Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
77. Terima Kasih


__ADS_3

Rizki diam dan tak menjawab apa yang dikatakan Sani. Padahal yang di katakan Sani benar adanya. Rizki memilih pergi karena tak mau masalahnya semakin kacau.


Sani menangis lagi menatapi Rizki yang pergi hingga tak terlihat lagi dalam pandangan matanya. Sampai beberapa menit Sani pun mengendalikan diri lalu beranjak menemui Sena yang masih tak sadarkan diri.


Rosa pun sudah jauh lebih tenang setelah menumpahkan kesedihannya kepada Deby. Meski Rosa masih enggan mengatakan apa yang terjadi tapi Rosa yakin Deby akan tahu dengan sendirinya. Lah kok gitu? Emang Deby cenayang Ros?


Rosa tersenyum setelah dirasanya sesaknya sudah mulai membaik. Deby dan Ayyas sangat setia menemai Rosa yang memang di bilang lagi sensitif saat ini.


"Terima kasih Deb. Terima kasih Yas" ucap Rosa dengan senyum tipisnya.


Ayyas dan Deby menganggukan kepala dengan membalas senyum Rosa juga. Dan tangan Deby pun masih menggenggan tangan Rosa seolah masih memberikan ketenangan disana.


"Gak usah sungkan Ros. Ayyas udah anggap kamu sebagai adiknya sendiri begitu pun dengan mama dan ci Alina ke kamu udah menganggap kamu saudara dan sudah jelas kamu saudara, sahabat serta adik aku. Aku dan Ayyas akan berusaha untuk ada untuk kamu. Jangan sedih lagi yah. Meski aku belum tahu apa yang terjadi tapi aku yakin kamu perempuan kuat yang tangguh dan bisa menghadapi masalah kamu. Inget masih ada aku dan Ayyas yang siap dan selalu ada untuk kamu" jelas Deby dengan penuturan sangat lembut dan membuat Rosa menghangat nyaman.


Rosa mengangguk mengerti apa yang di katakan Deby lalu merentangkan tangannya meminta di peluk Deby lagi. Deby pun berhambur lalu memeluk Rosa dengan erat sambil meneluk-nepuk punggung Rosa.


"Aku ikutan boleh?" kata Ayyas dan di anggukan keduanya. Mereka bertiga pun berpelukan bak telutubies yang melepas rindu.


Ceklek


Rizki membuka pintu ruang rawat inap Rosa terpaku dengan pemandangan ketiga manusia sedang berpelukan. Sedikit memanas karena terlihat Ayya dan Rosa ada dalam pelukan tersebut meski tak terlalu erat hanya Rizki merasa tak boleh ada yang boleh menyentuh Rosa selain dirinya.


Ketiga manusia ini pun diam tak beraksi apa pun meski mengetahui ada Rizki yang baru masuk di dalamnya. Sungguh Rizki di cuekin sekali disana.


"Ehem" kata Rizko dengan berdehem namun ketiganya masih enggan melepaskan pelukan yang sangat nyaman ini.

__ADS_1


"Ikutan donk" kata Rizki menghampiri dan hendak memeluk juga namun ketiganya serempak melepaskan pelukan bersamanya.


"Lah kok udahan?" kata Rizki lagi sedikit kecewa.


Ayyas, Deby dan Rosa saling melempar pandang dan memperhatikan Rizki tanpa bersuara.


"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Rizki yang juga memperhatikan tubuhnya takut ada yang mengganggu.


"Gak Ki. Enggak ada yang aneh" jawab Ayyas datar. Sungguh Ayyas sulit menyembunyikan sikap yang biasa-biasa saja karena hatinya masih kecewa dengan Rizki beberapa waktu lalu. Ingin sekali melayangkan bogeman di wajah tampan suami Rosa ini.


"Yaudah Ros, kamu istirahat yah" kata Deby lalu mendekati Ayyas.


"Iya Ros. Jangan lupa makannya di abisin biar cepet pulih. Kalo mau apa-apa kabarin gue ya. Gue langsung cus kalo lo butuh gue he he he" kata Ayyas dengan gaya khasnya.


