
"Memang seharusnya nak. Suami sudah seharusnya dan sepatutnya menyayangi sang istri seperti itu, selalu bersikap lembut bahkan bukan hanya sikap melainkan tutur kata juga. Dan semua itu ibu lihat dari cara mas Rizki bersikap kepada kak Rosa. Makanya ibu sangat setuju sekali saat kalian mengusulkan kak Rosa sebagai pendamping hidupnya mas Rizki. Dan satu hal yang gak boleh terlupakan dari kak Rosa. Saat itu kak Rosa membantu keluarga kita. Saat kak Rosa dulu belum seperti sekarang yang udah punya apa-apa mau membantu kita yang susah. Kak Rosa yang membayar biaya rumah sakit mbak kamu. Mbak Riana. Mungkin kalau bukan karena kak Rosa, mbak Riana gak tau apa sekarang masih hidup atau enggak. Operasi mbak Riana saat itu sangat menentukan kehidupannya. Sekarang ibu bersyukur dan sangat bersyukur nak" jelas ibu Titi mengingat kejadian dulu.
"Semoga Riyan bisa menemukan perempuan seperti kak Rosa. Cantik parasnya, cantik juga hatinya. Bahkan bisa menaklukan hati mas Rizki yang dingin. Yang cueknya masya allah, yang introvertnya luar biasa, dan kak Rosa juga mampu membawa mas Rizki mempunyai dua sahabat yang sama baiknya kayak kak Rosa. Beruntung ya bu. Bener-bener beruntung"
"Ya Allah semoga anak ibu yang bungsu ini di masukan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin" kata ibu Titi sambil berdoa dengan tersenyum.
"Aamiin" sahut Riyan membalas senyum sang ibu.
"Dasar bucin" seru Rania yang masih memberesi pakaiannya.
"Iri bilang bos" sahut Rizki sambil mengurai pelukannya.
"Udah udah. Berantem aja nih kerjaannya. Gak malu kalian sama Rosa? Hah? Udah Rizki kamu ajak Rosa ke kamar. Kalian istirahat aja. Eh tapi sebelumnya kalian udah makan?" kata ibu Titi bertanya borongan.
"Udah bu. Tadi sebelum pulang kita sarapan dulu di hotel" jawab Rizki menurunkan suaranya dan sopan.
"Yaudah kalo gitu. Kalian ke kamar aja. Istirahat. Pasti masih capek karena acara kemarin. Nanti jam makan siang turun turun ya. Ibu akan masak spesial buat menantu ibu"
"Te-terima kasih banyak bu. Gak usah repot-repot" kata Rosa malu dan gak enak hati.
"Gak repot sayang. Yaudah istirahat dulu yah" ucap ibu Titi dengan senyum lembut kepada memantunya. Rizki pun langsung membawa Rosa menaiki anak tangga dengan tangan Rosa yang masih di genggamnya.
Setelah masuk ke dalam kamar Rizki, Rosa tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke setiap ruang di sudut kamar Rizki. Rosa tersenyum setelah matanya terhenti pada satu figura yang dipajang di meja nakas dekat tempat tidur. Foto Rosa dan Rizki berdua disana. Di dekatkan lalu di lihat dengan jelas kapan foto itu di ambil.
Dan ternyata foto saat mereka masih SMA, Rizki menyimpan dan memajangnya dekat dari tempat tidur yang mana akan selalu terlihat kala akan tidur dan bangun tidur. Di pegang figura itu lalu di balik karena terlihat ada sebuah tulisan disana.
'I love you More' begitulah tulisan yang sudah terlihat usang karena sepertinya sudah lama juga di tulisnya.
Rosa tersenyum melihatnya. Merasa tak percaya dengan suami yang sudah lama menyimpan perasaan kepada dirinya. Padahal suaminya pernah menjalani hubungan dengan perempuan lain sebelumnya. Apa itu artinya perasaan suaminya tak pernah hilang kepada dirinya? Entah, yang pasti Rosa merasa bahagia.
__ADS_1
"Kamu liat apa sayang?" tanya Rizki setelah menaruh koper mereka dan menghampiri Rosa yang masih berdiri di samping kasur milik Rizki.
