
Bulan hanya menyimak ucapan orang tuanya yang bisa di bilang cukup serius. Namun Bulan tetap fokus kepada sarapannya ini.
"Baiklah pah. Mama mengerti. Semoga Hari segera bisa mendapatkan hati calon istrinya. Karena boleh jujur mama juga menginginkan perempuan itu menjadi menantu mama" kata mama Melani dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Papa Aji menoleh menatap kecantikan istrinya yang tak memudar meski sudah berusia lanjut. Papa Aji mengkerutkan keningnya seolah bertanya maksudnya?
"Maksud mama? Siapa perempuan yang mama maksud?" tanya papa Aji penasaran.
"Nanti jika sudah waktunya papa akan tahu sendiri siapa perempuan itu. Yang pasti perempuan itu perempuan baik-baik dan tulus orangnya"
"Mama kenal dengan perempuan itu?" tanya papa Aji lagi dimana jiwa keingintahuannya sedang menggebu-gebu. Mama Melani menganggukan kepalanya dan tersenyum. Begitu juga dengan Bulan yang mengangkat kepalanya dan menatap kedua orangnya seperti mengerti maksud dari mamanya itu.
"Bulan juga setuju kalo bang Hari dengan dia" celoteh Bulan dengan senyum manisnya dan membuat sang papa cukup terkejut.
"Bulan juga tau siapa perempuan itu?" tanya papa Aji kepada anak bungsunya. Bulan mengangguk cepat lalu menyantap kembali sarapannya.
"Siapa? Kenapa hanya papa yang gak tau? Waahh kalian bersengkokol yah?"
Mama Melani dan Bulan hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan sang papa yang sangat ingin tahu.
***
Hari demi hari berganti dengan manisnya. Kedua pasang pengantin baru ini benar-benar sangat menikmati masa kebersamaannya. Hingga tanpa mereka sadari jika mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama Yuda. Iya Yuda, kemana dia?
Dan juga Hari yang selalu sibuk dengan pekerjaannya namun tak lupa selalu mencoba mengirimi pesan kepada Rosa meski tak pernah di balas.
__ADS_1
"Kenapa gak pernah balas Ros? Apa aku sudah tidak ada di hati kamu lagi? Tapi apa iya? Sedangkan kamu sampai saat ini belum punya pengganti aku?" gumam Hari yang masih belum mengetahui kebenarannya dengan memandang foto Rosa di layar ponselnya.
"Kalo Rosa gak bisa di hubungi lewat pesan atau telpon. Alangkah baiknya gue menemuinya secara langsung dan terus menerus. Gue yakin lambat laun Rosa akan luluh dengan kegigihan gue yang serius mengajaknya menjalin hubungan lagi" tekad Hari merencanakan cara agar bisa lebih dekat lagi dengan Rosa.
Hari bergegas segera menyelesaikan pekerjaannya yang sangat banyak menyita waktunya ini. Meski belum sepenuhnya menjadi pimpinan perusahaan tetapi papa Aji sudah melimpahkan banyak pekerjaan kepada dirinya. Guna saat papa Aji melepaskan pekerjaannya Hari tak akan kaget dan sudah terbiasa.
Selepas menyelesaikan semua pekerjaannya, Hari melirik jam tangannya dengan lengkungan senyum menghiasi sudut bibirnya. Hari berencana akan menemui Rosa di rumah sakit tempat kerja Rosa. Hari yakin jika Rosa masih berada di rumah sakit terlebih ini masih dalam jam kerja pada umumnya.
Tanpa berpikir lagi, Hari segera melenggang menuju tujuannya. Dan tiba lebih awal dari perkiraannya. Tak lupa Hari mampir ke toko bunga dan membelikan sebuket bunga mawar merah kesukaan Rosa.
"Semoga Rosa mau nemenuin gue dan semoga masih ada kesempatan buat gue memperbaiki semuanya" kata Hari lalu melangkahkan kakinya memasuki lobby rumah sakit.
