
"Jangan bilang lo...?" tanya Ayyas menatap Yuda semakin sinis.
"Bilang apa?" jawab Yuda balik.
"Lo tau Rosa selama ini Rosa ada dimana kan?" tanya Ayyas dengan mencondongkan badannya melihat detail gerak gerik Yuda yang sangat terlihat tenang dan santai.
Yuda membalas tatapan Ayyas dengan tatapan sangat menantang. Yuda tersenyum kecil lalu menganggukan kepalanya.
"Dasar gila. Brengsek lo!! Kalo Rosa sama lo kenapa lo gak ngabarin gue atau mama Wina? Jangan-jangan lo ngambil kesempatan dalam kesempitan? Begitu? Secara perasaan lo gak pernah hilang atau pun berubah sama Rosa" tuduh Ayyas tak terima, Yuda pun tak menampik apa yang di katakan sahabatnya. Ayyas sudah mencari Rosa hampir frustasi tapi nyatanya Rosa bersama Yuda selama ini. Jadi emang tak heran jika akses menemukan Rosa semakin susah karena Yuda pasti dan sudah sangat jelas memberikan pengamanan ketat kepada sahabat perempuannya itu.
"Lo yang brengsek. Sudah tahu Rosa ada masalah, bukannya bantu selesaiin dulu malah bantu bikin dia kabur. Rasain lo kelimpungan nyariin Rosa gak ketemu. Gak lo gak sahabat lo sama saja. Dan sekarang enak banget lo bilang gue ngambil kesempatan dalam kesempitan? Heh? Lo waras ngomong itu sama gue? Dan untuk masalah perasaan gue, gak usah lo bawa-bawa dalam masalah Rosa. Kalo ada orang yang denger bisa jadi salah paham dan berakhir fitnah" kata Yuda masih dengan santai dalam posisi duduknya.
"Harusnya lo kabarin gue Yud. Harusnya lo kasih tahu gue tentang keberadaan Rosa, Aaaakkkhhhh gue kesel sama lo!!" gumam Ayyas merasa kesal seperti anak kecil.
Tok tok tok
"Permisi pak" sapa sekretaris Ayyas mengetuk pintu, Ayyas dan Yuda melihat ke arah pintu masuk dan menganggukan kepalanya. Sekretaris Ayyas pun segera masuk dan memberikan pesanam minum serta cemilan untuk keduanya.
"Terima kasih" kata Yuda yang langsung mengambil minum dan menengaknya hingga setengah.
"Heh lo..." ujar Ayyas dengan menautkan kedua alisnya, Yuda pun membalas dengan ekspresi yang sama.
"Apa?" sahut Yuda menantang.
"Terus sekarang Rosa dimana?".
__ADS_1
"Kalo sekarang gue gak tau. Tapi kalo semalem ada dirumah mama Wina. Gue anter ke rumah mama Wina" jawab Yuda lalu meroggoh ponsel di saku celanannya.
Yuda menyambungkan sambungan telepon ke nomor telepon Rosa dan dalam deringan pertama sambungan telepon pun tersambung.
"Assalamualaikum Yud, Hallo" salam Rosa terdengar jelas karena Yuda meloudspeaker sambungan teleponnya.
Ayyas terkejut karena Rosa merespon Yuda begitu cepat sedangan dirinya dulu sama sekali tak di respon sama sekali.
"Waalaikumsalam Ros. Gimana tidur lo nyenyak?" balas Yuda dan melirik ke Ayyas dengan mata yang menyipit. Sudah sipit makin sipit Yas hohoho.
"Alhamdulillah Yud. Lo sendiri gimana? Nyenyak juga?" tanya Rosa balik.
"Alhamdulillah gak usah di tanya. Btw lo lagi dimana? Gue mau video call boleh?"
"Lagi di jalan. Sebentar lagi mau sampe tujuan Yud. Tumben mau video call pake izin segala ha ha ha"
"Sampe tujuan ke ...." jawab Rosa terputus.
Ceklek
Yuda dan Ayyas bersamaan menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati Rosa yang berdiri disana dengan senyum melengkung manisnya.
"Sampe ke ruang kerja sahabat gue sekaligus bos gue. Ehh bos gue? Mantan bos gue maksudnya Yud" lanjut Rosa dengan melangkah perlahan menghampiri Yuda Dan Ayyas.
