
Yuda memaksakan senyum di sudut bibirnya. Merasakan sesak dalam dada yang selalu berhasil di tutupinya.
"Eehh iya bener juga. Maaf yaa" kata Deby menyesali ancamannya tadi namun tiba-tiba terdengar sapaan dari seseorang yang sangat di kenalnya.
"Hai" sapanya ramah dan mampu membuat ketiga orang itu terpaku diam.
"Kenapa diem gitu? Gak suka liat gue ada disini?" tanya Rosa melipat kedua tangannya di dada dan menatap ketiganya heran.
Baik Ayyas, Yuda dan Deby tersenyum kikuk kepada sepasang penggantin baru ini. Dan secara bersamaan melambaikan tangan ke udara.
"Hai Ros" sapa mereka bertiga tanpa sadar bersamaan.
"Lo ngapain disini?" tanya Ayyas dengan senyum bingung.
"Mau ketemu kalian. Kan kalian ada janji temu di butik Yuda kan?"
"I-iya tapi maksud gue itu--"
"Kenapa gue sama Rizki gak pergi honeymoon?" tebak Rosa memotong ucapan Ayyas. Ayyas pun melempar senyum dan menganggukan kepalanya.
"Lo yakin nyuruh gue honeymoon sedangkan besok akhir bulan. Bukannya gue sombong nih ya. Emang lo bisa handle semua kalo gak ada gue?" kata Rosa dengan penuh keyakinan pada dirinya.
"Ya-ya gak yakin sih. Terus lo mau masuk kerja di akhir bulan besok?"
"Iya" kata Rosa dengan menganggukan kepalanya lalu memindai penampilan Ayyas yang masih menggunakan jas untuk acara pernikahannya dalam menghitung hari mendatang. Iya pernikahan Ayyas dipercepat karena permintaan keluarga Deby. Alasannya? Entahlah hanya pihak kedua keluarga saja yang tahu.
"Keren. Jas lo bikin lo makin keliatan keren" kata Rosa sambil mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1
"Gue tanpa jas ini juga udah keren Ros. Jadi pake apa aja tetep aja keren" ucap Ayyas dengan gaya tengilnya.
Yuda memutar bola mata malas mendengar kenarsisan sahabat baiknya ini. Lalu menggelengkan kepalanya sambil pergi berlalu meninggalkan mereka.
"Eh lo mau kemana Yud?" tanya Ayyas heran.
"Bikin minum buat pengantin baru" jawabnya dengan suara yang semakin menjauh.
"Buat gue sekalian refil ya" teriak Ayyas yang jelas Yuda sudah tak mendengarnya.
***
Keesokan harinya, Rosa seperti biasa sudah sampai di tempat kerjanya seperti biasa. Semua karyawan tersenyum ramah kepadanya karena Rosa di nikahi oleh pengusa muda nan sukses. Bahkan sebelumnya Rizki bisa di katakan idolanya para karyawan di rumah sakit milik keluarga Ayyas ini.
Ketampanan Rizki gak bisa di ragukan lagi. Apa lagi Rizki yang jarang tersenyum dengan sembarang orang, ketika sedang mengulas senyumnya aduhai membuat getaran jantung terus berdetak semakin kencang. Membuat yang melihatnya meleleh seketika karena terpesona.
'Sayang nanti kalau kamu lembur kabarin aku yah. Aku juga kayaknya lembur soalnya ada beberapa urusan mendesak yang harus diselesaikan hari ini juga. Jadi biar nanti aku bisa jemput kamu dulu' kata Rizki dari dalam sambungan telepon setelah dirinya tiba di ruang kerja namun sudah tunggu oleh tumpukan berkas. Rosa tersenyum sambil menganggukan kepalanya yang pasti itu tidak terlihat oleh Rizki.
'Kamu juga ya sayang. Jangan capek-capak dan ingat makan kalau sudah jamnya. Jangan pernah di tunda-tunda kayak sebelumnya. Aku gak mau akhir bulan kamu malah nginep di rumah sakit karena kecapean. Ngerti kan?' ucap Rizki mengingatkan kejadiaan yang pernah beberapa kali terjadi pada Rosa saat akhir bulan. Yang tumbang selesai closing laporan bulannya dan berakhir bermalam di IGD rumah sakit.
