Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
66. Pemikiran Hari


__ADS_3

"Bulan maaf, bukannya kak Rosa gak mau temani Bulan. Kak Rosa disini bekerja jadi kak Rosa gak bisa temani Bulan. Kakak bantu doa ya buat mama kamu, dan juga kamu sudah ada bang Hari yang menemani jadi gak apa-apa yah kakak gak temani" ucap Rosa menolak dengan halus agar Bulan tak tersinggung. Bulan melengkungkan bibirnya kebawah tapi Bulan pun mengerti maksud dari Rosa.


"Iya kak gak apa-apa. Tapi kalo kakak senggang kerjanya, kakak kesini yah" pinta Bulan dengan air mata yang jatuh.


Sungguh Rosa pun tak tega dengan Bulan yang terlihat sangat tertekan. Rosa tahu rasanya seperti apa saat dulu mama Wina dulu mengalami kecelakaan dan terlebih tak ada siapa pun saat itu. Hanya kebetulan tak siapa pun karena Rosa tak memberi tahukan ketiga sahabatnya tapi untungnya mama Wina saat itu di tangani di rumah sakit Ayyas yang akhirnya Ayyas mengetahui itu semua.


"Tapi kakak gak janji ya. Kamu harus kuat dan juga banyak-banyak doa untuk mama" kata Rosa dan Bulan mengangguka tanpa bersuara karena sedang mengendalikan perasaannya.


"Kakak pamit dulu yah. Kakak harus bekerja karena ada beberapa pekerjaan yang harus kakak kerjakan segera" kata Rosa lagi dan Bulan menganggukan kepalanya lagi.


Rosa berjalan meninggalkan kakak beradik itu. Rosa berjalan berdampingan dengan Ayyas tanpa menoleh lagi ke belakang. Dan juga Hari bersama Bulan kembali ke depan ruang IGD sambil menunggu dokter yang sedang memeriksakan mamanya.


***


Rosa semakin terbebani dengan pernikahan yang dirinya anggal hanya taruhan sang suami. Rosa masih belum terima dengan hal yang membuatnya terasa sangat rendah dan hina. Bagaimana mungkin dirinya menjadi taruhan? Sungguh tak ada habisnya Rosa memikirkan itu.


"Ros jujur deh lo ada apa?" tanya Ayyas lagi yang entah sudah keberapa kali. Ayyas masih tak habis pikir Rosa bisa menutup mulutnya akan masalah yang membuat Rosa seperti orang banyak beban. Rosa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Apa perlu gue tanya suami lo?" tanya Ayyas yang sangat ingin tahu.

__ADS_1


"Gak usah. Gak apa-apa Yas. Biarin ini maslah rumah tangga gue. Lo jangan terlibat yah" ucap Rosa halus dengan senyum yang terukir.


Ayyas pasrah jika sudah berhubungan dengan rumah tangga pasti dirinya tak bisa bahkan tak boleh ikut campur meski suami Rosa juga sahabatnya sendiri.


"Gue khawatir Ros. Akhir-akhir ini lo keliatan beda banget. Lo kayak nanggung beban pikiran yang lo sendiri gak bisa selesaiin ini sendirian. Ros lo harus inget kalo lo punya gue. Gue kakak lo Ros. Gue udah anggep lo itu adek gue jadi gak usah lo tutup-tutupin masalah yang lo gak bisa selesaiin sendiri"


"Ayyas, gue gak apa-apa. Gue baik-baik aja. Beneran deh. Lo gak perlu khawatir yah" kata Rosa yang benar-benar bungkam. Bukan bungkam hanya Rosa malu dan takut Ayyas marah jika tahu pernikahannya hanya sebatas taruhan. Seolah rasa cinta dan tulus Rizki tertutup begitu saja.


"Bahkan sekarang lo lebih pucet. Apa lo sakit?"


