
Bergulirnya waktu, Rosa masih tak ada perubahan sikap terhadap Rizki. Beginikah sikap asli Rosa? Harusnya Rizki lebih tahu donk gimana Rosa saat mode kecewa? Rizki tetap berusaha bersikap lebih hangat lagi agar bisa mencairkan Rosa yang sedang mode dingin.
"Selamat pagi sayang" sapa Rizki saat Rosa membuka matanya. Di kecup seluruh wajah Rosa dan terakhir di bibir manis Rosa. Rosa tak menolak karena sebelumnya memang sudah kebiasaan Rizki bersikap seperti itu.
Rizki mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepaskan Rosa hari ini. Bahkan Rizki menghirup dalam-dalam harum tubuh Rosa yang selalu membuatnya rindu.
"Sekarang jam berapa?" tanya Rosa yang masih di dekapan suaminya.
"Jam lima lewat" jawab Rizki yang masih enggan melepaskan pelukannya.
"Kamu enggak mau beranjak? Sholat subuh dulu yu" ajak Rosa dan Rizki semakin mengeratkan pelukannya.
"Kayak gini dulu. Aku masih kangen kamu" pinta Rizki dengan suara manjanya.
"Nanti kesiangan mas. Yuu sholat dulu yuu" bujuk Rosa agar Rizki mau menguraikan pelukannya. Rizki semakin mengusel-ngusel di puncak kepala Rosa dan terus saja menciumi puncak kepala Rosa. Rosa sendiri hanya bisa pasrah yang mana wajahnya tepat berada di dada Rizki yang tak memakai kaos atau pun baju tidur. Hangat rasanya, bahkan sebenarnya Rosa sangat nyaman saat berada dalam pelukan Rizki seperti ini.
"Yaudah yuuu sayang" kata Rizki yang akhirnya melepas pelukannya dan beranjak lalu segera menggendong Rosa ala bridal. Rosa melebarkan matanya saat tubunya terasa melayang di angkat Rizki begitu saja.
"Aku bisa sendiri mas" ucap Rosa sangat pelan.
"Gak apa-apa. Aku maunya kayak gini" balas Rizki yang terus melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan menurunkan Rosa di dalam kamar mandi.
Rosa dan Rizki mengambil wudhu secara bergantian dan Rosa lebih dulu. Rosa menyiapkan sajadah, sarung, baju koko dan peci untuk suaminya sekalian dirinya yang sudah mengenakan mukena.
__ADS_1
Rizki keluar dari kamar mandi dan menghampiri Rosa yang sudah menunggunya, segera Rizki mengambil posisi setelah selesai memakai baju koko dan sarung serta peci. Rizki menoleh ke belakang lalu tersenyum kepada Rosa, Rosa menganggukan kepalanya dan Rizki memulai sholat subuh berjamaahnya.
***
Seperti biasanya, Rosa masih terlihat dingin dan cuek bahkan senyum pun rasanya bisa di hitung dalam satu hari. Sungguh sangat berbeda dengan Rosa yang biasanya. Setibanya di rumah sakit, Rosa tak sengaja bertemu dengan Hari. Hari terlihat sangat gelisah dan Bulan sedang menangis di kursi tunggu depan ruang IGD. Why? Ada apa?
Rosa enggan menghampiri karena masih mengingat kejadian saat terakhir kali bertemu dengan Hari. Rosa berbalik badan lalu melangkahkan kakinya mengambil jalan lain untuk menuju ke ruang kerjanya. Meski jalan lewat IGD lebih dekat dan sangat dekat. Rosa sama sekali tak ingin berurusan lagi dengan Hari. Rosa menghentikan langkahnya saat ada seseorang yang mencekal tangannya. Rosa menoleh lalu menghembuskan nafasnya perlahan.
"Lo mau lewat mana?" tanya Ayyas saat melihat Rosa membalikan badan dan hendak lewat jalan lain untuk menuju ruang kerjanya.
"Aahh gu-gue mau mampir ke kantin dulu Yas. Eh saya mau mau mampir ke kantin dulu pak. Apa bapak mau nitip?" tanya Rosa yang langsung kikuk melihat keberadaan Ayyas yang tiba-tiba.
