
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Pekerjaan Rosa berangsur sedikit lagi selesai bahkan hampir selesai. Iya Rosa ngebut dalam mengerjakan laporannya. Di temani Ayyas dan Deby di dalam ruangannya membuat dirinya semakin bersemangat. Terlebih ada bahan yang membuatnya tiba-tiba tertawa dengan sikap Ayyas yanh sering kali absurd bahkan konyol kepada calon istrinya.
Untung sayang jadi Deby nerima Ayyas dengan senang hati. Kalo enggak mungkin Ayyas sudah di lemparkan ke Samudra Pasifik atau Kali Cisadane?
"Sayang" panggil Ayyas ambil mendekati Deby yang tengah duduk di sofa ruangan tersebut. Ayyas melemparkan senyum lebarnya lalu membaringkan tubuhnya di pangkuan Deby dengan kepala berada di atas paha Deby.
"Capek yah?" tanya Deby pelan sambil membelai rambut Ayyas. Ayyas menganggukan kepalanya dengan mata terpejam menikmati belaian rambut dari Deby.
"Kamu udah selesai Ros?" tanya Deby dalam posisinya.
"Sebentar lagi Deb. Kamu pulang duluan aja gak usah nunggu aku"
"Gak bisa gue ninggalin lo sendirian. Setidaknya gue anter lo ke suami lo dulu baru gue pulang sama Deby" kata Ayyas dengan mata terpejamnya.
"Gue gak mau ngerepotin lo Yas"
"Dih apaan lo. Biasanya emang gak ngerepotin? Malahan sampe rumah malah gue anterin lo nya"
"Ha ha ha gak gitu juga Yas. Beda sekarang mah" kelah Rosa beralasan.
"Iya emang beda yang udah nikah mah. Udah ada sopir pribadinya jadi sok sok 'an bilang ngerepotin"
"Deb tolong sumpel donk mulut calon suami lo itu. Lemes banget jadi laki!" protes Rosa yang di buat emosi seharian oleh Ayyas.
"Sensi banget lo. Dikit-dikit ngegas, dikit-dikit ngegas. Lagi dateng bulan apa kurang jatah dari Rizki" kata Ayyas tanpa filter. Baik Rosa dan Deby saling bersemu merah. Deby pun segera mencubit gemas pipi Ayyas hingga Ayyas merintih kesakitan.
"Awww sakit sayang. Kenapa aku di cubit?" tanya Ayyas polos lupa dengan apa yang di ucapkan barusan.
"Kamu punya mulut gak bisa di jaga sedikit? Gak gitu juga kali. Wajar kalo Rosa sensi. Ini kan akhir bulan, kerjaan dia banyak, kerjaan kamu dilimpahkan ke dia, dia juga yang ngerjain. Kamu lupa dia baru nikah dua hari lalu? Justru kamu yang kesannya gak tau diri ambil jatah libur dia buat laporan akhir bulan ini" sarkas Deby menerangkan kebenarannya. Memang cuma Deby yang bisa bikin Ayyas diam dan tak berkata seenaknya lagi.
__ADS_1
"Syukurin" umpat Rosa pelan sambil terkekeh kecil. Tak lama dari itu terdengar suara ketukan pintu.
"Malam mbak Rosa. Maaf ini pesanan nasi gorengnya" kata Icha dengan sopan kepada Rosa. Rosa mengangguk pelan dengan tersenyum.
"Makasih ya Ca"
"Sama-sama mbak. Saya permisi dulu" pamit Icha mengundurkan diri. Icha memberikan pesanan nasi goreng Rosa yang rencananya akan diberikan kepada suaminya. Iya suaminya yang kini tengah lembur karena urusan mendadak.
"Kamu siap-siap pulang ya Ca. Saya juga udah mau pulang" kata Rosa lagi kepada staff pembantunya. Icha menganggukan iya lalu berlalu meninggalkan ruang kerja Rosa.
Merasa telah membereskan meja kerjanya, Rosa pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Ayyas yang masih nyaman di pangkuan Deby.
"Pak Ayyas masih mau disini sama bu Deby atau mau pulang sekarang?" tanya Rosa dalam mode lembut.
