
Malam pun tiba, dering ponsel Yuda membuatnya terfokus dengan nama seseorang yang menghubunginya. Yuda mematikan laptopnya lalu keluar dari ruang rawat Rosa. Menutup pintu dengan pelan dan berjalan menjauh dari lorong rumah sakit.
'Halo' kata Yuda dengan menajamkan pendengarannya.
'Halo bang. Gue sudah cari semua yang lo minta. Pelaku sudah gue amanin di tempat yang lo suruh' jawab Alan membuat Yuda menganggukan kepalanya. Yuda mencari pelaku yang mencelakai Rizki. Bukan karena Rizki tapi karena Rosa. Karena kecelakaan itu membuat Rosa dan anak-anaknya dalam bahaya.
'Oke. Saya akan kesana satu jam lagi' kata Yuda lalu memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas kembali ke ruang rawat Rosa.
Rosa yang sudah terlihat terlelap membuat Yuda enggan untuk membangunkan tidurnya. Yuda paham jika Rosa baru bisa terlelap setelah beberapa hari pikirannya berperang yang entah tak tahu jawabannya. Yuda membangunkan mama Wina lalu berpamitan dan akan kembali jika urusannya sudah selesai.
***
Yuda mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasanya sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa dalang dari kecelakaan berencana ini. Bahkan yang membuat Yuda geram jika keluarga Rizki tidak mengusut atas kejadiaan ini dan menerima jika kecelakaan ini murni kecelakaan tabrak lari biasa.
Kreeeeetttt
Bunyi pintu saat Yuda membukanya dengan kasar setelah sampai ditempat tujuannya. Tujuan Yuda ada pada ruang bawah tanah dalam gedung yang ia singgahi saat ini.
"Akhirnya lo dateng juga bang" sapa Alan saat melihat Yuda semakin mendekat kepada dirinya.
"Siapa orang itu? Apa ada orang lain yang menyuruhnya?" tanya Yuda langsung dengan terus melangkahkan kaki.
"Dia Edi Permana. Iya ada dalang dari ini semua tapi dia menutup mulutnya meski gue udah hajar abis-abisan buat dia buka mulut. Tapi apa ada orang yang lo curigain bang? Soalnya lo bilang targetnya kan bukan Rizki dan itu artinya salah sasaran"
__ADS_1
"Betul orang itu salah sasaran. Targetnya istri kak Indra, Sani. Dan orang yang saya curigai itu mantan pacarnya kak Indra" jelas Yuda sangat masuk akal dan Alan hanya menganggukan kepala seolah setuju dengan yang di curigai Yuda.
Sesampainya di dalam ruang yang hampir penuh dengan debu, terbaring Edi dengan tubuh yang lebam dan berlumuran darah akibat pukulan demi pukulan yang Alan berikan sebelumnya. Yuda memindai wajah yang memang belum pernah ia lihat sama sekali di tambah wajah yang tak terlihat wujud aslinya.
"Dia masih belum sadarkan diri bang" kata Alan yang akhirnya menghampiri Edi. Alan berjongkok dan menepuk-nepuk wajah Edi. Edi yang merasa sakit di wajahnya kembali terasa berangsur meringis dan mencoba membuka kedua matanya pelan. Terlihat baginya juga wajah asing yang baru pertama kali di lihatnya.
"Ssshhhhhhh" desah Edi saat merasakan sakit dari seluruh tubuhnya.
"Siapa yang sudah menyuruh kamu untuk mencelakai Sani?" tanya Yuda langsung dengan suara dingin dan tatapan datar.
Edi memutar bola matanya malas dan memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Yuda sambil mencoba menetralkan rasa sakitnya.
"Jawab!! Siapa yang sudah nyuruh lo??" tanya Alan dengan mencengram kedua pipi Edi yang memperlihatkan rasa sakit dari tatapan Edi tapi Edi tetap memilih diam.
