Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
54. Keadaan Adele


__ADS_3

"Karena dalam hal demikian membuat daya kerja jantungnya menjadi bekerja lebih cepat. Bahkan saya rasa pasien tidak meminum obatnya secara teratur juga kurang makan makanan yang bergizi dan yang di anjurkan. Jadi membuat pasien akan semakin mudah kambuh dan drop bahkan melemah seperti ini. Dan jika di biarkan akan mempengaruhi kesembuhannya" jelas dokter Yolan pelan membuat hati Indra bagaikan tertusuk ribuan jarum. Sakit dan sesak rasanya. Merasa gagal telah melindungi Adele selama ini.


"Lalu baiknya saat ini gimana dok?" tanya Indra dengan mata yang sudah memerah. Bagaimana gak merah, Indra sangat khawatir dengan Adele. Baginya Adele adalah separuh dari hidupnya karena Adele sudah menemani dirinya dari dirinya belum bekerja hingga saat ini sudah menjadi manager dalam perusahaan.


"Kita lihat kondisinya sampai nanti malam ya pak. Jika ada kemajuan, kita akan pantau lagi. Dan untuk saat ini pasien Adele akan saya pindahkan ke ruang ICU agar mendapatkan penanganan lebih intensif disana dimana akan selalu ada perawat dan dokter jaganya. Namun jika sampai nanti malam kondisi pasien semakin melemah atau tak ada perubahan. Dengan terpaksa kita harus melakukan operasi untuk pasien" jelas dokter membuat Indra dan Rizki melebarkan kedua matanya.


"O-operasi?" tanya Indra bingung dan seolah pikirannya hilang.


"Iya operasi. Meski kemungkinan kecil untuk sembuh namun hanya dengan cara operasi yang bisa membuat pasien bisa lebih lama bertahan"


"Ma-maksud dokter?" tanya Indra dengan menggelengkan kepalanya.


"Sebelumnya saya mohon maaf karena mengatakan hal yang tak seharusnya tetapi ini sudah saya ingatkan dari terakhir pasien Adele kollaps seperti ini. Kita berdoa agar pasien bisa bertahan dan mempunyai kekuatan untuk sembuh ya pak. Semua kita akan terus pantau sampai nanti malam" jelas dokter dengan berat hati menyampaikan kondisi terburuk Adele.


Air mata Indra tak tertahan lagi dan mengalir begitu saja di pipinya bahkan sesak sekali rasanya. Indra luruh dan menangis tanpa suara di hadapan dokter, perawat dan juga Rizki. Rizki ikut berlutut dan mengelus punggung Indra guna memberikan ketenangan bagi Indra. Iya Rizki saat ini melihat Indra dalam kondisi terpuruknya dan tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya.


"Baik pak saya akan memindahkan pasien Adele ke ruang ICU dan saya akan kembali memantau pasien secara berkala. Dan jika saya sudah menemukan hasil, saya akan segera memberi tahu bapak. Kalau begitu saya permisi" pamit dokter Yolan berlalu meninggalkan Indra yang masih luruh di lantai.


"Terima kasih dok" kata Rizki sebelum dokter berlalu.


"Pak, ini berkas yang harus di urus di administrasi. Mohon di selesaikan ya pak agar kami dapat segera memindahkan pasien ke ruang ICUnya" kata perawat yang memberikan beberapa lembar kertas untuk urusan administrasi rumah sakit.


"Baik sus. Terima kasih" jawab Rizki menerimanya sopan.

__ADS_1


"Ayo kak, kakak tunggu di kursi sana yah biar Rizki yang urus administrasinya" kata Rizki membangunkan Indra dan memapahnya ke kursi yang tersedia di lorong rumah sakit.


Indra diam membisu seperti kehilangan arah. Masih menangis tanpa suara karena tak bisa membayangkan jika dirinya harus kehilangan perempuan yang sangat dirinya sayangi ini.


"Kak, kakak denger Rizki kan?" tanya Rizki berbisik pelan namun Indra belum ada perubahan.


"Kak---"


"Kamu temenin kak Indra aja, biar aku yang urus administrasinya mas" kata Rosa yang tiba-tiba ada.


