
"Gak usah Yas. Biar nanti aja gue kasih tau Rizki setelah gue tahu kalo calon anak gue baik-baik aja. Makasih banyak ya Yas sebelumnya" ucap Rosa tulus tersenyum manis kepada Ayyas. Ayyas menganggukan kepala dan setelahnya segera menghubungi dokter obgyn untuk pemeriksaan Rosa.
"Ayoo gue anter ke ruang prakter dokter obgynnya Ros. Apa sambil mau nunggu Rizki dulu?" tanya Ayyas setelah mendapat kabar jika dokter obgyn sedang menunggunya.
"Eh tapi kepala lo gimana? Masih sakit gak? Kalo masih sakit biar gue suruh dokter obgyn nya kesini dan lakuin pemeriksaan disini aja gitu" kata Ayyas lagi khawatir kondisi sahabatnya.
"Masih sakit tapi masih bisa ke tahan kok Yas. Kita ke ruang praktek dokter obgyn aja. Lagi pula Rizki kayaknya masih lama, dia lagi ngurusin kerjaan juga"
"Bener? Yaudah gue ambil kursi roda dulu. Lo tunggu disini"
"Iya" jawab Rosa dan Ayyas segera mengambil kursi roda untuk Rosa.
Beberapa saat kemudian, Rosa dan Ayyas tiba di ruang praktek dokter obgyn. Rosa pun di arahkan untuk membaringkan diri di atas brankar yang sudah di sediakan dan di bantu oleh Ayyas. Bahkan saat dokter obgyn yang bernama Tami menjelaskan gambar kantung yang terlihat dalam monitor.
Seulas terbit bukan hanya dari Rosa tapi juga dari Ayyas yang melihatnya. Bahagia dan merasa tak percaya bisa di kasih amanah secepat ini. Alhamdulillah.
"Selamat ya mbak Rosa. Duuh kayaknya sekarang harus manggilnya ibu yah. Alhamdulillah janinnya sehat dan kuat. Kalau dari pemeriksaan usg dan dari telat datang bulan usia kandungan bu Rosa sudah memasuki 6 minggu. Dan untuk mendengar detak jantungnya saat janin usia 8 minggu ya bu" ucap dokter Tami ikut bahagia atas kehamilan Rosa.
Rosa masih tak bisa bersuara saking masih merasa tak percaya ada kehidupan di dalam perutnya.
__ADS_1
"Saya akan buatkan vitamin untuk penguat dan pengurang mual atau muntah ya bu. Vitaminnya jangan lupa di minum secara rutin" kata dokter Tami sambil menuliskan resep obat untuk Rosa.
Rosa hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Begitu pun dengan Ayyas yang menemaninya saat ini.
Setelah menerima resep obat Rosa dan Ayyas meninggalkan ruang praktek dokter Tami lalu menuju apotek untuk menebus obat.
"Lo gak mau kasih tau Rizki sekarang Ros? Apa mau gue panggilin dia kesini buat nemenin lo?" tanya Ayyas saat mereka tiba di apotek dan sudah menyerahkan resep.
"Gak usah Yas. Sebentar lagi juga kita mau ke ruang rawat gue. Nanti aja, biar gue yang kasih tau dia sendiri yah" jawab Rosa yang juga tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada suaminya. Rosa yang masih duduk di kursi roda memperhatikan kantung janin hasil usg sebelumnya.
"Yaudah oke. Btw nanti gue mau kasih tau Deby juga ya. Kebetulan nanti Deby bakalan kesini. Lo ada titip atau mau makan apa gitu? Biar nanti di bawain sama Deby"
"Gak usah Yas. Gak usah repot-repot. Buah sama cemilan yang kemarin lo bawain aja masih ada dan belum habis semua. Sayang kalo lo beli lagi tapi gak ke makan" tolak Rosa lembut.
"Udah gak terlalu kerasa Yas. Gak tau sakitnya ilang gitu aja pas gue tau ada kehidupan di dalam perut gue" kata Rosa jujur.
