
"Alhamdulillah" ucap Yuda selepas menyelesaikan maka hasil masakan mama Wina yang gak ada lawannya.
"Nambah Yud" kata mama Wina menawarkan Yuda yang sangat menikmati masakannya.
"Enggak mah cukup. Ini udah kenyang banget. Kalo kekenyangan juga gak enak nanti perutnya" jawab Yuda sambil mengelus-elus perut.
"Kamu mau nambah lagi sayang?" tanya mama Wina kepada Rosa. Rosa menggelengkan kepalanya dengan senyum.
"Enggak mah, cukup" jawab Rosa.
Mama Wina tersenyum dan masih merasa tak percaya jika anak yang dirindukan kini sudah ada di hadapannya. Mama Wina bersyukur karena Rosa dalam keadaan baik-baik saja, meski mama Wina belum menanyakan secara langsung.
"Mah, besok kenalan sama cucu-cucu mama yaah" kata Rosa menatap lembut mama Wina.
"Besok?" tanya mama Wina sedikit tak mengerti maksud Rosa.
"Iya besok Rosa insyaallah ada janji check up cucu-cucu mama. Mama ikut yah, temenin Rosa"
"Cucu-cucu?" tanya mama Wina lagi semakin tak mengerti.
"Selamat ya mah, mama akan punya cucu langsung 2" jawab Yuda menimpali.
Mama Wina diam dengan ekspresi tak percaya. Mama Wina merasakan bahagia berkali kali lipat. Mama Wina menitikan air matanya lalu menghampiri Rosa dan memeluk anaknya lagi.
"Hiks hiks hiks mama bahagia sayang tapi mama juga sedih karena mama gak menemani kamu selama kehamilan kamu kemarin. Maafin mama, harusnya mama gak membiarkan kamu pergi sendiri saat itu. Maafin mama sayang" kata mama Wina merasa bersalah.
__ADS_1
Rosa hanya tersenyum tipis dengan menahan agar tidak menangis lagi. Rosa pun merasakan hal yang sama dengan mama Wina. Menyayangkan waktu yang tak di lewati bersama mama Wina begitu saja karena keegoisannya.
“Rosa yang salah mah. Mama gak boleh nyalahin diri mama kayak gini. Maaf karena keegoisan Rosa harus ninggalin mama sendirian. Mama pasti kesepian dan khawatir kan. Maafin Rosa ya mah” ucap Rosa dengan dagunya yang ada di bahu mama Wina.
“Mama gak akan ninggalin kamu lagi saying. Mama akan berusaha selalu ada untuk kamu dalam keadaan apapun kamu. Mama janji” ucap mama Wina dan Rosa pun menganggukan kepalanya.
Yuda sendiri ikut lega melihat mama Wina dan Rosa seperti ini, hal yang di nantikan bukan dengan Rosa saja tetapi dengan dirinya. Sebelumnya Yuda sudah mengetahui bagaimana kondisi mama Wina selepas kepergian Rosa. Mama WIna yang terlihat baik-baik saja saat itu terkadang menangis merindukan anaknya. Itulah yang membuat Yuda tersenyum kala melihat kedua perempuan yang dirinya sayangi saling berpelukan melepaskan rindu.
“Yud” panggil Rosa setelah melepas pelukan mama Wina dan mendapati jika Yuda sedang memandanginya dengan senyum. Yuda menoleh dan semakin melebarkan senyumnya.
“Kenapa?” Tanya Rosa dengan mengkerutkan keningnya. Yuda tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa senyum-senyum gitu? Malah sekarang ketawa” protes Rosa dengan ekspresi gemas menurut Yuda.
“Gak apa-apa Ros. Yaudah sekarang lo istirahat yah. Gue balik dulu, besok pagi gue jemput lo buat anter lo ke rumah sakit” kata Yuda dengan senyum manisnya. Rosa membalas senyum Yuda dan menganggukan kepalanya.
“Yud, beneran cucu mama ada dua?” Tanya mama Wina masih tak menyangka.
