
Waktu terus berlalu dan tak terasa kandungan Rosa sudah memasuki bulan ke tujuh. Tentu perubahan fisik dalam diri Rosa sangat terlihat jelas tapi tidak dengan aura kecantikannya yang semakin terpancar. Rosa sangat menikmati masa kehamilannya, Rosa berhasil melepas beban pikirannya selama ini. Rosa mencoba berdamai dengan apa yang ada dalam pikirannya tentang Rizki. Dalam senyumnya Rosa memantapkan hati untuk kembali pulang ke Jakarta menemui mama Wina dan suaminya. Yuda merasa berat tapi Yuda hanya bisa mendukung apa pun keputusan Rosa. Yuda pun yang siaga mengantarkan Rosa hingga sampai ke rumah mama Wina.
Mama Wina menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara mesin mobil yang terparkir di area halaman rumahnya. Mama Wina membuka pintu dan berjalan mendekati mobil tersebut. Iya mobil tersebut adalah mobil yang di kendarai Yuda bersama Rosa. Yuda keluar dari mobil lalu tersenyum kepada mama WIna dan langsung mengitari depan mobilnya untuk membantu Rosa keluar dari mobil Yuda.
Mama Wina tak dapat menahan air matanya lagi lalu segera menghampiri Rosa. Begitu juga dengan Rosa yang menghampiri mama WIna hingga akhirnya Rosa memeluk erat mama WIna dan menumpahkan air matanya dalam pelukan mama WIna.
“Maafin Rosa Mah” ucap Rosa dengan suara bergetar. Rosa merasa bersalah dengan kepergiannya selama ini tanpa memberi kabar apapun kepada mama Wina. Bahkan menurutnya mama Wina terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Mama Wina menggelengkan kepalanya dengan mengelus lembut punggung anak semata wayangnya. Lalu perlahan melepas pelukannya dan meraup kedua pipi Rosa sambil menghapus sisa air mata Rosa.
“Kamu pasti capek. Kedalam yuuk, istirahat dulu sambil mama buatkan makanan kesukaan kamu. Nanti setelahnya kamu harus cerita sama mama yah” kata mama Wina dengan melemparkan senyum manis kepada Rosa meski matanya masih basah dengan air mata.
Rosa menganggukan kepalanya patuh lalu menengok kiri dan menatap Yuda yang berdiri di sampingnya sedari tadi. Yuda tersenyum lalu meminta tangan mama Wina untuk di cium punggung tangannya. Entah kenapa hati mama Wina merasa tergetar dengan sikap Yuda saat ini dan yang pasti mama WIna menebak jika selama ini Yudalah yang menemani dan melindungi Rosa. Karena memang keluarga Yuda memiliki kekuasaan yang mana bisa jadi mereka menutup akses bagi siapapun yang mencari keberadaan Rosa saat itu. Dan jawabannya memang iya.
“Terima kasih Yuda” kata mama Wina lalu memeluk Yuda setelah Yuda melepas cium punggung tangan mama Wina. Yuda hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan dan membalas pelukan mama Wina.
“Sama-sama Mah, Yuda merasa sudah menjadi kewajiban untuk Yuda” balas Yuda yang entah membuat hati mama WIna semakin tergetar.
“Ya sudah masuk dulu yuuk” pinta mama WIna dan di iyakan oleh Rosa dan Yuda.
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah mama Wina, Rosa segera pamit untuk ke kamarnya. Rosa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Beruntungnya Rosa memiliki kaos berukuran oversize yang bisa digunakannya untuk menutup perut buncitnya.
Rosa tersenyum menatap dan memandangi setiap dinding kamarnya yang tak berubah. Masih rapih dan harum, sepertinya memang sangat di jaga sekali kamar tersebut. Rosa pun menatap pigura pernikahannya dengan Rizki yang terpasang jelas di dinding kamarnya. Rindu, jujur dalam hatinya terselip rindu disana. Tapi kemana Rizki? Itulah pertanyaannya selama ini. Sehingga Rosa meragukan apakah Rizki mencari dirinya atau tidak selama ini. Senyumnya seketika memudar sambil dirinya menata hatinya lagi agar tak berburuk sangka lebih dulu.
