
Klek
Tatapan Rizki dan Ayyas terlihat pada Yuda yang baru memasuki ruang ICU Rizki. Yuda melangkah dengan wajah datar seperti biasanya. Turut senang karena akhirnya Rizki sadarkan diri setelah koma beberapa saat.
"Akhirnya, semoga lo semakin membaik Ki" kata Yuda yang sudah berada di sebelah Ayyas. Rizki tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Ada apa? Kenapa mau ketemu gue?" tanya Yuda dan kini menatap Rizki yang masih terbaring di brankarnya.
"A-apa l-lo u-udah me-menemukan pe-pelakunya?" tanya Rizki langsung setelah mengingat kembali kejadian kecelakaan dirinya. Baik Yuda dan Ayyas sejenak terdiam mendengar pertanyaan yang di lontarkan Rizki, sebab bagaimana bisa Rizki menanyakan siapa pelaku dari kecelakaan itu. Membuat Yuda semakin tidak mengerti lagi.
"Udah. Pelaku utamanya pun udah ke tangkep dan lo gak perlu khawatirin itu" jawab Yuda jujur.
"Yu-Yud l-lo e-emang se-selalu bisa di andalkan. Te-terima ka-kasih"
Yuda menautkan alisnya atas ucapan Rizki. Selalu bisa di andalkan? Apa Rizki tahu sesuatu tentang dirinya yang tidak di ketahui banyak orang. Bahkan Ayyas atau Rosa pun tak tahu hal itu.
"Gue gak ngerti" sahut Ayyas tiba-tiba dengan memandang Rizki dan Yuda secara bergantian. Begitu pun Yuda yang menganggukan kepalanya kepada Ayyas. Rizki malah tersenyum kecil menatap kebingungan kedua sahabatnya ini tapi Rizki yakin jika Yuda mengerti maksud dari perkataannya barusan.
"Ada apa si Yud. Lo bisa di andalkan dalam hal apa? Eh tapi lo kan emang bisa di andalkan dalam hal apa pun si" sahut Ayyas lagi setuju dengan perkataan Rizki meski sebenarnya Ayyas tak paham maksud dari perkataan Rizki.
"Baru nyadar lo. Kemana aja selama ini?" kata Yuda tersenyum mengejek. Padahal Yuda sendiri masih belum memahami maksud dari perkataan Rizki.
"Ki, cuma itu yang mau lo bilang ke Yuda?" tanya Ayyas yang merasa aneh. Meminta Yuda untuk menemuinya tapi yang di tanyakan hanya pertanyaan yang menurut Ayyas tidak masuk akal. Tapi Rizki hanya diam tidak menjawab sampai akhirnya ada yang membuka pintu ruang ICU Rizki lagi.
Klek
Bunyi pintu terbuka dan membuat ketiga orang menoleh kearah pintu. Sedangkan yang ditatap memutar bola matanya malas dan belum menyadari jika Rizki sudah sadarkan diri.
"Kenapa natap gue begitu?" tanyanya begitu sambil berjalan semakin mendekat. Baik Ayyas atau Yuda tidak menjawab dan membiarkan Rosa semakin mendekat ke brankar Rizki.
__ADS_1
Dan seketika mata Rosa bertemu dengan mata Rizki. Hening dalam beberapa saat sampai Rosa memutus tatapannya dan menoleh kepada kedua sahabatnya dengan menatap saling bergantian.
"Rizki baru sadar kok Ros, suweer" kata Ayyas dengan dua jari berbentuk V sedangkan Yuda memilih diam begitu juga dengan Rosa. Bahkan Rosa tidak mengerti harus bersikap seperti apa di hadapan suaminya saat ini.
"Ayoo Yas" bisik Yuda di telinga Ayyas lalu berlalu meninggalkan Rizki dan Rosa.
***
"Apa gak apa-apa Rosa di dalam bersama Rizki Yud?" tanya Ayyas tiba-tiba khawatir.
"Yang lo khawatirin Rosa apa Rizki?" jawab Yuda dengan berbalik bertanya tanpa menghentikan langkah mereka dari ruang ICU Rizki.
