Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
64. Perubahan Sikap Rosa


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Hari ini acara pernikahan Rania dan Sigit. Rosa yang berubah sikap semenjak terungkap taruhan suaminya dengan mantan pacarnya agak sedikit bersikap dingin. Meski di depan keluarganya sama sekali tak di tunjukan hal itu. Rosa bersikap demikian karena dirinya butuh waktu untuk menerima kenyataan yang ada. Padahal awalnya Rosa menerima adat istiadat keluarga Rizki yang menginginkan Rizki menikah agar tak di langkahi adiknya. Rosa pun mengakui jika Rizki memang tulus mencintainya tapi Rosa sungguh masih belum bisa menelaah dan menerima taruhan yang di lakukan keduanya itu.


Rizki menyadari perubahan sikap Rosa yang mendadak dingin, Rizki merasa bersalah sampai bingung harus bagaimana agar Rosa kembali seperti sebelumnya. Di tengah kebahagian pernikahan adiknya Rizki tak menyia-nyiakan kesempatan untuk selalu menempel kepada Rosa, Rizki terus tak membuat jarak di antara keduanya.


"Sayang" panggil Rizki yang kini dagunya berada di bahu Rosa. Rosa membiarkannya karena memang biasanya Rizki suka seperti itu. Rosa juga menyadari sikap dinginnya selama beberapa hari ini membuat Rizki enggan kepadanya karena Rosa yakin jika Rizki sendiri menyadari kesalahannya.


"Hm" sahut Rosa tanpa menoleh dan fokus pada acara pernikahan itu.


"Kamu cantik" bisik Rizki yang menatap Rosa dengan sangat dekat.


"Aku tahu" jawab Rosa yang membuat Rizki melengkungkan bibirnya ke atas.


"Sayang" panggil Rizki lagi pelan.


"Hm"


"Tatap aku" pinta Rizki lalu menarik dagunya dari bahu Rosa. Rosa segera menoleh dan menatap Rizki. Rosa menaikan satu alisnya seolah bertanya ada apa.


"Maafin aku" kata Rizki dan di anggukan Rosa cepat. Rizki segera mendaratkan kecupan di bibir manis Rosa meski hanya sekilas. Rosa tak merespon hanya tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat.


"Aku terpaksa terima itu karena aku gak mau kamu kembali dengan dia. Aku terlalu pengecut sampai buat ungkapin perasaan aku aja aku gak mampu. Maafin aku" ucap Rizki tulus dengan mata yang sudah memerah.


'Mas bisa gak kasih aku waktu dulu?' tanya Rosa dalam hatinya.

__ADS_1


"Kamu udah minta maaf terus dari kemarin-kemarin. Udahlah bukan lebaran juga kan harus ngucapin maaf terus" sahut Rosa yang berbanding kebalik dengan hatinya. Hatinya masih enggan untuk mengiyakan kata maaf Rizki, rasa sakitnya masih sangat terasa. Rizki memeluk Rosa erat dan sangat erat dan Rosa tak membalas pelukan itu. Hanya diam saat Rizki memeluknya dan Rizki makin yakin jika Rosa menyembunyikan perasaan kecewa terhadap dirinya.


"Aku tahu kamu masih marah sayang. Aku harus apa supaya kamu maafin aku?"


"Le-lepasin a-aku, se-sesak"


Rizki menguraikan pelukannya dan meraup wajah Rosa. Di tatap mata Rosa dengan intens namun seketika air matanya luruh. Rosa tak tega dengan Rizki di tambah ini ada di tempat umum.


Rosa melepaskan tangan Rizki dari wajahnya lalu membawa Rizki kedalam pelukannya dengan menepuk-nepuk pelan punggung suaminya.


"Aku udah maafin kamu. Hanya aku butuh waktu buat nerima ini. Apa kamu tahu jika jadi bahan taruhan itu sungguh sangat tidak mengenakan? Aku egois, maaf tapi apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan aku, mama ku, ibu dan bapak kamu setelah kamu menerima taruhan itu" ucap Rosa pelan lalu memgurai pelukannya.


