Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
68. Penjelasan


__ADS_3

"Ya berarti gue juga boleh donk peluk-peluk Deby?" tanya Rizki dengan tatapan menantang.


"Lo siapanya Deby berani peluk-peluk dia? Kalo gue jelas bolehlah peluk Rosa. Dari sebelum dia jadi istri lo, gue sering pelukan sama Rosa. Masa iya sekarang lo larang dengan alasan cemburu. Gak gak terima gue!"


"Gu-gue sahabatnya Deby jugalah. Secara Deby sahabat Rosa jadi Deby juga sahabat gue. Berarti gue bisa donk peluk sahabat gue sendiri" sarkas Rizki membela dirinya lagi.


"Iya mas bisa. Bisa gak aku kasih tidur di kamar bareng aku atau mungkin aku pulangin kamu ke rumah orang tua kamu" jawab Rosa membuat Rizki seperti tercekik tenggorokannya dan membuat Ayyas terpekik seketika. Hampir tak percaya bisa berbica demikian.


"Suruh tidur di luar aja Ros. Jangan di bukain pintu ha ha ha ha" kata Ayyas dengan tertawa karena merasa di bela.


"Sayang kok gitu? Gak adil donk" rengek Rizki dengan suara manjanya.


"Gak usah protes. Kamu tahu kan kalo aku selalu serius dengan ucapan aku? Aku rasa kamu denger ucapan aku dan gak harus aku ulangi lagi?" tegas Rosa membuat Rizki semakin tak bisa berkutik. Rizki hanya mengangguk patuh dengan apa yang di katakan Rosa. Sedangkan Ayyas hanya terkekeh merasa lucu dengan apa yang di lihat. Seolah Ayyas pun lupa jika dirinya pun sama seperti itu jika Deby sudah berucap tegas.


***


Rizki tak kembali ke kantornya dan memilih menemani Rosa bekerja di ruang kerjanya. Rizki hanya sesekali mengecek pekerjaannya lewat email yang dikirimkan oleh Alif. Sungguh Rizki tak ingin berjauhan dengan Rosa saat ini terlebih hubungannya dengan Rosa belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Rosa masih bersikap dingin sesekali.


Rizki menatap Rosa dari sofa yang tak jauh dari meja kerjanya. Rizki mengukir senyum indah melihat Rosa yang tengah serius dengan pekerjaannya. Cantik dan sangat terlihat semakin cantik menurut Rizki.


"Mau sampe kapan ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Rosa tanpa menatap Rizki yang menatapnya. Mata Rosa masih menari indah diatas keyboard laptop. Rizki hanya senyum dan beranjak menghampiri Rosa lalu memeluk Rosa yang masih duduk di bangku kerjanya.


"Apa kamu banyak kerjaan sayang?" tanya Rizki dengan membungkukan badannya sambil memeluk Rosa dan menopangkan dagu di bahu Rosa. Rosa mengangguk dalam pelukan Rizki.

__ADS_1


"Seperti yang kamu liat mas. Memang begini pekerjaan aku. Bukannya sebelumnya kamu sudah tahu?"


"Hmm" ucap Rizki yang juga menganggukan kepalanya di bahu Rosa.


"Tapi aku gak nyangka kerjaan kamu sebanyak ini malah kayaknya banyakan kerjaan kamu di banding aku sayang" ucap Rizki lagi lalu mencium sebelah pipi Rosa. Rosa menghentikan pekerjaannya sambil berpikir sejenak. Entahlah apa itu yang sedang di pikirkannya.


"Kamu jangan gini, aku gak enak kalo ada yang masuk dan liat posisi kamu kayak gini" kata Rosa dan di iyakan oleh Rizki. Rizki melepaskan pelukan kepada istrinya dan memutar kursi Rosa menghadap dirinya. Rizki tersenyum sambil membenarkan rambut Rosa yang menutupi pipinya.


"Kalo kamu lelah dengan pekerjaan kamu, kamu boleh berhenti ya sayang. Aku gak mau kamu kecapek-an, terlebih pekerjaan kamu yang banyak dan cukup menyita waktu. Dan kalo kamu gak keberatan cukup kamu di rumah itu sudah cukup untuk aku. Cukup mengurus aku, calon anak-anak kita dan mama Wina" ucap Rizki dengan tulus. Karena biar bagaimana juga Rosa sudah menjadi tanggung jawab Rizki baik dalam segi apa pun.