Kini Rizki tersenyum malu dengan wajah yang sudah merona. Yah ketahuan deh. Rizki langsung mengikari perut ramping Rosa dan mengeratkan tangannya disana.
Membenamkan wajahnya di bahu Rosa dan sesekali menggesekan hidung mancungnya disana. Tak lupa Rizki menghirup lama-lama harum tubuh sang istri.
"Ngapain sih? Geli" protes Rosa sambil mengangkat ke atas kedua bahunya. Bukannya berhenti Rizki malah menaruh dagunya di bahu Rosa hingga pipi mereka saling bersentuhan.
"Hei, kenapa?" tanya Rosa dengan kondisi Rizki memeluknya dari belakang. Namun Rizki hanya menggelengkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya.
"A-aku nanya lho" ucap Rosa yang masih dalam posisinya.
"Biarin kayak gini dulu. Aku malu dengan figura yang kamu pegang" jawab Rizki jujur. Karena ini kali pertamanya masuk ke dalam kamarnya dan melihat langsung foto dirinya ada di sebelah kasurnya.
"Malu? Kenapa? Katanya gak boleh malu-malu"
"Ini beda malunya sayang"
Cup
"Kalo gini gak malu" jawab Rizki setelah mencium pipi Rosa dan tersenyum lebar menghiasinya. Rosa menoleh hingga pandangan mereka saling bertemu sangat dekat. Rizki pun langsung mengurai pelukannya dan membenarkan posisi mereka saling berhadapan.
"Kenapa kamu senyum liat foto kita?" tanya Rizki sambil memegangi kedua bahu Rosa.
"Tulisannya" jawab Rosa lembut.
"Sejak kapan kamu berkata itu? Tulisan itu kayaknya udah lama banget Ki eh Mas"
"Iya udah lama sayang. Fotonya juga udah lama banget itu. Apa mau kita foto-foto lagi kayak gitu?"
__ADS_1
"Kamu mau?" tanya Rosa balik. Rosa tersenyum lalu memeluk Rosa kembali.
"Mau kalau kamu mau"
"Eh sebentar, ini kan kata kamu tulisannya udah lama, Berarti kamu punya perasaan sama aku udah lama juga?" tanya Rosa ingin tahu. Rizki menganggukan kepalanya pelan dengan membelai rambut Rosa.
"Hm" katanya sambil berdehem.
"Tapi foto itu kan waktu kita SMA dan waktu SMA sampe awal kuliah kamu pacaran sama Sani" jelas Rosa mengingat kisah asmara lalu suaminya.
"Aku pacaran sama dia buat nutupin perasaan aku ke kamu" jawab Rizki jujur.
"Hah? Jahat donk kamu berarti yah?" kata Rosa yang tak habis pikir, Rizki bisa menjalani hubungan dengan perempuan lain namun tak ada perasaan padahal cukup lama Rizki menjalin asmara dengan Sani.
"Enggak tuh. Kan akhirnya Sani yang ninggalin aku karena aku gak punya apa-apa makanya dia sampe milih laki-laki lain. Dia lho yang jahat, dia selingkuh" sarkas Rizki membela dirinya sendiri.
"Kamu juga salah donk. Kan kamu gak ada rasa sama dia jadi wajar dia selingkuhin kamu".
"He he he he udah ya itu kan masa lalu. Masa depan aku sekarang itu kamu. Jadi gak usah bahas yang lalu-lalu ya" pinta Rizki lalu mengurai pelukannya. Rosa menganggukan kepala lalu tersenyum menatap wajah suaminya yang semakin terlihat aura ketampanannya.
Ponsel Rosa pun berdering menandakan ada pesan masuk, Rosa segera meraihnya dan membuka isi pesan tersebut sambil mendudukan bokongnya di tepi kasur.
Dari : +628121611....
Assalamualakum Rosa.
Hai apa kabar? Boleh kita ketemu?
Rosa menghimpitkan kedua alisnya saat membaca pesan masuk tersebut. Sudah bisa dirinya tebak jika itu adalah Hari yang mengirimnya. Meski sudah tak menyimpan nomer ponsel sang mantan pacar tapi Rosa masih mengingat itu nomer ponsel Hari yang mana Hari masih menggunakan nomer ponsel yang sama dari dulu.
__ADS_1
"Siapa sayang?"