"Ayyas gue baik-baik aja. Please jangan berlebihan mengkhawatirkan gue. Lo lebih baik kembali ke ruangan lo, dan setelah gue selesai ngerjain laporan yang lo minta, gue akan anterin ke ruangan lo. Jadi lo balik gih ke ruangan lo"


"Enggak Yas. Gue enggak ngusir. Gue jadi grogu nih bikin laporannya kalo di tungguin gini. Yang ada gue gak konsen dan malah lama ngerjainnya. Lo kan butuh buru-buru laporan ini"


"Huft! Yaudah. Tapi lo beneran ya langsung ke ruangan gue kalo udah selesai"


"Iya bos" kata Rosa dan Ayyas langsung bergegas meninggalkan ruang kerjanya.


Rosa menghembuskan nafasnya perlahan lalu menyederkan punggungnya di kursi duduknya. Rosa memijit pelipis yang terasa berdenyut semenjak beberapa hari terakhir namun tak dirinya rasakan. Entah apa yang Rosa pikir mungkin hanya pikiran tentang taruhan Rizki dan Hari.

__ADS_1


Di lain tempat, Rizki menatap ponselnya dengan geram. Bagaimana tidak di salah satu chat dari nomer yang tak di kenal dikirim sebuah video yang menampakan dengan jelas Hari memeluk Rosa dengan erat sambil menangis. Meski Rosa tak membalas pelukan itu tapi terlihat Rosa membiarkan Hari memeluknya begitu saja. Lho ada apa? Tanya Rizki sambil terus berpikir. Bahkan Rizki sangat yakin bahwa itu berada di rumah sakit tempat Rosa bekerja.


"Kenapa kamu membiarkan dia memeluk kamu begitu saja Sa? Apa yang terjadi? Apa kamu termakan ucapannya? Ucapan apa lagi yang dia katakan?" tanya Rizki dengan raut kesal dan nafas yang memburu.


Rizki cemburu, sangat tidak suka melihat Rosanya di peluk oleh orang lain terlebih itu mantan pacar dari istrinya. Rizki menatap kesal dan terlintas bayangan jelas saat Hari memeluk Rosa erat dan menumpahkan air matanya.


"Aaarrrrrgģgghh" teriaknya frustasi.


Di rumah sakit, Hari tersenyum miring, bagaimana tidak. Hari merasa puas dengan video dirinya memeluk Rosa yang di kirim ke Rizki. Entah apa hal itu membuat Hari merasa lega karena Hari tahu jika Rosa tak akan tega dengan tangis dirinya seperti itu dan Hari yakin jika Rosa akan membiarkan dirinya di peluk begitu saja tanpa menghindar atau melakukan perlawanan. Kenapa Hari begitu yakin? Karena dulu saat hal ini terjadi, di kala mama Melani sakit dan Hari menangis seperti ini, Rosa akan membiarkan dirinya menjadi sandaran Hari sampai laki-laki itu merasa lega.


"Dan aku gak nyangka kamu masih bersikap sama Ros. Aku semakin yakin jika namaku memang masih ada di hati kamu. Aku akan mencari alasan kenapa kamu bisa memutuskan menikah dengan sahabat kamu sendiri. Aku gak akan membiarkan kamu terluka lagi Ros, aku harus memastikan semuanya. Jika memang ada alasan lain yang membuat kamu menikah dengan dia, aku yakin semua karena kamu terpaksa. Dan aku janji, aku janji akan merebut kamu kembali kepada ku. Gak peduli bagaimana pun caranya. Kamu harus kembali kepada ku. Harus" kata Hari penuh ketekad-an.


Hari meyakinin jika pernikahan Rosa dan Rizki ada sesuatu. Entah apa, Hari merasa harus mengetahuinya. Hari meyakini jika Rosa terpaksa menikah dengan sahabatnya dan Hari tak akan membiarkan itu.


"Tunggu aku ya sayang. Tunggu aku mengungkapkan semuanya. Tunggu ya sayang. Aku janji kita akan bersama kembali. Aku sangat yakin kamu pun masih mencintaiku sama sepertiku yang masih sangat mencintai kamu" ucap Hari dengan bersungguh-sungguh.


Duh Hari suka lupa ya dulu pernah berbuat apa sama Rosa? Rosa udah bahagia lho sama pilihannya, please jangan di ganggu!!


***

__ADS_1


__ADS_2