
"Aaahh iya gak apa-apa Rosa. Tapi nanti sekali-kali mampir yah ke butik tante" pinta tante Melani yang tak menyerah. Pantas Hari bersikap demikian ternyata menurun dari sang ibu.
"Kak Rosa juga nanti main ke rumah lagi yah. Sekarang Bulan udah punya kamar sendiri lho. Jadi nanti kak Rosa bisa nginep dan tidur sama Bulan" kata Bulan dengan antusias sekali.
"Kalo kak Rosa punya waktu ya Dek. Kak Rosa banyak pekerjaan soalnya" lagi dan lagi Yuda yang menyahuti setiap pertanyaan dari keluarga Hari.
Hari mengerti dengan sikap sahabat Rosa ini. Karena Hari benar-benar telah menyakiti perempuan yang ada di sebelahnya ini dulu.
"Yaah kak. Di usahakan ya. Emang apa sih pekerjaan kak Rosa?" tanya Bulan polos. Rosa pun memberi kode kepada Yuda untuk dirinya yang menjawab pertanyaan Bulan kali ini.
"Kakak punya beberapa pekerjaan yang enggak bisa di tinggalin. Maaf yah!! " ucap Rosa pelan dan sopan hingga Bulan tak tersinggung dengan jawaban Rosa.
"Aaahh gitu. Sayang banget. Kakak gak usah kerja lagi aja. Biar bang Hari aja yang kerja. Kan sekarang bang Hari udah kerja di perusahaan papa kak" ujar Bulan menatap kakaknya sebentar lalu menatap Rosa kembali dengan senyum.
"Kakak mau kan? Biar kak Rosa jadi kakaknya Bulan lagi dan bisa sering-sering kita ketemunya" lanjut Bulan lagi penuh harapan. Entah ini suatu permintaan atau suatu pernyataan baginya.
Rosa tersenyum tipis karena semakin tidak nyaman dengan keadaan saat itu. Dulu memang Rosa sering di ajak Hari main kerumahnya dan menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama. Bahkan Rosa juga sering membantu Bulan dan pelajarannya yang tak di mengerti. Rosa yang bisa dikatakan cerdas pun dapat di buktikan dengan nilai-nilai Bulan yang sangat baik saat belajarnya di ajarkan oleh Rosa.
"Tante, Hari, Bulan kita berempat udah selesai makannya. Dan kita berempat masih ada urusan bersama. Kita berempat pamit yah" kata Ayyas yang udah gak ingin basa-basi lagi. Tante Melani tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ya sebenarnya tante Melani merasa tak enak hati juga dengan bergabung dalam satu meja makan seperti ini. terlebih mereka baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya.
"Aaahh iya. Maaf yah kalo tante dan anak-anak tante buat kalian enggak nyaman" kata tante Melani dengan jujur. Ke empatnya pun saling bertukar pandang dengan raut wajah yang datar.
"Kita yang harusnya minta maaf karena enggak bisa lama-lama dan nunggu tante selesai makan. Maaf ya tante" sahut Rosa merasa tak enal hati.
"Iya tante mungkin lain kali kita bisa makan bareng lagi" ucap Yuda bohong. Padahal enggan sekali dirinya mau melakukan hal demikian.
"Iya. Tante tunggu yah waktunya. Sebelumnya terima kasih udah kasih kita tempat buat makan. Soalnya tante bener-bener gak nyangka mall ini seramai ini jika makan siang"
__ADS_1
"Aahh iya tante jangan sungkan. Kalau begitu kami pamit yaa" ucap Ayyas lagi langsung pada intinya.
***
"Ros, gue gak bisa bayangin kalo lo punya mertua kayak tante Melani" kata Ayyas setelah mereka berempat keluar dari food court itu.
"Kenapa emangnya? Tante Melani sebenernya baik banget tau" jawab Rosa jujur. Karena sekenal dirinya dengan tante Melani, memang tante Melani sangat baik dan ke ibuan sekali.
"Masih gak bisa move on nih ceritanya?" tanya Rizki yang angkat bicara. Padahal biasanya Rizki yang paling tidak berkomentar banyak.