'Iya. Kamu juga yah jangan lupa. Terus kalau bisa kopinya kurangin kalau lagi banyak kerjaan, banyakin minum air putih'
'Siap sayang. Yaudah kalau gitu aku kerja dulu ya. Love you sayang'
Rosa langsung memutus sambungan telponnya dengan hati yang berbunga. Jadi begini rasanya ada yang memperhatikan lebih? Padahal biasanya di perhatiin lho sama Ayyas, Yuda dan juga Rizki tapi kok kali ini perhatiian Rizki rasanya beda banget. Nah lho?
"Ros kalo laporan pasien di gedung Teratai udah selesai kasih tau gue ya. Gue mau cek biar cepet kelar dan cepet pulang" kaya Ayyas yang baru tiba di ruang kerja Rosa yang bersebelahan dengan ruang kerjanya. Rosa mengangguk mengerti maksud dari atasannya ini.
__ADS_1
"Udah saya kirim pak barusan. Coba tolong bapak cek email bapak yah. Apa bapak mau saya print kan saja laporannya?" kata Rosa yang berubah tutur katanya jika sudah di rumah sakit begini.
"Wah cepet banget Ros. Baru juga minta udah di kasih aja. Ini mah bonus gede harus gue siapin buat karyawan kayak lo" sahut Ayyas yang memang selalu berbicara santai kala hanya berdua saja dengan Rosa. Meski Rosa berbicara formal tapi Ayyas mengabaikannya. Bahkan kadang Ayyas juga bersikap santai meski Ayyas dan Rosa sedang bersama karyawan lainnya. Ayyas sama sekali tidak membedakan status mereka meski dalam pekerjaan. Makanya Ayyas sangat di kenal dengan atasan yang ramah dan supel jadi banyak karyawannya yang menggagumi Ayyas.
"Harus pak. Harus bapak siapin. Biar saya bisa kebeli helikopter" jawab Rosa asal dengan mata yang masih fokus ke laptopnya tanpa melirik Ayyas sedikit pun.
"Jangankan Helikopter. Lo mau pesawat terbang juga gue kasih Ros. Tapi yang miniatur yaa. Kalo yang bisa nerbangin orang-orang gue belom cukup mampu"
"Bahasa lo gak mampu, gak mampu beneran baru tau rasa lo"
"Lo itu kalo ngomong sebelas dua belas sama Yuda ya. Persis plek ketiplek tiplek" protes Ayyas tak terima dengan ucapan Rosa. Rosa menoleh dan menatap Ayyas yang sudah mulai merajuk dengn bibir manyunnya.
"Yas lo kalo masih baper sama ucapan gue mending gak usah temenan aja sama gue. Ck. Lo hidup bersama gue udah hampir bahkan lebih dari usia lo saat ini. Kalo karena ucapan gue kayak gitu aja lo merajuk, ngapain aja lo selama temenan sama gue? Cuma jadi penonton? Apa jadi tokoh yang berperan" kata Rosa tepat membuat Ayyas tak mampu membalasnya. Ayyas terdiam dan menatap Rosa penuh sesal justru kini Ayyas merasa jika Rosalah yang merajuk. Padahal Rosa diam karena sedang fokus pada pekerjaannya agar tetap selesai.
"Abis ucapan lo gitu. Kan gue takut jadi doa Ros. Masa gak paham sih" kata Ayyas dengan menundukan kepalanya.
"Lo masih mau disini? Apa kerjaan lo udah selesai? Atau lo mau ngerjain kerjaan lo disini?"
"Emang boleh gue ngerjain tugas gue disini?" tanya Ayyas harap-harap cemas takut Rosa berkata lain lagi.
"Boleh Yas. Apa sih yang gak boleh buat lo" jawab Rosa sambil menaikan kedua alisnya bergantian.
"Aaaahh Rosa. Lo jangan pura-pura marah kayak tadi donk. Kan gue jadi takut"
"Gue enggak marah Yas. Mana berani gue marah sama atasan gue. Bisa di berhentikan secara tidak hormat gue ha ha ha"
"Aahh sue lo"
__ADS_1
"Ha ha ha ha"
***