“Iya mah. Insyaallah mereka perempuan dan laki-laki. Selama ini mereka sehat di dalam perut mamanya mah. Meski mamanya kadang suka ngeyel sedikit tapi Alhamdulillah semua baik-baik aja”
“Yuda, terima kasih banyak yah. Terima kasih sudah menjaga Rosa selama ini. Maafin yah kalo Rosa merepotkan kamu selama ini” ucap mama Wina merasa tak enak hati tapi tidak dengan Yuda.
“Enggak sama sekali di repotin kok mah, Yuda seneng bisa nemenin si jelek ini. Justru Yuda juga akan merasa bersalah kalo Yuda tahu dia lagi hamil tapi gak tahu keberadaannya. Yuda yang harusnya berterima kasih dengan mama karena sudah melahirkan perempuan kuat ini. Yuda harap perempuan ini akan selalu menjadi kuat apapun yang sedang di hadapinya dan semoga perempuan kuat ini enggak kabur lagi yang bikin semua orang khawatir ya mah” kata Yuda sambil melirik Rosa dengan nada menggoda Rosa.
Rosa memanyunkan bibirnya dengan kerut di dahi.
__ADS_1
"Tapi sekarang mama rasanya lega karena selama ini Rosa di jaga oleh kamu. Rosa menjadi perempuan kuat karena ada orang-orang di sekitarnya yang membuat dirinya menjadi kuat. Dan salah satunya mama yakin itu adalah kamu Yud. Terima kasih Yuda, terima kasih"
"Iya mah sama-sama. Yaudah Yuda pamit yah. Mama jangan sedih lagi, Rosa anak mama sudah kembali disini" kata Yuda lalu beranjak berdiri dan mengitari meja makan menghampiri mama Wina dan mencium punggung tangan mama Wina.
Setelahnya tak lupa Yuda mengelus puncak kepala Rosa dan mengacak-acaknya. Lalu menatap perut buncit Rosa dengan senyum.
"Baik-baik yah kalian. Papi Yuda pulang dulu. Kalian sama mama dan oma yah, jangan buat mama kalian kram perut malam-malam. Istrihat ya anak-anak baik, besok kita jumpa lagi" kata Yuda lagi dan membuat mama Wina terdiam.
Segitu besarkah Yuda menjaga Rosa selama ini? Sampai Yuda mengetahui hampir semuanya?.
"Iya papi Yuda. Hati-hati pulangnya yah. Kabari kalau sudah sampai rumah. Salam buat keluarha dirumah" sahut Rosa dengan nada dibuat-buat.
***
"Alhamdulillah proses persalinannya lancar, bayinya perempuan, cantik seperti ibunya dan sehat" ucap Dokter Melda setelah keluar dari ruang operasi Sani.
Mami Lina bernafas lega begitu juga dengan papi Roni dan Sena.
"Alhamdulillah, apa bisa kami temui Sani dok?" tanya mami Lina khawatir.
"Tunggu sampai pasien di pindahkan ke ruangan rawat inap ya bu dan untuk suami pasien atau papanya pasien boleh ikut dengan suster untuk mengazankan bayi pasien" jawab dokter Melda lembut dan pelan.
Papi Roni menatap mami Lina dan di anggukan oleh istrinya. Papi Roni pun mengikuti suster dan mengazanin cucu perempuannya.
"Baik saya permisi dulu ya bu" pamit dokter Melda dan berlalu meninggalkan mami Lina dan Sena. Sena menatap sendu maminya lalu memeluk mami Lina. Sena merasa bersalah karena menutupi kehamilan Sani. Tapi Sena tak ada pilihan lain karena Sena tak ingin jika kedua orang tuanya akan menyuruh Sani mengugutkan kandungannya saat itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menjaga kembaran kamu dan keponakan kamu dengan baik nak. Maaf, maafkan mami dengan keegoisan mami. Mami yakin ada alasan mengapa kamu memilih diam dan menutupi kehamilan Sani kepada kami. Terima kasih Sena" ucap mami Lina dengan mengelus punggung anaknya.