Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
110.


__ADS_3

"Sejujurnya Adel masih mempunyai keluarga. Hanya saja keluarganya tidak tahu akan keberadaannya. Adel juga punya saudara dan salah satu saudaranya sangat baik. Tapi sayang Adel tidak mengetahui kebaikan saudaranya itu" kata Indra dengan menatap Sani lekat. Ingin mengatakan kejujurannya tapi Indra belum berani. Indra takut dan belum siap menerima resiko yang terjadi seandainya Sani mengetahui jika Adel adalah saudara satu darahnya dari papi Roni bersama perempuan lain.


"Kenapa bisa saudaranya tidak mengetahui keberadaannya kak? Biasanya kak Indra menemani dirinya kenapa sekarang kak Indra gak menemaninya lagi? Kasian kak"


"Sekarang ada kamu dan Mika yang harus aku temani dan aku jaga. Kalian berdua adalah tanggung jawabku bukan lagi dia"


"Apa kakak tahu saudaranya itu ada dimana? Biar bagaimana pun saudaranya harus tahu jika Adel sekarang sedang di rawat di rumah sakit kak" kata Sani dengan rendah hatinya. Indra menggelengkan kepalanya perlahan lalu mengikir jarak di antara keduanya. Indra memeluk Sani lembut dan mendaratkan kecupan di puncak kelapa Sani.


"Kamu gak perlu memikirkan dia. Cukup aku dan Mika saja"


"Apa kakak gak kasian sama Adel?" tanya Sani polos.


"Gak perlu kasian sayang. Sudah yah jangan mikirin dia lagi. Oh iya besok siang kita di undang untuk kerumah bule. Apa kamu mau dan gak keberatan?" tanya balik Indra selepas melepaskan pelukannya


"Ada acara apa?"


"Acara makan siang saja. Sekalian sudah lama juga aku gak pernah kerumah bule. Tapi kalau kamu gak mau kesana gak apa-apa" kata Indra yang paham jika Sani masih merasa tidak enak hati dengan sikapnya dulu kepada Rizki, Rosa dan keluarga Rizki. Sani berpikir sejenak lalu menatap suaminya dengan senyum.


"Ayo kita kesana"


***


"Memang kak Rosa gak ada lawan kalo masalah masak memasak. Apa lagi kalo kue buatan kak Rosa. Bikin aku lupa diet. Maunya makan terus, lagi dan lagi tanpa berenti" puji Riana dengan kue yang memenuhi mulutnya itu.


"Istri siapa dulu donk" sahut Rizki dengan bangga.

__ADS_1


"Iya tahu deh yang istrinya sudah balik" cetus Riana dengan Rizki yang menunjukan kebucinannya.


"Semuanya udah siap Ros?" tanya Ibu Titi yang menghampiri anak-anaknya di dapur.


"Sudah bu. Ini mau di letakan dimana?"


"Di meja ruang tamu saja Ros tapi jangan kamu yang bawa kesana. Biar suami dan Riana saja yaah. Kamu sudah cukup bantu-bantunya. Sekarang duduk saja, ibu gak mau kamu kecapean. Kasian cucu-cucu ibu" kata ibu Titi dan di anggukan oleh Rosa.


Tak lama kemudian Indra, Sani, Mika dan Alif datang dalam waktu bersamaan. Indra langsung memeluk adik kandungnya yang selama ini di hiraukan, Indra meminta maaf atas keegoisannya hingga membuat hubungan dengan sang adik merenggang bahkan sampai beberapa waktu tidak saling tegur sapa. Iya betul semua karena kebucinan Indra terhadap Adel saat itu. Indra sampai lupa dengan keluarga.


"Selamat atas pernikahan kak Indra. Maaf aku gak bisa hadir saat itu" kata Alif selepas pelukan Indra merenggang. Indra melebarkan senyum dengan mata yang memerah dan dada yang sesak. Indra semakin sadar bila dirinya sudah salah langkah selama ini dan Indra menyesal akan hal itu.


"Hai kak Sani, Hallo Mika" sapa Alif dengan menoleh kepada Sani dan bayi dalam gendongan Sani. Sani melemparkan senyum dengan anggukan kepala.


"Cantik banget keponakan uncle. Boleh aku gendong kak?" tanya Alif memohon kepada kakak iparnya. Sani menoleh kepada Indra dan Indra menganggukan kepalanya.


Maaf


Iya itulah kata yang di benak Indra saat ini.


"Ini gak mau masuk apa? Keburu dingin makanannya. Ayo ayoo kakak" panggil Riana dengan suara manjanya.


Indra, Sani dan Alif membalas senyum lalu beranjak mengikuti ke ruang makan. Disana sudah hampir lengkap keluarga dari Rizki. Sani merasa di terima sekali di keluarga mantan pacarnya ini. Memang kehangatan keluarga Rizki tidak ada duanya bagi Sani sebab kehangatan keluarga Rizki tidak bisa dirinya rasakan di dalam keluarganya.


Selesai makan siang, semuanya berbincang-bincang. Banyak hal yang keluarga itu ceritakan. Bahkan semua terlihat bahagia pada akhirnya. Mendukung keputusan Indra yang sangat tepat sehingga berhasil membuat rumah tangga Rizki bertahan.

__ADS_1


Hari semakin larut, Indra memutuskan untuk pulang ke kontrakannya begitu juga Rizki dan Rosa yang akan pulang kerumah mama Wina. Ada hal yang tidak di duga dan terjadi begitu saja. Kejadian dengan cepat terjadi dan menyisakan keterkejutan bagi yang melihatnya.


Rizki melepas genggaman tangan Rosa begitu saja dan berlari kecepat mungkin untuk menarik Sani yang sedang menggendong Mika. Rosa membeku ketika di depan matanya melihat kejadian yang sungguh menyesakan dada. Bahkan hampir semua melebarkan matanya saking tak menyangka hal ini terjadi.


Braakkk!!


Itulah bunyi yang terdengar jelas di telinga. Tubuh Rosa melemas bahkan untuk menghampiri tubuh Rizki yang terpental akibat tabrakan mobil itu pun rasanya sulit. Iya, Rizki menjadi korban tabrak lari mobil orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih tepatnya Rizki mengorbankan dirinya sebelum mobil itu menabrak Sani dan juga Mika.


Semua bergegas menghampiri Rizki, Sani dan Mika tapi tidak dengan Rosa yang masih terkejut menelaah apa yang terjadi lalu Rosa memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit bahkan darah segar pun mengalir di kaki Rosa.


"Kak Rosa" panggil Alif yang langsung memegangi tubuh Rosa yang hampir meluruh.


"Aaaw" rintih Rosa mulai terdengar.


"Telpon ambulan" teriak Alif ikut panik setelah melihat darah segar Rosa terus mengalir.


***


"Aahh Sial" umpat seseorang setelah menerima laporan dari anak buahnya.


Salah target adalah hal pertama yang di dengarnya. Emosi tak henti mengebu dalam dadanya. Nafasnya terus naik turun melepaskan amarah dalam benaknya.


"Aaarrrggghhhh" teriaknya dengan memberantakan barang-barang yang ada di dekatnya.


"Anggap ini sebagai permulaan, kamu tunggu saja. Tunggu permainan inti yang akan yang akan aku lakukan. Sial sial sial. Aaarrrggghhhh!!!" teriaknya lagi dengan menjambak-jambak rambutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2