"Puji Tuhan. Memang yang namanya bahagia pasti akan berdampak baik banget sama tubuh ya Ros. Gue berharap banget kalo lo selalu bahagia apa pun keadaannya"
"Aamiin. Dan gue juga berharap hal yang sama. Semoga lo, Deby dan Yuda selalu bahagia dalam keadaan apa pun" kata Rosa berharap dan menikmati jalan di lorong rumah sakit bersama Ayyas.
__ADS_1
Dalam pandangannya, Rosa menyipitkan matanya dan berfokus pada sesuatu yang membuatnya bertanya ada apa dan ingin sekali tahu. Apakah itu? Dan apa yang terjadi?
"Kenapa selalu kamu yang membuat kacau? Belum cukup kamu membuat kondisi Adel semakin drop? Belum cukup kamu membuat dia terus menerus keluar masuk rumah sakit? Apa salah dia sampai kamu tega seperti itu kepada dia? Hah?" teriak Indra yang sudah kepalang emosi saat tahu Adel kecelakaan. Padahal Adel kecelakaan bukanlah salah Sani. Niat Adel ingin membantu Sena saat hendak keserempet mobil tapi nyatanya karena sedikit lambat dari pergerakan Adel hingga akhirnya keduanya keserempet bersama.
Sani hanya diam tak berani untuk bersuara atas apa yang di katakan Indra kepadanya. Keterlaluan? Iya Indra keterlaluan karena selalu menjadi Sani penyebab atas apa yang menimpa Adel padahal tanpa dirinya sadari bahwa awal semula kesalahan itu pada dirinya. Iya kah? Iya kesalahan satu malam di saat dirinya mabuk dan membuat Sani harus mengandung anak yang jelas tak di akuinya.
"Kenapa? Kenapa selalu kamu Sani? Kenapa? Liat sekarang? Gimana kalo kondisi Adel semakin memburuk? Gimana? Kamu masih waras gak sih? Apa ini rencana kamu dan kembaran kamu itu? Hah? Gila ya" teriak Indra lagi yang mampu mengetarkan bibir Sani menahan suara agar tak terdengar. Sani menangis dalam diam dengan makian yang tak henti Indra ucapkan.
"Aaagggrrhh" teriak Indra frustasi sambil mencambak rambutnya sendiri lalu mondar mandir gelisah menunggu sang dokter memeriksa Adel. Segitu sayangnya dengan Adel?
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Adel, aku akan pastikan kamu menyesal. Ingat itu. Menyesal" kata Indra lagi dengan mengancam Sani.
"Ha ha ha ha jangan playing victim. Kamu yang salah tapi seolah kamu yang salah. Perempuan macam apa kamu? Sampai hati tega melakukan ini kepada Adel? Salah dia apa? Hah?" bentak Indra lagi yang sudah tak bisa di kendalikan lagi. Sedangkan Sani hanya menunduk dengan air mata yang mengalir sambil satu tangannya memegangi perut buncitnya dan satu tangannya menghapus air mata lalu menatap Indra dengan penuh amarah juga. Bagaimana tidak, Sani benar-benar merasa sangat di salahkan padahal kejadian saat Indra mabuk bukanlah salah dirinya sepenuhnya.
"Apa? Kamu perempuan murahan gak pantas menatap aku dengan tatapan seperti itu!! Harusnya aku yang menatap kamu seperti itu perempuan murahan" teriak Indra yang tak kenal tempat. Bahkan tanpa Indra sadari, Indra sudah melayangkan tangannya ke udara dan sudah menapar Sani dengan cukup keras.
Plaak
Suara tamparan itu terdengar jelas bahkan sudut bibir Sani pun mengeluarkan sedikit darah. Sani terisak menagis yang akhirnya terdengar suaranya. Dan Indra semakin geram dengan Sani yang menangi di hadapannya ini.
__ADS_1
Rosa dan Ayyas melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Kok bisa kak Indra bisa setega seperti itu pada perempuan? Perempuan yang jelas sedang mengandung anaknya.
Bahkan kini kak Indra melayangkan tangannya ke udara lagi dan akan melakukan hal yang sama namun tiba-tiba sebelum tangannya menyentuh pipi Sani sudah ada yang mencekal dan menatap kak Indra menggelengkan kepalanya.