"Aneh. Lo gak biasanya ke kantin pagi-pagi gini Ros" jawab Ayyas yang memindai kecurigaan dengan sikap Rosa saat ini.
"Ntar aja ke kantinnya. Emang lo mau beli apa?" tanya Ayyas semakin penasaran.
"Ma-mau beli sarapan pak. Kebetulan saya belum sarapan" jawab Rosa sekenanya meski sebenarnya Rosa sudah sarapan dengan Rizki dan mama Wina di rumah.
"Rosa" panggil Hari yang menghampiri setelah memastikan yang di lihatnya adalah Rosa. Hari semakin dekat dan langsung memeluk Rosa begitu saja. Hari memeluk Rosa erat dan menangis disana. Rosa bingung dan rasanya ingin marah dengan sikap Hari yang tiba-tiba memelukanya begitu saja.
"Hisk hisk" suara tangis Hari terdengar bahkan badannya sampai bergetar. Ayyas pun sama bingung harus bagaimana karena posisi Hari yang menangis tak henti di pelukan Rosa. Mata Rosa dan mata Ayyas bertemu seolah bertanya ada apa? Rosa hanya menggelengkan kepalanya tanpa membalas pelukan Hari atau pun menggelus punggung laki-laki berbadan tegap itu untuk memberikan sedikit ketenangan.
Lima menit kemudian Hari merasa sudah lebih baik tanpa Rosa bertanya apa masalahnya yang sampai memeluk Rosa begitu saja. Dan Ayyas begitu setia menemani Rosa sampai Hari melepaskan pelukannya. Ayyas tak mau jika terjadi kepada Rosa kalau dirinya meninggalkan Rosa bersama laki-laki lain.
__ADS_1
"Maaf" ucap Hari sambil menyeka air matanya yang basah. Bahkan masih sangat terlihat segukan. Hari menangis seperti ini kepada Rosa untuk kedua kalinya. Dan Rosa tahu jika ini tangisan yang tak pernah Hari perlihatkan kepada orang lain kecuali dirinya
Rosa hanya menganggukan kepalanya tanpa bertanya ada apa dan kenapa Hari menangis. Dan disisi lain Bulan, sang adik Hari juga berlari menghampiri Rosa dan memeluk Rosa yang sama eratnya dengan Hari. Mata Rosa menoleh dan menatap Ayyas serta Hari secara bergantian. Sungguh pagi-pagi Rosa di buat bingung dengan kakak beradik ini.
"Kak Rosa hisk hisk hisk hisk" kata Bulan dengan terus menumpahkan air matanya di bahu Rosa. Padahal bahu Rosa sudah terasa basah oleh air mata Hari sebelumnya kini harus bertambah basah dengan air mata Bulan.
Rosa yang tak tega dengan perempuan kecil di hadapannya ini langsung membalas pelukan Bulan dan mengelus punggung Bulan agar lebih tenang dan tak semakin terisak lagi. Hari melihatnya merasa semakin tenang karena Rosa bisa menenangkan adiknya.
"Ada apa? Kenapa kamu dan abang kamu menangis seperti ini? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rosa akhirnya agar tidak salah sikap.
"Ma-mama kak ma-mama" jawab Bulan dengan terbata-bata.
Rosa menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap Ayyas dan Hari lagi.
"Ma-mama Kecelakaan kak. Aku takut, aku takut" kata Bulan lagi dengan tangis yang semakin pecah.
"Kamu tenang yah. Insyaallah semua akan baik-baik saja" ucap Rosa sekenanya dengan tangan yang masih mengelus punggung Bulan. Pantas saja Hari menangis sampai segitunya karena memang Hari sangat menyayangi mamanya dan jika terjadi sesuatu dengan mamanya, Hari pasti akan menangis seperti itu.
"Tapi mama gak sadarkan diri kak. Darah yang mengalir dari kepalanya juga banyak banget kak Aku takut, aku takut"
"Kita berdoa ya. Semoga enggak ada hal buruk yang terjadi sama mama kamu" ucao Rosa dan Bulan mengangguk.
"Kakak temani aku yah" pinta Bulan setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
Rosa menghapus air mata Bulan di pipinya lalu menoleh dan menatap Ayyas. Ayyas menggelengkan kepalanya karena tak mau Rosa akan terjebak masalah di dalamnya.