Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
69. Egois


__ADS_3

Sani sedang memeriksakan kandungannya di rumah sakit. Sani merasa bersyukur setelah mendengar detak jantung anak yang ada dalam kandungannya dengan kondisi sehat dan baik-baik saja. Sani mengakui jika kehadiran anak dalam kandungannya adalah sebuah kesalahan namun Sani tetaplah ibunya yang akan terus menyayangi anak itu.


Senyum Sani melebar terlebih selalu ada Sena yang membantunya dalam menjalani kehamilan ini. Sani duduk di lorong rumah sakit sambil menunggu Sena mengurus administrasinya.


Sani terus memandangi foto hasil USG, di tatapnya penuh dengan rasa sayang juga dengan satu tangannya sambil memegang perut yang sudah terlihat sedikit buncit.


"Kamu...." kata seorang perempuan yang terhenti langkahnya saat melihat Sani duduk manis dengan senyum dan fokus pada apa yang di pegangnya.


Sani mengangkat kepalanya lalu segera merapihkan hasil USG serta buku kehamilannya ke dalam tas. Sedangkan seseorang itu hanya memandangi pergerakan Sani saja.


"Boleh aku melihatnya?" tanya perempuan itu lalu duduk di sebelah Sani. Sani menatap mata perempuan itu yang sulit di artikan. Bahkan perempuan itu sangat terlihat pucat dan sangat memohon ingin melihat foto hasil USG milik Sani.


Sani menggelengkan kepalanya. Bukan karena Sani tak ingin menunjukannya namun Sani enggan mencari masalah jika sudah berhubungan dengan perempuan ini. Sani segera beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan perempuan itu tapi nyatanya perempuan itu mencekal lengan Sani hingga langkah Sani terhenti.


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta perempuan dengan harap kepada Sani. Sani menggeleng dan ingin melepaskan lengan perempuan itu tapi nyatanya perempuan itu tidak membiarkan Sani pergi sebelum dirinya berhasil berbicara dengan Sani.


"Please sebentar aja" pintanya lagi memohon.


"Apa?"


"Duduk sini. Aku gak akan nyakitin kamu" ucapnya dengan halus dan lembut sambil melemparkan senyum di bibir pucatnya itu. Sani menuruti dan duduk bersebelahan dengan perempuan itu.


Perempuan itu menggenggam tangan Sani dengan erat dengan mata yang sudah memerah. Bahkan air matanya jatuh saat dirinya mengucapkan kata maaf.


"Maaf" ucapnya lirih dengan menundukan kepalanya. Sani menjadi merasa bersalah setelah air mata perempuan itu tak henti mengalir di pipinya.


"Maaf, maafkan aku yang masih sulit melepaskan Indra padahal dengan jelas aku selalu merepotkannya" kata perempuan yang tak lain adalah Adele.


"Kamu gak salah. Gak harusnya kamu minta maaf" kata Sani yang memang sudah menerima kenyataan jika memang harus membesarkan anaknya tanpa pendamping.


"Aku salah karena memisahkan ayah dari anak kamu. Maaf. Aku sungguh minta maaf" ucap Adele dengan semakin terisak. Sani sendiri tak tahu harus bagaimana agar bisa menenangkan Adele jadi Sani membiarkan Adele menangis dengan tangan yang masih menggenggam tangannya. Tapi disaat yang bersamaan, Indra yang telah selesai mengurus administrasi Adele menghampiri Adele yang menangis di hadapan Sani. Dan Indra pun salah paham dari apa yang di lihatnya.


"Adele" panggil Indra langsung melepaskan genggaman tangan Adele dan membawa Adele dalam pelukannya.

__ADS_1


Sani cukup terkejut dengan kejadian yang cukup cepat di depan matanya bahkan Sani yakin jika saat ini Indra akan menyalahkan dirinya.


Adele masih terisak justru tubuhnya terlihat sangat gemetar. Indra lalu membawa Adele dalam pelukannya.


"Maafin aku ndra, maafin aku"


Indra mengusap kepala Adele dan mencoba memberikan ketenangan kepada Adele. Namun sayangnya bukan semakin tenang Adele semakin terisak karena merasa bersalah dengan anak yang ada di dalam kandungan Sani. Adele merasa egois karena membuat anak yang tak berdosa itu menjadi jauh dari ayahnya bahkan ayahnya tidak bertanggung jawab akan hadirnya dia.


