibu mertuanya dulu memperlakukan dirinya dengan sangta baik dan Rosa mempertimbangkan itu untuk bisa memaafkan.
"Gak perlu di bahas lagi bu. Saat ini Rosa akan berfokus dengan pemulihan Rosa dan anak-anak Rosa" sahut Rosa membuat dada ibu Titi berdenyut nyeri. Iya bu Titi memikirkan keadaan Rizki yang tak kunjung ada perubahan sama sekali justru malah terlihat sedikit menurun. Apa karena Rosa belum menemuinya selama di ICU?
"Ros, Rizki pasti punya alasan kenapa Rizki bisa bersikap demikian. Bukan, bukan semata-mata karena kemanusiaan. Ibu yakin itu"
"Iya Rosa tahu bu. Rosa percaya jika mas Rizki punya alasan sendiri kenapa melakukan itu. Terlepas dari sikap kemanusiaan, kepedulian atau bahkan lebih dari itu, rasanya Rosa sudah tak ingin mengetahuinya bu. Biarlah. Rosa hanya akan fokus kepada diri Rosa dan anak-anak Rosa" jelas Rosa debgan seuntai senyum lalu menoleh dan menatap ibu mertuanya.
Ibu Titi tak kuasa dengan ada yang baru di dengarnya. Apa Rosa sangat kecewa? Apa Rosa sangat marah? Kenapa harus disaat Rizki koma dan tidak bisa menjelaskan apapun? pikir ibu Titi.
"Apa kamu marah sayang?" tanya ibu Titi dengan harap-harap cemas bahkan air mata bu Titi sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Aku gak marah bu, aku hanya kecewa. Tapi ibu tenang saja. Aku kecewa hanya pada diriku sendiri kok. Nanti jika aku sudah meredamkan perasaan kecewa ku, insyaallah aku akan menemui mas Rizki"
***