
"Karena Hari menginginkan gue menjadi istrinya tapi Rizki gak mau hal itu terjadi. Rizki masih merasa sakit hati dengan apa yang udah Hari lakukan dulu sama gue. Gue pun sama. Gue masih belum bisa melupakan kejadian dulu saat gue masih sama Hari tapi gue udah maafin Hari" kata Rosa lagi mengungkapkan perasaannya.
"Terus sekarang apa yang mau lo lakuin Ros? Jujur gue kecewa banget sama Rizki yang mengambil sikap demikian. Menikahi lo karena taruhan bahkan saat ini lo lagi mengandung anaknnya dengan tanpa sadar dia malah mau menjadi anak dari mantan pacarnya itu. Ini adalah sisi Rizki yang baru gue liat dan ketahui Ros dan gue cukup kecewa dengan tindakan yang di lakukannya saat ini"
"Mengandung anak? Kamu hamil sayang?" tanya mama Wina melebarkan matanya.
"Iya mah" Rosa mengangguk pelan.
"Ya Allah cobaan apa ini untuk anak hamba. Dosa apa yang sudah hamba lakukan sehingga anak hamba yang harus menanggungnya seperti ini, hisk" ucap mama Wina sedih bahkan dengan mata yang sudah memerah.
"Udah mah jangan sedih. Rosa gak apa-apa. Rosa insyaallah bisa lewatin ini. Rosa lega karena ada mama dan Ayyas yang Rosa yakin akan selalu mendukung apa pun keputusan Rosa. Rosa hanya minta doa supaya Rosa selalu sehat agar bisa menjaga kandungan Rosa dengan baik" kata Rosa menenangkan mamanya kali ini.
"Mama sedih sayang dan pasti mama akan selalu mendoakan kamu. Kamu anak mama satu-satunya. Wajar kalau mama sedih karena anak mama sedang kecewa dengan masalah rumah tangga nya ini"
"Terus sekarang apa yang mau lo lakuin?" tanya Ayyas menatap Rosa serius.
"Gue belum tau Yas mau melakukan apa. Yang jelas kalau gue tanya Rizki langsung udah pasti dia akan menjelaskan semuanya yang gue sendiri gak bisa membedakan apa itu benar atau salah. Dan saat ini pun rasanya gue gak mau untuk melihat wajahnya. Masih terngiang di telinga gue dan masih teringat dalam penglihatan gue saat dia berkata tentang pernikahan taruhan, saat dia mau tanggung jawab dengan anak Sani. Padahal saat awal Sani mendatanginya dulu, Rizki menolaknya mentah-mentah. Lalu sekarang kenapa di belakang gue dia kayak gitu? Apa dia menolak Sani saat itu karena ada gue di depannya? Apa benar kata Sani yang mengatakan jika mereka masih saling mencintai? Dan apa benar jika Rizki mempertahankan gue hanya karena gak enak jika gue dulunya adalah sahabatnya? Semua masih berputar di kepala gue, gue pun masih bertanya-tanya dengan jawaban yang gue sendiri gak tau"
__ADS_1
"Ya Tuhan Rosa huftt!!" keluh Ayyas membuang nafasnya kasar.
"Pergilah nak. Mama gak kuat dengernya lagi. Mama yang akan mengurus perpisahan kamu dengan suami kamu. Mama kecewa banget sama suami kamu. Dia gak pantes bersanding sama kamu. Bahkan dia sudah berani menyakiti kamu tanpa dia sadari" ucap mama Wina serius yang sudah tak tahan lagi bahkan air mata luruh dari pelupuk matanya.
"Rosa lagi hamil mah, orang hamil gak bisa mengurus perpisahan" kata Ayyas dengan nafas lemah.
"Tunggu sampai Rosa melahirkan anaknya. Dan sekarang mama mau kamu pergi jauh dari Rizki. Mama gak mau kamu sakit hati lagi terlebih perempuan hamil itu mengatakan jika mereka saling mencintai bahkan sampai meminta kamu untuk tidak egois bukan? Dan yang egois bukan kamu tapi mereka" sahut mama Wina memberikan saran.
