Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
76.


__ADS_3

Ayyas terdiam. Karena memang yang dibilang Rosa benar. Ini urusan rumah tangganya yang Ayyas sendiri sangat tidak berhak ikut campur. Ayyas hanya menganggukan kepala dengan menggigit bibir bawahnya.


"Gue tahu lo kecewa dan lo juga pasti tahu kalo gue jauh lebih kecewa terlebih saat ini gue tahu jika gue juga sedang mengandung anaknya. Bahkan dengan enteng dia mau menjadi ayah dari anak yang di kandung mantan pacarnya. Lucu ya Yas? Hidup ini lagi bercanda sama gue. Hmm... It's okey gak apa-apa, Tapi boleh gue minta tolong sama lo?" pinta Rosa dengan sangat berharap. Sebab hanya Ayyas yang saat ini masih ada untuk dirinya disaat dirinya telah menikah. Yuda yang memilih pindah ke Bandung yang tentu sangat menyulitkan waktu untuk mereka habiskan bersama seperti sebelumnya.


"Apa? Apa pun yang gue bisa, akan gue bantu Ros. Bahkan buat hajar dia pun gue mau, gue sanggup Ros" kata Ayyas yang jujur sangat sedih. Sakit dadanya melihat rumah tangga Rosa yang seperti tidak akan baik-baik saja kedepannya.


"Jangan bilang Rizki tentang kehamilan gue. Biar nanti gue aja yang kasih tau. Dan juga untuk apa yang lo denger tadi jangan lo sampein ke siapa pun yah termasuk Deby atau pun Yuda. Gak keberatan kan?" pinta Rosa pelan sambil menahan sesak dalam dadanya.


Ayyas yang mencoba mengerti Rosa hanya bisa menganggukan kepalanya pelan.


"Janji kalo ada apa-apa bilang sama gue" kini Ayyas yang meminta kepada Rosa karena tak ingin Rosa menanggung semuanya sendiri.


"Iya Yas" kata Rosa dengan senyum di paksakan.


Ceklek


"Sayang" panggil seseorang dari balik pintu. Ayyas dan Rosa pun menatap. Seseorang pun menghampiri keduanya dengan menatap saling bergantian.

__ADS_1


"Kenapa? Kok tegang banget? Ada sesuatukah?" tanya Deby yang kini duduk di bangku sebelah brankar Rosa dan Ayyas berdiri disebelahnya.


Rosa dan Ayyas menggeleng bersamaan dengan menampilkan senyum terbaiknya. Tapi Deby bukanlah orang yang baru mengenal keduanya dan sudah Deby tebak jika sedang terjadi sesuatu di antara keduanya tapi keduanya enggan memberitahu. Pikirnya itu sebuah privasi yang saat ini Deby harus mengerti jika keduanya tak ingin saling berbagi kepadanya tapi Deby yakin lambat laun keduanya akan memberitahukan privasi tersebut.


"Hmm gak apa-apa deh kalo gak mau cerita. Oh iya kamu gimana keadaannya Ros? Udah enakan?" tanya Deby yang lalu menatap sahabatnya dengan hangat. Rosa membalas tatapan Deby namun hatinya bergetar hingga air mata pun tak mampu untuk di bendungnya lagi.


Rosa menangis dan Deby segera memeluk Rosa sambil menepuk-nepuk pelan bahu Rosa. Deby mengerti jika Rosa sudah begini pasti ada sesuatu yang terjadi namun Rosa enggan mengungkapkannya. Lho kenapa? Gak baik lho Ros di pendem gitu.


Di lain tempat, setelah perdebatan Indra dan Rizki selesai karena dokter datang dan memberi tahu kondisi Adel dan juga Sena. Indra langsung meninggalkan Rizki bersama Sani dengan tangan keduanya saling menggenggam. Rizki sendiri entah menyadari atau tidak apa yang sudah di lakukannya beberapa menit yang lalu. Nafasnya masih memburu naik turun karena terbawa emosi juga.