"Hmm bukan gitu. Lo pasti paham maksud gue Yud. Gue cuma takut Rosa meminta penjelasan sama Rizki. Sedangkan Rizki kan baru banget sadar. Gue cuma takut kondisi Rizki malah menurun setelah itu"
"Berarti yang lo khawatirin Rizki" sarkas Yuda membuat Ayyas menghentikan langkahnya dan menatap Yuda yang masih berjalan.
"Ya, gue khawatir sama Rizki Yud. Memang semua secara gak langsung salah Rizki tapi kalo lo tahu apa yang terjadi sama Rizki, gue rasa lo pun akan khawatir dengan kondisi Rizki saat ini" kata Ayyas yang jelas tidak terdengar oleh Yuda.
***
Tanpa ada tahu jika sebelum kejadian kecelakaan Rizki sudah mengetahui akan terjadi. Karena berawal dari tidak sengaja Rizki mendengar rencana Adel kepada orang suruhannya. Bahkan mau mencoba tidak peduli saat itu pun rasanya Rizki tidak mampu.
Terlepas dari Sani yang mantan pacarnya dulu, Rizki memandang Indra sebagai kakak sepupu dan suami serta ayah dari anak yang sedang di gendong Sani saat itu. Rizki pun berpikir tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya seandainya target Adel saat itu tepat pada sasarannya.
"Sa-sayang" panggil Rizki dengan air mata penuh di pelupuk mata. Rizki memanggil Rosa dengan sesak di dalam hati. Rosa menoleh tanpa adanya ekspresi hanya menatap Rizki yang sedang ingin mengeluarkan air matanya. Rosa mendekat dan mencoba menghapus air mata yang akhirnya luruh.
Tangan Rosa di tahan Rizki yang menangis dan menggenggam di pipinya. Rizki terisak merindukan tangan ibu dari anak-anaknya. Sesekali Rizki menciumi punggung tangan Rosa dengan tangis yang belum mereda.
Sakit sekali rasanya bagi Rosa tapi saat ini menangis pun sulit di lakukannya. Mengingat kejadian yang datang beruntun menghampirinya. Bahkan mencoba melupakannya pun rasanya tidak mudah.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian tangis Rizki mereda meski segukan masih terasa. Rosa mencoba menenangkan Rizki dengan tangan satunya mengelus rambut serta wajah Rizki dengan lembut.
"Ma-maaf" kata Rizki disela tangisnya.
Rosa membalas dengan menganggukan kepalanya dan senyum tipis di bibirnya.
"Maaf" kata Rizki lagi dengan tulus.
"Maa---" kata Rizki namun terpotong saat Rosa jari telunjuk Rosa tepat berada di depan bibirnya.
"Fokuslah sembuh" sahut Rosa yang masih membiarkan Rizki menyesal dalam tangisnya.
"Ma-maafin a-aku"
***
Kabar Rizki sadarkan diri sudah terdengar di keluarga Rizki dan Rosa. Ibu Titi tak henti menangis karena bersyukur akan anaknya yang sudah melewati masa kritis. Begitu juga dengan Indra dan Sani yang merasa sedikit lega karena setidaknya membuat mereka tidak terlalu bersalah atas semua ini.
"Ibu mau ke rumah sakit, ibu mau lihat Rizki dan ibu sudah membawa makanan kesukaan Rizki" kata ibu Titi kepada Riana. Riana menganggukan kepala dan setuju karena dirinya juga ingin ke rumah sakit. Selain ingin menemui kakanya, Riana juga ingin menemui Rosa dan juga keponakan kembarnya.
"Baik bu, dan kita bertemu yang lain di rumah sakit juga" balas Riana lalu mengambil kunci mobil untuk segera berangkat ke rumah sakit.
***
"Alhamdulillah kak. Rizki sudah sadarkan diri" kata Sani dengan air mata memeluk Indra. Indra menganggukan kepalanya sambil mengelus lengan istrinya.
Indra paham maksud dari tangis Sani, selain memang karena lega, Sani pun masih menyalahkan dirinya. Sehingga berita sadarnya Rizki membuat Sani mengurangi rasa bersalahnya.
"Kita siap-siap yah. Tapi kalau kita tidak bisa menemui Rizki hari ini, gak apa-apa kan? Karena pasti semua keluarga sedang berkumpul disana. Aku hanya gak mau jika nanti akan ada perdebatan lagi yang nantinya malah menyalahkan kamu"
__ADS_1
"Tapi aku memang bersalah kak"