Ayyas dengan memanyunkan bibirnya lalu beranjak berdirii dan segera menghampiri Rosa dan memeluk Rosa dengan erat. Rindu? Iya bahkan sangat hingga Ayyas tanpa terasa menumpahkan kerinduannya dengan air mata yang membasahi kain di bahu Rosa.
__ADS_1
"Hisk" terdengar tangis Ayyas yang masih memeluk Rosa. Rosa tersenyum dengan mengelus punggung lebar Ayyas. Rosa sama merasakan rindu seperti Ayyas namun Rosa hampir tak percaya jika Ayyas bisa sampai menangis seperti ini di pelukannya.
"Baru liat kalo sahabat gue yang sipit ini cenggeng. Gue kira sahabat gue ini yang paling tangguh secara kalo sudah ngomong bacot atau conggornya susah terkendali" kata Yuda yang masih dengan posisi duduknya.
"Diem lo" sahut Ayyas manyun melepas pelukannya dan melirik Yuda sinis.
"Ups" ucap Yuda merapatkan bibirnya lalu memutar bola matanya malas.
"Lo tahu gak sih gue khawatir banget sama lo? Bisa-bisa lo gak kasih kabar gue padahal lo janji sebelum lo pergi bakal terus kabarin gue tapi apa lo malah menghilang tanpa jejak sama sekali. Gue takut Ros, gue takut banget terjadi sesuatu sama lo. Terlebih gue orang yang mendukung keputusan lo pergi saat itu. Hisk. Jahat banget lo sama gue Ros. Hisk hisk hisk hisk" terang Ayyas meluapkan isi hatinya.
Ayyas merasa lega karena beban pikirannya lepas begitu saja saat melihat Rosa ada di hadapannya saat ini. Seperti mimpi tapi alhamdulillah nyata.
Rosa ikut meneteskan air matanya melihat kejujuran dan keluhan isi hatinya. Kali ini Rosa melihat sisi Ayyas yang berbeda. Rosa juga merasa bersalah karena berusaha kabur dalam masalahnya malah membuat beban pikiran sahabatnya.
"Yas pegel. Duduk dulu" kata Rosa yang berjalan lalu duduk di hadapan Yuda.
"Lo sama Yuda sama saja isshhkk. Ganggu moment aja" gerutu Ayyas tapi mengikuti Rosa dan duduk di sebelah Rosa.
***
"Kamu tahu apa maksud saya mendatangi kamu?" tanya papi Roni langsung kepada Rizki di dalam ruang rawat ibu Titi. Rizki menghimpitkan keningnya bingung karena memang Rizki sama sekali tidak tahu maksud kedatangan papi mantan pacarnya ini. Terlebih kedatangan papi Roni bisa di bilang seperti tidak sopan karena kondisi ibu Titi sedang dirawat.
"Hmmm, maaf pak sebelumnya. Saya tidak mengerti maksudnya apa. Pak Roni ada keperluan apa mendatangi anak saya. Karena setahu saya pak Roni ini bukanlah orang yang mudah di temui tetapi kali ini malah menemui anak saya. Apa ada hubungan dalam masalah pekerjaan?" tanya ibu Titi yang duduk bersandar brankarnya. Kondisi ibu Titi sudah membaik dari sebelumnya tapi masih membutuhkan perawatan agar bisa kembali sehat seperti sedia kala.
"Saya ingin anak ibu menikahi anak saya. Sani" jawab papi Roni dengan lantang dan tanpa ekspresi. Sebegitu angkuhnya kah? Iya memang begitu sepertinya.
__ADS_1
Ibu Titi melebarkan matanya lalu menatap papi Roni dan Rizki secara bergantian. Rizki juga sama terkejutnya dengan ibu Titi, sebab tidak ada angin tidak ada hujan mereka kedatangan papi Roni dan tiba-tiba meminta Rizki menikahi anaknya. Padahal sudah sangat jelas hubungan Sani dan Rizki telah berakhir sangat lama.
"Menikahi? Mohon maaf pak. Anak saya Rizki sudah menikah dan mempunyai istri. Tidak sepantasnya bapak meminta anak saya menikahi anak bapak. Terlebih anak saya dan anak bapak hubungannya sudah berakhir lama. Bahkan lama sekali" kelah ibu Titi tak habis pikir