"Aku salah, aku minta maaf"


"Aku udah bilang jangan terus berucap maaf. Aku sudah memaafkan kamu hanya aku butuh waktu untuk menerimanya. Yang aku pikirkan hanya perasaan orang tua kita jika mereka tahu hal ini. Setidaknya kamu tahu sendiri bagaimana sifatnya Hari bukan? Dan aku gak mau buat orang tua kita kecewa"


"Gak usah nangis lagi yah. Ini hari bahagia adik kamu. Hari yang di nantikannya sangat lama sekali. Jangan jadikan moment bahagia ini dengan tumpahnya air mata kamu. Pikirkan mereka yang sedang berbahagia" ucap Rosa dengan senyum di paksakan.


Rizki menyeka air matanya dan mencoba menentralkan perasaannya. Mencoba tersenyum juga dan menggenggam tangan Rosa sambil sesekali ciumnya. Sungguh Rizki sangat menyesal akan hal ini. Kebodohan yang di buat saat emosi sesaat.


***


"Hai Rosa Malinka" sapa Ayyas saat memasuki ruang kerja Rosa dan duduk di hadapan Rosa. Rosa hanya berdehem tanpa menoleh dan juga menyambut kedatangan Ayyas.


Ayyas menautkan kedua alisnya merasa aneh dengan sikap Rosa pada pagi ini. Ayyas beranjak dari duduknya lalu menempelkan tangannya di dahi Rosa. Rosa segera menepis tangan Ayyas dan menatap bos dan juga sahabatnya dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Enggak panas Ros. Lo kenapa?" tanya Ayyas yang merasa terjadi sesuatu.


"Saya baik-baik saja pak. Ada perlu apa bapak ke ruangan saya?" tanya Rosa lembut dan senyum manis. Ayyas menaikan alisnya sebelah merasa aneh dengan karyawan sekaligus sahabatnya ini.


"Lo. Lo sehat kan Ros?" tanya Ayyas memastikan.


"Saya sehat pak. Seperti yang bapak lihat. Saya baik-baik saja" jawab Rosa lagi dengan sangat lembut.


"Tapi gue rasa hati lo lagi gak baik-baik saja" sarkas Ayyas berpikir demikian karena biasanya Rosa memang seperti itu.


"Aah apa bapak sudah menjadi cenayang? Bapak bisa baca isi hati dan pikiran saya?" tanya Rosa sambil mengalihan pandangannya ke laptop dimana dirinya sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Lagi berantem sama Rizki?" tanya Ayyas sangat ingin tahu apa yang terjadi. Rosa menggelengkan kepalanya dengan melempar senyum kepada Ayyas. Dan Ayyas menghempaskan nafasnya kasar.


"Ada apa?" tanya Ayyas langsung yang sangat yakin telah terjadi sesuatu.


"Gak ada apa-apa pak"


"Jangan bohong Rosa, lo gak bisa bohong sama gue" telak Ayyas yang memang pada kenyataannya seperti itu. Mau Rosa menyembunyikan apa pun, Ayyas akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Terlebih dirinya bekerja di rumah sakit Ayyas yang mana waktu nya bertemu Ayyas lebih banyak.


Rosa menghembuskan nafasnya kasar lalu menoleh menatap Ayyas yang sedari tadi menatapnya dengan serius. Rosa tersenyum lebar seolah menunjukan tidak terjadi apa-apa.


"Kasih gue waktu. Oke" pinta Rosa yang membuat Ayyas memejamkan matanya sejenak sambil berpikir masalah apa yang terjadi kepada Rosa.


"Huft!"

__ADS_1


"Janji kalo ada apa-apa lo harus bilang sama gue. Gak peduli lo udah nikah. Gak peduli itu masalah rumah tangga lo. Yang pasti apa pun yang terjadi lo harus cerita sama gue. Lo harus kasih tau gue pokoknya apa pun itu" kata Ayyas dengan serius. Rosa hanya menganggukan kepalanya dengan senyum dan mengerti maksud ucapan Ayyas. Tapi dibalik ini Rosa tak bisa menceritakan hal yang menurutnya tak harus orang lain tahu. Termasuk Ayyas atau pun Yuda.


***


__ADS_2