"Rosa bingung mah"
"Bukan mah. Itu anaknya kak Indra. Kakak sepupunya Rizki. Kak Indra gak mau tanggung jawab karena saat melakukan itu mereka dalam kondisi mabuk. Entahlah ceritanya bagaimana mah. Dan saat ini pacarnya kak Indra sakit, sakit jantung. Itu juga salah satu alasan kenapa kak Indra gak mau bertanggung jawab mungkin"
"Astagfirullahaladzim" ucap mama Wina dengan mengelus dadanya.
"Gue setuju kalau lo harus pergi Ros. Gue juga setuju kalo lo harus pisah sama Rizki. Maaf kalo gue ikut campur. Lo sahabat gue begitu juga dengan Rizki. Tapi dari dua kejadian ini kayaknya emang Rizki enggak serius sama lo. Dan gue gak mau Rizki semakin dalam mempermainkan lo Ros. Lo paham kan maksud gue?" ucap Ayyas mengungkapkan isi hatinya. Ayyas ikut terluka sejak melihat Rosa menjadi diam bahkan sampai menangis. Menangisi hal yang tak seharusnya. Bahkan Ayyas juga merasa sakit mendengar ucapan yang di ucapkan Rizki kemarin. Sungguh Ayyas ikut terluka ditambah dengan pernyataan dari Hari.
"Rosa izin sama mama. Izinkan Rosa melangkahkan kaki Rosa kemana pun Rosa ingin saat ini. Bukan Rosa menghindari masalah ini, Rosa hanya butuh waktu untuk ini. Rosa juga gak bisa memastikan untuk berpisah dengan Rizki. Biar bagaimana pun juga anak ini adalah anaknya Rizki"
__ADS_1
"Mama mengizinkan dan mama meridhoi kamu sayang. Mama kecewa, mama sakit hati tapi mama akan menghargai apa pun keputusan kamu. Mama gak akan memaksa kamu untuk berpisah dengan Rizki meski sebenarnya mama menginginkan itu"
"Rosa gak bisa memastikan itu mah. Maafin Rosa kalau seandainya Rosa memilih untuk bertahan. Maafin Rosa juga jika saat ini Rosa meminta izin untuk pergi sebentar"
"Tapi bagaimana dengan luka jahit di kening kamu? Lalu bagaimana dengan calon cucu mama?" tanya mama Wina yang tak bohong jika sangat khawatir dengan kondisi Rosa saat ini. Rosa tersenyum dan membawa tangan mama Wina ke perutnya yang masih rata.
"Alhamdulillah calon cucu mama baik-baik aja dan alhamdulillah juga luka di kening aku sudah membaik. Aku pun sudah tak terlalu merasakan nyeri mah" kata Rosa sedikit dusta padahal dirinya masih merasakan sakit di area keningnya itu.
"Lo mau pergi kemana? Apa ada tujuan kemana lo pergi?" tanya Ayyas khawatir. Rosa tersenyum lalu memikirkan sesuatu kemana dirinya akan pergi.
"Gue belum ada tujuan Yas. Tapi setidaknya lo tau gue. Gue akan melangkah kemana pun itu. Gue akan pulang saat gue siap, saat gue yakin. Lo percaya kan sama gue?"
"Gue percaya Ros tapi gue khawatir. Lo gak sendiri. Lo lagi hamil. Gue gak mau lo kenapa-kenapa atau lo ada apa-apa"
"Cukup lo doain gue Yas. Gue yakin akan baik-baik aja asal ada doa kalian bersama gue dan gue janji kalau langkah kaki gue kali ini enggak akan terlalu jauh"
"Jujut rasanya gue gak rela Ros. Gue gak mau lo jauh-jauh. Yuda jauh aja gue udah kehilangan Ros gimana kalo lo juga. Makin sepi hidup gue" kata Ayyas dengan sedih.
__ADS_1