“Aku mau mendengar penjelasan langsung dari kamu mas. Aku tahu aku salah karena lari dari masalah ini. Aku juga tahu aku salah karena bersembunyi dan membiarkan Yuda bersamaku, Yuda memang sahabatku tapi aku sadar statusku saat ini yang sudah menjadi istri kamu. Apa pun keputusannya insyaallah aku akan menerima, Insyaallah” kata Rosa pada pigura Rizki.
***
“Papi kecewa sama kamu Sani. Bisa-bisanya kamu sembunyikan kehamilan kamu ini. Bahkan sudah sebesar ini? Hah? Mau di taruh dimana wajah papi jika relasi papi dan keluarga besar kita tahu dengan kelakuan nakal kamu ini? Hah?” kata papi Roni dengan nada tinggi kepada anak perempuannya. Sani hanya menahan isakan tangis dengan kedua tangan memegangi perutnya.
“Pih sudah pih sudah” kata mami Lina kepada suaminya. Mami Lina merasa kasihan dengan anak perempuannya. Meski mami Lina tahu jika anak perempuannya salah tapi mami Lina sulit membayangkan bagaimana Sani menanggung masalahnya sendiri tanpa orang tuanya tahu sama sekali.
“Apanya yang sudah mih? Anak ini sungguh sudah membuat malu keluarga. Coba mami pikirkan bagaimana jika orang-orang tahu ini? Mau di taruh dimana wajah papih? Hah? Apa lagi dengan perutnya yang sudah sangat besar ini, mana bisa kandungannya di gugurkan?” kata papi Roni dengan tatapan sangat kecewa. Sani membalas tatapan papi Roni dengan sama kecewanya saat mendengar papi Roni ingin mengugurkan kandungannya jika belum sebesar sekarang.
“Pih kita cari jalan keluarnya. Sudah cukup. Kasihan, Sani pun pasti tersiksa dengan kehamilannya ini pih” pinta mami Lina mencoba menengahkan situasi.
“Itu adalah resiko dari kesalahan yang dia lakukan sendiri mih. Papi kecewa, apa salah papi sampai harus mempunyai anak seperti Sani mih? Padahal papi sudah menjaga semuanya dengan sangat detail tapi mengapa jadi seperti ini?” tanya papi Roni tak habis pikir.
__ADS_1
“Mami yang salah pih, mami salah karena gak bisa mendidik dan mengajarkan hal yang baik untuk anak kita. Maafin mami pih” sahut mami Lina dengan air matanya.
“Kamu sudah benar mendidik dan mengajarkan anak-anak kita. Kamu lihat saja Sena, lihat keberhasilan apa yang sudah Sena hasilkan di bandingkan anak ini” kata papi Roni dengan menatap Sani yang duduk di lantai.
“Sani tetap anak mami pih. Papi gak bisa membandingkan mereka. Mereka kembar tapi mereka berbeda pih jadi papih ..." kata mami Lina yang terhenti saat tangannya diraih oleh Sani.
"To-long Sa-ni mih" ucap Sani meringis dan menahan sakit kontraksi yang sedang datang pada perutnya.
"Sani Sani.." kata mami Lina yang berlutut dan mencoba membantu anaknya. Dan sudah terlihat jika darah segar mengalir di pangkal pahanya.
"To-long Sani mih, sakit hisk" kata Sani lagi.
"Papi buruan bantu Sani ke rumah sakit!! Sani mau melahirkan" pinta mami Lina dan dengan cepat papi Roni melakukan apa yang di pinta istrinya.
Melihat Sani yang menahan sakitnya sendiri membuat papi Roni melukan sejenak amarahnya dan juga berpikir kasian dengan apa yang sudah terjadi dengan anak perempuannya ini.
****
__ADS_1