Rosa pun menoleh dan menatap wajah Rizki. Terlihat jelas dari sorot matanya ada sebuah kecemburuan. Iya Rizki cemburu Rosa mengatakan demikian.
"Kok lo ngegas si Ki?" tanya Yuda melirik Rizki sinis.
"Enggak ah biasa aja kali" jawab Rizki masih dengan nada yang sama dan dengan raut wajah yang sama.
Rosa tersenyum melihat hal itu. Lalu dengan beraninya Rosa menyentuh tangan Rizki dan menggenggamnya.
"Udah move on? Lo lagi deket sama seseorang kah? Serius?" tanya Ayyas tak percaya dengan yang di dengarnya barusan.
"Iya seseorang donk Yas. Masa sesuatu. Lah sesuatu? Sesuatu apaan??" tanya Yuda memutas bola matanya malas sambil memikirkan perkataannya yang gak jelas barusan.
"Gaje lo" teriak Ayyas di wajah Yuda seperti biasanya.
"Gue juga lagi mikir omongan gue barusan. Kok gak nyambung ya"
"Eh tapi kalo lo bisa move sih alhamdulillah Ros. Gue bersyukur banget. Artinya lo gak kejebak kebucinan lagi sama tuh laki-laki" lanjita Yuda menjelaskan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Iya Yud. Insyaallah gue janji gak akan ngebucin lagi kayak gitu. Bakalan mencintai secukupnya supaya gue gak ngerasa sakit hati banget dan kecewa banget kalo di khianatin" kata Rosa sambil sesekali melirik Rizki yang mendengarkan perkataannya secara seksama. Rizki pun membalas genggaman tangan Rosa dengan erat.
"Lo pegangan tangan aja. Kayak mau nyebrang" celetuk Yuda yang melihat tangan Rosa dan Rizki saling genggam.
"Biarin aja si. Lo juga sering genggam-genggam tangan Rosa. Udah biarin aja si Rizki genggam tangan Rosa biar nanti kalo punya cewek gak kaku-kaku banget" sahut Ayyas yang merasa biasa saja dengan sikap Rosa dan Rizki yang berani terang-terangan.
Rosa pun menatap Rizki dengan senyum. Maksydnya supaya gak berpikir melulu tentang dirinya yang belom move on dari Hari.
"Kan gue juga jadi mau genggaman tangan gitu" kata Yuda dengan bibir manyunnya. Sungguh rasanya seperti gak rela bagi Yuda melihat hal itu. Padahal sebelumnya biasa saja.
"Sini" ucap Rosa menggulurkan tangan satunya dengan tangan sebelahnya semakin mengeratkan tangan Rizki. Rosa juga melemparkan senyum kepada Rizki yang sedari tadi menatapnya.
"Yeaaayy" seru Yuda bergembira dan menyambut hangan uluran tangan Rosa.
"Ck. Dasar bocah" gerutu Ayyas sinis.
"Sirik wooo" kata Yuda sambil menjulurkan lidahnya.
"Gak di genggam tuh sama Rosa. Wlee" ledek Yuda lagi.
"Bodo" balas Ayyas dengan cemberut.
"Yang dewasa ngalah ya Yas" kata Rosa berjalan berdampingan dengan Yuda dan Rizki sambil berpegan tangan seperti ingin menyebrang jalan raya.
"Hm" sahut Ayyas sambil berdehem dan mengikuti langkah ketiga temannya.
'Gue bahagia liat lo bahagia Ros. Jangan pernah sedih lagi karena gue gak akan ngebiarin itu. Baik siapa pun nanti yang akan jadi pendamping lo. Entah seseorang yang baru lo kenal, entah seseorang yang lo kenal atau mungkin entah seseorang sahabat lo di antara mereka berdua. Iya, entah Yuda atau Rizki. Mereka adalah orang baik yang gue yakin bisa menjaga lo nantinya' kata Ayyas dalam hati sambil memperhatikan canda gurau ketiga sahabat di depan matanya.
__ADS_1
"Ayyas buruan" panggil Rosa ketika menoleh dan melihat senyum Ayyas kepada mereka.
***