"Maaf, maaf" kata Adele lagi dengan memukul-mukul dada Indra.


Indra menoleh dan menatap Sani tajam namun yang di tatap langsung menundukan kepalanya karena merasa takut dengan tatapan Indra.


"Sani" panggil Sena menghampiri Sani yang raut wajahnya ketakutan. Sena pun menatap Indra penuh kekesalan ditambah dengan perempuan yang ada di pelukannya.


"Kalo Adele kenapa-kenapa. Kamu orang pertama yang aku cari" tunjuk Indra dengan tatapan marah lalu mengendong Adele dengan ala bridal.


"Dan kalo Sani kenapa-kenapa, lo orang yang pertama gue salahin brengs*ek" teriak Sena yang tak terima dengan perlakuannya kepada Sani.


Sani membeku karena dirinya cukup terkejut terlebih Indra yang menyalahkan dirinya begitu saja tanpa tahu kronologi ceritanya.


"Gak apa-apa. Aku baik-baik aja"


"Yaudah ayoo kita pulang" kata Sena sambil membantu Sani berdiri.


Sena dan Sani berjalan meninggalkan lorong rumah sakit tersebut tapi saat di lobby utama mereka tak sengaja bertemu dengan Rizki yang membawa tentengan berisi makanan untuk istrinya.


"Rizki"


"Sani, Sena"


Kata mereka hampir bersamaan.


Sani dan Sena saling melempar pandang. Sani masih merasa malu dengan sikap yang sebelumnya meminta pertanggung jawaban Rizki akan kehamilannya. Rasanya ingin segera pergi dan tak menampakan kembali wajahnya di hadapan Rizki. Sungguh sangat malu.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" tanya Sani membuka pembicaraan. Rizki tersenyum kikuk dengan menunduk dan menatap kantong tentengannya.


"Aahh lagi mau jemput Rosa"


"Rosa sakit?" tanya Sani dan Rizki menggelengkan kepalanya.


"Enggak. Rosa kerja di rumah sakit ini"


"Ohh. Yaudah kalo gitu aku pamit dulu ya. Salam buat Rosa" pamit Sani dengan senyum lalu berlalu bersama Sena dari hadapan Rizki.


Rizki pun mengangguk lalu kembali ke ruang kerja Rosa. Rizki sebenarnya masih kesal dengan Hari tapi sebisa mungkin tak dirinya tampakan jika bersama Rosa terlebih Rosa masih dalam mode dingin.


"Sayang" panggil Rizki saat membuka pintu ruang kerja Rosa. Rosa menoleh dan menatap Rizki yang terus menghampiri dirinya.


"Makan dulu yuuuk"


"Tanggung, sebentar lagi mas" kata Rosa yang kembali menatap laptopnya dengan jari yang menari indah di keyboard.


"Yaudah aku suapin yah"


"Hah? Gak usah aku sebentar lagi selesai kok mas" ucap Rosa tapi tak di dengar oleh Rizki. Rizki duduk di hadapan Rosa lalu mulai membuka makanannya dan menyendok nasi goreng untuk Rosa.


"Aaaak...." kata Rizki lagi sambil menyodorkan sendok di depan mulut Rosa. Rosa menatap Rizki lalu membuka mulutnya dan mengunyahnya.


Rizki sendiri tak membiarkan mulut Rosa kosong lama ketika dirasa sudah kosong, Rizki langsung menyuapi istrinya lagi sampai makanan tersebut habis.


"Alhamdulillah" kata Rizki setelah makanannya habis di makan Rosa. Rosa menoleh Rizki dengan melemparkan senyum.


"Terima kasih mas" ucap Rosa yang akhirnya selesai dengan pekerjaannya lalu mematikan dan menutup laptopnya.


"Sama-sama sayang" sahut Rizki sambil mengelus bibir Rosa pelan.


"Kamu udah selesai?" tanya Rizki lagi dan Rosa mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah ayoo kita pulang supaya kamu bisa segera istirahat"


__ADS_2