Rosa mengangguk patuh mengerti maksud dari suaminya ini tapi entah kenapa rasanya Rosa masih ingin untuk bekerja dulu. Rosa masih ingin memberikan separuh dari hasil kerjanya untuk mama Wina. Bahkan mama Wina juga sudah banyak membantu Rosa dalam mengurus toko bakery yang jelas Rosa tak sanggup mengurusnya sendiri.


"Kamu kenapa gak kembali ke kantor?" tanya Rosa masih dengan mode dinginnya.


Rosa mengangguk dan hanya menghembuskan nafasnya sambil memaksakan sedikit senyum di bibirnya.


"Aku ada kemungkinan lembur. Apa kamu gak apa-apa? Kalo kamu mau makan bilang yah biar nanti bisa aku pesenin makan buat kamu"


"Aku gak apa-apa selagi semua sama kamu sayang. Oke gampang perihal aku makan mah. Atau kamu mau makan apa biar aku beliin aja di luar" kata Rizki menawarkan dan Rosa tampak berpikir makanan apa yang dirinya inginkan untuk menemaninya lembur hari ini.


"Hmm apa yah. Apa aja mas, aku makan apa yang kamu mau makan. Kamu tahu aku kan" sahut Rosa yang pikirannya sudah malas.


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya"


"Mie aceh mau?"


"Hmm boleh tapi mie aceh yang ada di deket rumah Yuda ya mas" jawab Rosa membuat Rizki tampak berpikir. Iya mikir karena lokasi rumah Yuda cukup jauh kalo dari rumah sakit Ayyas ini bisa memakan waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit.


"Kalo mau mie aceh dekat rumah Yuda, gimana pas pulang kamu kerja aja?"


"Baiklah mas tapi aku gak ngejamin setelah pulang kerja aku mau makan mie aceh yah. Yaudah kalo gitu makan apa aja pilihan kamu yang ada di kantin atau pedagang sekitar rumah sakit aja. Atau mau nasi goreng kesukaan kamu juga gak apa-apa kok mas"


"Yaudah aku tinggal sebentar ya sayang. Jangan terlalu lama natap laptop juga. Gak baik buat kesehatan mata kamu"


"Iya mas" kata Rosa dengan Rizki mengelus pipi chubby istrinya.


Rizki segera berlalu dan membelikan makanan untuk istrinya. Rizki melewati lorong rumah sakit dan tak sengaja melihat Hari ada disana. Rizki mengepalkan kedua tangannya, teringat saat Hari memeluk Rosa begitu saja bahkan sampai terisak di bahu Rosa begitu saja. Sungguh mengingatnya saja membuat hati Rizki menjadi panas dan ingin sekali mendaratkan pukulan di wajah Hari itu.


Tapi berbeda dengan Hari yang juga melihat Rizki. Hari melemparkan senyum tanpa rasa bersalah dengan mata yang terlihat sembab. Memang Hari menangisi ibunya tadi jadi bekasnya masih jelas terlihat.


"Gue gak nyangka Rosa masih menerima tangisan gue di bahunya. Karena emang gue rasa Rosa tahu kalo dia adalah tempat gue bersandar" kata Hari penuh percaya diri.


"Gak usah kepedean. Setidaknya lo tau jika Rosa memiliki rasa iba yang cukup tinggi. Dan lo harus inget kalo Rosa itu milik gue dan akan terus jadi milik gue. Lo gak perlu mimpi buat milikin apa yang gue milikin. Karena laki-laki sejati gak pernah ada yang namanya merebut" sahut Rizki dengan penekanan.


"Kita liat aja nanti. Lo gak usah percaya diri. Gak apa-apa sekarang Rosa menjadi milik lo tapi gue akan pastiin jika nanti Rosa akan menjadi milik gue" ucap Hari dengan smirk khasnya. Sungguh ini sangat membuat Rizki ingin sekali melayangkan pukulan di wajah Hari namun kewarasan Rizki masih terkendali karena Rizki menyadari ini masih di area rumah sakit sahabatnya dan juga tempat istrinya bekerja. Dan jelas pastinya gak mungkin Rizki membuat masalah di rumah sakit itu

__ADS_1


***


__ADS_2