Rizki tak membalas tatapan Sani dan langsung memasang wajah tak suka. Lho? Lalu kenapa tadi membela Sani sampai seperti itu Ki?


"Terima kasih" ucap Sani dengan pelan sekali tapi Rizki tak memberikan balasan.


"Apa benar kamu mau mempertanggung jawabkan anak ini dan mau menjadi ayahnya? Apa kamu masih mempunyai perasaan sama aku? Dan apa perasaan itu gak berubah?" tanya Sani yang jujur dalam hatinya merasa ada harapan. Harapan jika anaknnya lahir akan ada seorang ayah dan mungkin akan ada seorang suami saat dirinya melahirkan nanti.


Rizki semakin menatap Sani tak suka lalu mencoba untuk bergegas meninggalkan Sani dalam tempatnya.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa jika harus jadi yang kedua. Insyaallah aku ikhlas" kata Sani dengan mencekal lengan Rizki erat.


Rizki tak habis pikir dengan dirinya yang bisa secara refleks berkata demikian. Dan Rizki pun mennyadari jika apa yang di ucapkannya tadi jelas akan membuatnya menyesal terlebih jika istrinya mengetahui. Tapi apa mungkin Rosa akan mengetahui jika bukan di antara ketiga dari mereka yang mengungkapkannya?


"Aku mohon Ki. Jujur cuma kamu harapan aku. Aku tahu aku banyak salah. Maafin aku. Maafin semua kesalahan aku dulu sama kamu. Tolong kasih aku kesempatan kedua dan aku gak apa-apa jika harus jadi yang kedua untuk kamu" ucap Sani lagi dengan sungguh-sungguh.


Rizki melepaskan cekalan tangan Sani dan menatap Sani sinis. Rizki sendiri masih tak menyangka dengan sikapnya yang membela Sani di hadapan Indra bahkan sampai mengatakan akan bertanggung jawab dan mengakui anak dalam kandungan Sani. Sungguh itu di luar nalarnya sama sekali yang jelas sudah membuat Sani bahkan Indra salah paham akan hal tersebut.


"Jangan salah paham. Gak ada maksud lain dari perkataanku tadi. Dan gak pernah dalam pikiranku untuk menjadikan kamu yang kedua atau seterusnya. Cukup satu dan itu hanya Rosa" tegas Rizki dengan penekanan.


Sani menatap Rizki dalam dan mencari kebohongan yang sangat jelas tak ada dalam binar matanya itu. Lalu jika itu benar mengapa Rizki sampai berkata demikian pada Indra sedangkan pada kebenarannya tidak seperti itu? Apa Rizki hanya kasian saja dengan Sani?


"Gak mungkin Ki. Gak mungkin kamu bisa berkata kayak tadi kalo kamu gak ada perasaan sama aku. Gak mungkin kamu sampai membela aku kayak gitu kan? Ki please jangan bohongin perasaan kamu. Kalo kamu emang masih ada perasaan sama aku, aku pun demikian Ki. Aku tau aku salah saat itu tapi jujur jauh dalam hatiku masih ada nama kamu. Masih ada kamu dan semua kenangan tentang kita. Kamu jangan bohong lagi. Aku terima kamu kok meski kamu udah punya Rosa"


"Jangan pernah berharap atau bermimpi. Cuma Rosa dan hanya Rosa yang ada di hati aku saat ini dan seterusnya. Gak akan pernah terganti oleh siapa pun termasuk kamu atau menjadikan kamu yang kedua" kata Rizki yang jelas menyakiti hati hati Sani. Sungguh dua orang yang masih memiliki ikatan darah ini berhasil melukai hatinya.


"Terus buat apa kamu membela aku di depan kakak sepupu kamu bahkan sampai berkata seperti itu?" tanya Sani yang sudah pasti luruh air matanya.

__ADS_1


__ADS_2