"Yaudah dah" lanjut Deby berlalu meninggalkan ruang rawat inap Rosa. Deby hanya melemparkan senyum kepada Rizki lalu berlalu jalan mengandeng lengan Ayyas. Ayyas sendiri cuek dan tak mau menatap sahabatnya yang sudah menyakit sahabatnya juga, nah gimana si?


Rizki membalas senyum Deby namun Rizki bingung dengan perubahan ekspresi wajah Ayyas yang seolah tak ingin melihat wajahnya bahkan seperti ada sebuah kemarahan dari sorot matanya. Ada apa? Pikir Rizki saat itu. Tapi Rizki menghiraukannya lalu berfokus kepada Rosa yang hendak merebahkan kembali tubuhnya. Rizki dengan sigap membantu Rosa tapi Rosa diam saja dan langsung memejamkan matanya setelah dirinya sudah terbaring sempurna.


"Istirahat ya sayang. Maaf aku lama sampa kamu sekarang harus tidur lagi" kata Rizki membenarkan selimut sampai dada Rosa meski Rosa tidurnya tiba-tiba memunggung Rizki. Tak masalah bagi Rizki asal Rosa merasa nyaman saat ini. Padahal tidur miring dan membelakangi Rizki saat ini membuat kening Rosa yang ada jahitannya itu berdenyut dan terasa sangat nyeri tapi Rosa menahannya karena rasa nyeri dan sakitnya tak sebanding dengan hati dan perasaannya saat ini.


Rosa pun menyembunyikan foto hasil usg dan buku pink ibu hamil miliknya dan sebelumnya telah dirinya titipkan kepada Ayyas untuk menyimpan itu.


***


"Sayang kamu gak mau jujur sama aku?" tanya Deby berbisik setelah keluar dari ruang rawat inap Rosa.

__ADS_1


"Rosa minta aku buat gak kasih tau kamu dan suaminya. Tapi kamu harus tau ini" jawab Ayyas sambil memberikan buku pink kehamilan Rosa dan juga foto hasil usg Rosa. Deby membaca dengan seksama dan melebarkan matanya.


"Buku kehamilan? Buku siapa? Kamu selingkuh?" tanya Deby dengan memajukan bibirnya. Ayyas merasa lucu dengan ekapresi Deby barusan sehingga Ayyas mengikir jarak wajahnya dengan wajah Deby dan ..


Cup


"Itu calon keponakan kita sayang" jawab Ayyas setelah mengecup bibir Deby sekilas.


"Keponakan? Ci Alina hamil lagi?" tanya Deby yang masih belum mengerti. Padahal sebenarnya Deby orang yang mudah mengerti dan peka lho sebelumnya tapi kalo bersama Ayyas otaknya menjadi lola alias loading lama.


"Rosa sayang bukan ci Alina" jawab Ayyas dengan mencubit pipi Deby pelan.


"Puji Tuhan, ini punya Rosa sayang? Ihks seneng banget aku. Eehh tapi bentar-bentar..." ucap Deby sambil menghentikan langkahnya dan mencoba berpikir sejenak.


"Kenapa?" tanya Ayyas pelan.


"Tapi kok tadi ekspresi kalian kayak gitu sayang. Dan apa Rizki belum tau ini?" tanya Deby balik bingung. Ayyas hanya tersenyum tipis dan jelas Deby yakin jika ada sesuatu yang terjadi antara Rizki dan Rosa dan hanya Ayyas yang mengetahui hal itu.


"Nanti aku kasih taunya kalo Rosa memang mengizinkan ya sayang. Maaf bukannya aku gak mau terbuka sama kamu tapi aku juga harus menjaga perasaan Rosa saat ini. Saat ini Rosa hanya punya kita yang dekat dengan dirinya. Kamu ngerti kan?" ucap Ayyas pelan memberikan pengertian agar Deby tidak salah paham. Deby menganggukan kepala dan percaya dengan akan yang dikatakan Ayyas meski dalam pikirannya sedang bertanya-tanya ada apa.


"Iya sayang. Aku yakin nanti Rosa akan cerita dengan sendirinya sama aku. Aku juga gak maksa kamu untuk cerita"


"Terima kasih, terima kasih udah mau mengerti" kata Ayyas tulus lalu menggenggam tangan Deby dengan erat sambil berjalan ke ruang kerjanya.


***

__ADS_1


__ADS_2