Ditanyanya resepsionis dimana Rosa berada dan juga sang resepsionis mengkonfirmasi jika ada tamu yang hendak menemui dirinya. Rosa menghimpitkan kedua alisnya sambil berpikir sebentar. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Kalo mas Rizki tau pasti bisa salah paham. Aaahhh Hari mau ngapain si?" keluh Rosa sedikit kesal.
Rosa segera meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada sang suami jika mantan pacarnya menemui dirinya di rumah sakit entah dalam hal apa.
'Mas, Hari datang ke rumah sakit dan dia mau menemuiku. Boleh aku menemuinya? Karena resepsionis terlanjur bilang kalo aku ada di ruanganku jadi Hari berniat menungguku jika aku tak menemuinya. Bagaimana' pesan terkirim ke Rizki dan Rosa memasukan ponselnya kembali ke saku blazer yang di gunakannya.
Rosa segera meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan malas ke lorong rumah sakit dimana Hari menunggunya. Terlihat dari jauh apa yang ada di genggaman tangan Hari, Rosa memutar bola mata malas. Seakan tak ingin melangkahkan kakinya lagi. Namun jika terus hindari, Rosa yakin jika Hari akan melakukan hal yang lebih nekad lagi. Dan Rosa tak mau itu terjadi karena Rosa tak ingin Rizki akan salah paham.
Pikirnya kenapa Hari harus kembali disaat dirinya sudah bersama orang lain dan juga kenapa harus kembali di waktu yang cukup lama? Bukan hati Rosa goyah hanya Rosa merasa tak nyaman jika melihat Hari lagi. Seperti luka lamanya terbuka kembali. Karena Hari yang memilih pergi dengan perempuan lain karena Rosa yang tak secantik dan semodis seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Dia mau ngapain? Huft!" keluh Rosa yang masih melangkahkan kakinya dengan malas.
Kini Rosa sudah berada di hadapan Hari dengan menatap Hari yang tersenyum sangat manis saat itu. Ekspresi Rosa datar dan tak ada sedikit senyum disana. Hari begitu senang jika perempuan yang di yakininya ini ada di hadapannya secara langsung.
"Hai" sapa Hari semeringah dengan jantung yang berdebar. Di pandangi wajah cantik Rosa dengan seksama dan di rekamnya dalam pikiran dan otak Hari.
'Cantik' kata Hari dalam hatinya.
"Hm" balas Rosa dengan deheman saja.
"Nih" kata Hari sambil menyodorkan sebuket bunga kepada Rosa namun Rosa tak mengambilnya dan hanya memandangi sebentar dan matanya kembali kepada mata Hari yang menatapnya.
"Terima donk. Bunga kesukaan kamu" kata Hari lagi dengan semangat tapi Rosa sama sekali tak tertarik.
"Ada apa?" tanya Rosa langsung karena tak merasa nyaman dengan kedatangan Hari tiba-tiba.
"Ada apa? Maksudnya kedatangan aku menemui kamu?" tanya Hari balik lagi dengan senyum yang terukir karena merasa gemas dengan sosok yang ada di hadapannya saat ini.
Rosa menghela nafasnya kasar dengan membuang pandangan asal. Lalu mengangkat kepalanya kembali dan menatap Hari penuh tanya. Tatapan Rosa sungguh membuat Hari merasa jika Rosa tidak menyukai dirinya yang tiba-tiba datang menemuinya di tempat kerja seperti ini. Terlebih ini masih jam kerja Rosa meski kurang dari satu jam, jam kerja Rosa berakhir.
"A-aku a-ku kangen kamu Ros. Apa aku salah?" ungkap Hari jujur namun seolah merasa tak bersalah sama sekali.
Luka, iya luka yang di torehkan tanpa sadar itu sudah menusuk relung hati Rosa hingga berkeping bahkan Rosa kesulitan dalam merangkai kepingan hatinya tersebut.
__ADS_1
"A-aku mau kita kembali seperti dulu" ucap Hari penuh harap.