Ayyas mengerjapkan matanya lalu menatap sahabatnya sinis. Deby yang menyadari tatapan Ayyas langsung Ayyas hingga tak menatap Rosa seperti itu lagi.
"Aku colok nih matanya" gumam Deby mengacam dan memasang wajah cemberut.
"Rosa sahabat aku. Kamu lupa? Dia temen baik aku dari kuliah sampe sekarang?" kata Deby yang belum menurunkan nada bicaranya.
"Jangan marah-marah lagi yah nanti cantiknya ilang lho" bujuk Ayyas tapi di hiraukan Deby.
"Bangun buruan. Pegel tau" pinta Deby dan dengan segera Ayyas bangun dari pangkuan Deby dari pada nanti Deby marah lagi kan?
"Ayo Ros" ajak Deby lalu menarik tangan Rosa untuk berjalan keluar dari ruang kerjanya. Rosa menurut sambil menjulurkan lidah ke Ayyas karena Deby merajuk dengan sikap dirinya kepada Rosa.
"Sayang. Yang sayang. Kok aku di tinggal" ujar Ayyas melas.
***
__ADS_1
"Thanks ya Yas, Deb udah anterin gue ke kantor Rizki" kata Rosa saat hendak turun dari mobil yang Ayyas kendarai.
"Sama-sama. Salam yah buat Rizki" balas Deby dengan senyum manisnya.
"Iya Ros. Salam ya sama suami lo. Oh iya makasih juga udah mau masuk kerja hari ini. Kalo gak ada lo mungkin gue bisa ngineo malem ini kali yah" ucap Ayyas sambil membayangkan hari closingan akhir bulan tanpa Rosa.
"Iya Yas, sama-sama. Yaudah gue masuk dulu ya. Kalian berdua hati-hati di jalan. Kabarin kalo udah sampe tujuan ya. Anak orang anterin ke rumahnya ya Yas"
"Iya" balas Ayyas mulai melirik sinis dan Deby langsung melotot menatap Ayyas. Ayyas ngengir kuda dan mengubah ekspresi wajahnya agar tak seperti tadi.
Rosa berjalan menuju resepsionis yang masih ada disana. Rosa tersenyum ramah begitu pula Hana, resepsionis kantor Rizki.
"Malam mbak Rosa, eh bu Rosa" sapa Hana ramah.
"Malam Han, jangan panggil ibu. Panggil seperti biasa saja" kata Rosa sambil mengulas senyum kepada Hana.
"Aah iya maaf bu eh mbak. Mbak Rosa mau ke ruangan pak Rizki? Tapi di dalam ruangan pak Rizki masih ada tamu"
"Tamu?" tanya Rosa merasa tak enak hati karena datang di waktu yang tak tepat.
"Iya mbak tamu. Tamunya mbak Sani" jawab Hana merasa tak enak hati karena memang Hana tau jika Sani adalah mantan kekasih atasannya ini. Rosa tak terkejut hanya heran saja. Ini kedua kalinya Rosa menghampiri Rizki di kantor dan di saat bersamaan Rizki selalu mendapati tamu yang tak lain adalah Sani.
"Eemm saya boleh langsung keruangan pak Rizki? Apa mereka ada pembicaraan serius? Atau mungkin ada urusan kerja sama?" tanya Rosa tiba-tiba penasara. Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hana mengerti karena Rosa kini istri dari atasannya jadi wajar bertanya demikian karena yang mengunjungi suaminya adalah sang mantan kekasih suami.
"Bukan urusan kerja mbak. Setahu saya tidak ada masalah pekerjaan yang berhubungan dengan mbak Sani. Heemm baiknya ibu langsung masuk saja ke dalam ruangan. Biar saya antar bu" kata Hana sambil menawarkan diri namun Rosa menggelengkannya dan menolak secara halus.
"Saya sendiri saja. Gak apa-apa. Kamu juga mungkin masih ada kerjaan. Selesaikan dulu saja" ucap Rosa lalu permisi meninggalkan Hana dan melangkahkan kaki perlahan ke ruangan Rizki.
Beruntung pintu tidak tertutup rapat hingga Rosa masih bisa jelas mendengar apa yang di bicarakan di dalam sana.
__ADS_1
"Aku tau kamu masih ada perasaan sama aku. Jadi apa salahnya kalo sekarang aku minta kamu nikahin aku?"