Yuda sangat tidak suka jika ada seseorang atau siapapun yang mengusik keluarganya atau orang yang di sayanginya. Yuda akan melakukan apapun itu tetapi yang di lakukan Yuda sangat rapih sehingga tidak ada satu orang pun yang mengetahui semua ini termasuk ketiga sahabatnya itu.
Sejujurnya Yuda enggan melakukan ini tetapi Yuda merasa sakit atas kesakitan dan kekecewaan yang dirasakan Rosa, seseorang yang sangat di cintai Yuda.
Edi melebarkan kedua matanya sambil memikirkan apa yang dikatakan Yuda barusan. Edi sangat menyayangi ibunya bahkan sampai melakukan pekerjaan seperti ini agar bisa membayar pengobatan ibunya. Lalu bagaimana dirinya jika Yuda berbuat sesuatu kepada ibunya dan membalas perbuatan yang di lakukan Edi kepada ibunya? Edi tak bisa membayangkan itu.
"Baiklah. Sepertinya dia sangat setia Lan. Biarkan dia disini dengan luka yang tak di obati. Dan ada tugas baru untuk kamu"
"Siap bang. Apa tugas baru gue?"
__ADS_1
"Cukup main bersih. Kamu datangi rumah dia dan temui ibunya. Berikan semua bukti kejahatan yang sudah dilakukan Edi Permana. Semua dan tidak ada yang terlewatkan" kata Yuda dengan tegas. Alan mengangguk paham dan Edi semakin berdebar jantungnya. Bisa dipastikan ibunya bisa terkena serangan jantung lagi yang resikonya akan membuat ibunya struk dan Edi tidak mau itu terjadi.
Yuda pun membalikan badan dan hendak untuk meninggalkan ruangan tersebut namun tiba-tiba.
"Tungguuu..." teriak Edi panik. Panik karena takut terjadi hal buruk kepada ibunya.
Yuda tersenyum tipis lalu dengan angkuh membalikan badannya lagi menatap Edi dengan raut wajah panik dan takut yang bercampur satu.
"Baik-baik gue akan kasih tahu siapa dia tapi gue mohon jangan pernah lo libatkan ibu gue. Lo cukup hukum gue bukan orang lain"
"Oooww anak yang berbakti. Pilihan yang tepat!!" ujar Alan dengan tangan yang disilangkan di dada.
"Jadi? Siapa orangnya?" ucap Yuda yang tak lupa sudah menghidupkan perekam suara sebelumnya.
"A... Adel. Aaadel orangnya" jawab Edi dan Yuda hanya mengangguk sekali lalu meninggalkan Alan dan Edi disana. Yuda mempercayai Alan dalam masalah ini.
***
Pagi harinya setelah memastikan kondisi Rosa baik-baik saja dan sudah ada Deby serta mama Wina, Yuda berangkat ke kantor cabang papihnya sambil mencoba menyelesaikan pekerjaannya di kantor cabang.
Rencananya setelah memyelesaikan pekerjaan kantor yang telah lama ia tinggalkan, Yuda akan menemui mantan pacarnya kak Indra. Tetapi kali ini Yuda tidak akan bergerak sendiri apalagi menemui perempuan seperti itu sendiri. Yuda akan menemuinya bersama kak Indra dan juga Sani.
Bahkan setelah Edi mengungkapkan pelakunya adalah Adel, Yuda langsung mencari tahu siapa Adel melalui orang suruhannya. Cukup mengejutkan setelah Yuda mendapatkan informasi tentang Adel. Padahal selama ini yang Yuda tahu Adel adalah seseorang yang baik-baik saja, bahkan perempuan yang lemah lembut. Adel juga di kenal dengan penderita jantung yang mana sudah membuat waktu Indra habis untuk mengurusnya tapi siapa sangka itu adalah satu topeng dalam menjalankan dendamnya.
__ADS_1
Dan yang membuat lebih menarik Adel malah menjebak pacarnya untuk tidur dengan targetnya. Bahkan siapa sangka jika saat ini Adel sudah kehilangan pacarnya karena kebodohannya akibat dendam yang tak seharusnya.