"Ka-kamu kok ada disini? Katanya banyak kerjaan"


"Aku khawatir sama kalian. Tadi dokter Yolan udah menjelaskan semuanya sama aku. Kak Indra harus semangat yah. Harus yakin kalo pacar kakak akan baik-baik aja. Aku akan bantu doa untuk kesembuhannya" ucap Rosa pelan dan lembut. Indra menganggukan pelan kepalanya.


"Gak apa-apa sayang?" tanya Rizki menatap istrinya takut membuatnya repot.


"Gak apa-apa. Yaudah aku ke bagian administrasi dulu ya. Nanti aku kabarin kalo udah selesai" jawab Rosa sambil menerima berkas administrasi dan berlalu meninggalkan Indra dan Rizki.


"Dia baik dari dulu dan gak pernah berubah. Beruntung kamu Ki bisa jadiin Rosa sebagai istri kamu. Jaga dia baik-baik ya" kata Indra sambil menatap punggung Rosa yang semakin menjauh.


"Iya kak. Insyaallah Rizki akan jaga Rosa dengan baik. Kak Indra harus banyak berdoa ya supaya Adele bisa ada kemajuan" seru Rizki dan Indra menganggukan kepalanya pelan.


***

__ADS_1


"Pagi bu Rosa ada yang bisa saya bantu?" sapa Erin ramah staff administrasi rumah sakit.


"Pagi mbak Erin. Iya ini aku mau urus administrasinya saudara sepupu aku" kata Rosa sambil menyodorkan berkas administrasi Adele ke Erin.


"Sebentar ya bu Rosa saya cek dulu" sahut Erin setelah menerima berkas administrasi dari Rosa. Rosa menganggukan kepala pelan dan melempar senyum.


"Pasien atas nama Adele Novyanti ya bu Rosa?" tanya Erin mengkonfirmasi dan Rosa menganggukam kepalanya sambil mengingat nama yang sudah di bacanya tadi di dalam berkas tersebut.


"Tagihannya masukin ke namaku saja ya mbak. Biar saya yang menanggung biaya pasien sampai keluar dari rumah sakit" kata Rosa yang membuat Erin sedikit berpikir. Iya bagaimana tidak karena biaya perawatan untuk Adele ini bisa di bilang cukup mahal terlebih adele menggunakan ruang ICU dengan alat media yang lengkap didalamnya.


"Dan untuk ruang rawatnya nanti tolong siapkan ruang VIP di gedung Rubi ya mbak" pinta Rosa yang membuat Erin mengangguk pelan.


Rosa serius? Iyalah serius. Karena begitulah Rosa sedari dulu jika membantu. Terlebih saat membantu biaya rumah sakit Riana yang hampir menghabisi 90% tabungan miliknya selama ini. Tapi tak masalah bagi Rosa karena baginya semua uang yang dirinya keluarkan akan terganti dengan sendirinya oleh Allah swt yang mana memang rezeki Rosa alhamdulillah selalu ada.


"Baik bu Rosa. Mohon tunggu sebentar yah" kata Erin yang langsung mengerjakan apa yang di pinta oleh Rosa.


"Baik bu ini bukti administrasinya. Terima kasih banyak ya bu" kata Erin lagi dengan menundukan kepalanya sedikit dan melemparkan senyum kepada atasannya ini.


"Baik sama-sama mbak. Saya permisi" pamit Rosa lalu berlalu meninggalkan Erin.


Rosa menatap lirih pemandangan di ujung lorong rumah sakit tersebut. Iya setelah mendengar apa yang di katakan dokter Yolan, Rosa merasa tersentuh hatinya karena tak menyangka dengan Indra yang di kenal buruk ternyata sangat berkorban untuk pacarnya. Terlebih pacarnya tak punya siapa-siapa lagi selain dirinya. Di tambah sang pacar menderita penyakit yang bisa di bilang mematikan jika tidak segera di tangani.


"Maaf jika aku pernah berprasangka buruk tentang kak Indra. Semoga Adele Novyanti bisa segera membaik dan lekas sembuh aamiin" kata Rosa berjalan menghampiri Indra dan Rizki yang sedang menunggu di kursi lorong dekat ruang IGD.

__ADS_1


__ADS_2