Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
71. Satu Frekuensi


__ADS_3

Rosa masih dalam diamnya. Pikirannya masih terus berpikir bagaimana dan harus apa. Entahlah hanya dirinya saja yang mengerti akan hal itu. Rizki tak menyerah dengan terus memberikan perhatian demi perhatian untuk istrinya. Rizki pun dengan setianya mengantar Rosa ke tempat kerjanya juga selalu mengajak Rosa makan siang bersama.


Pusing, pening, serta tak enak badan di rasakan oleh Rosa saat ini. Bahkan disaat dirinya tengah berhadapan dengan Ayyas, Rosa menjadi tak fokus dengan sakit di kepala yang menyerangnya tiba-tiba bahkan tubuhnya terasa bergetar entah kenapa akhirnya Rosa terjatuh begitu saja.


Braakkk


Ayyas melebarkan matanya setelah mendapati Rosa terjatuh di lantai dalam ruang kerjanya terlebih sebelum terjatuh kepala Rosa terbentur ujung meja hingga membuat kening Rosa terluka mengeluarkan darah segar.


"Rosa" teriak Ayyas lalu mencoba membangunkan Rosa yang sudah tak sadarkan diri.


"Astaga kenapa si lo Ros. Ya Tuhan" kata Ayyas lalu mengendong Rosa keluar dari ruangannya dan di bawa ke IGD.


"Dok, dokter tolong periksa Rosa segera dok. Tadi dia tiba-tiba jatuh pingsan di ruangan saya dan kepalanya terbentur meja kaca diruang kerja saya. Tolong, tolong segera tangani Rosa" kata Ayyas yang sangat mengkhawatirkan Rosa. Biar bagaimana pun Ayyas tak pernah melihat Rosa seperti ini sebelumnya selama dirinya bersahabat dengan Rosa. Jadi sudah sangat jelas Ayyas langsung sangat khawatir dan tak sesantai biasanya.


Dokter dan perawat segera melakukan tindakan dengan Rosa, bahkan luka di kening Rosa terjadi perobekan dan harus segera di jahit. Semakin Ayyas khawatir kala mendengarnya. Ayyas tak henti mundar-mandir sambil menunggu hasil pemeriksaan terhadap sahabatnya ini.


"Ya Tuhan, lindungilah Rosa" gumamnya dalam hati.


Dua puluh menit kemudian dokter pun keluar dari tirai Rosa dan segera menemui Ayyas.


"Bagaimana dok?" tanya Ayyas tampak sangat khawatir.


"Luka di keningnya sudah saya tangani Pak. Kondisi mbak Rosa sangat lemah. Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya sehingga membuat tubuhnya lemah. Dan juga asam lambung mbak Rosa cukup tinggi hingga itu menjadi salah satu penyebab kenapa mbak Rosa bisa pingsan" jelas dokter Tita. Ayyas bernafas sedikit lega namun tetap juga khawatir. Kok bisa asam lambung Rosa kambuh lagi padahal sudah lama Rosa tak menderita maag.


"Tapi gak ada hal yang serius kan?" tanya Ayyas memastikan.

__ADS_1


"Kita akan melakukan pengecekan pada darah mbak Rosa pak. Kalo saya sedikit yakin jika mbak Rosa sedang mengandung. Tapi untuk memastikan saya akan melakukan pengecekan pada sample darahnya dan akan segera menghubungi dokter obgyn" jawab dokter Tita dengan senyum ramahnya.


Ayyas cukup terkejut juga mendengar apa yang dikatakan dokter tapi dirinya juga merasa bahagia jika Rosa benar dinyatakan sedang mengandung.


"Oke baik dok. Terima kasih. Tolong segera urus pemindahan Rosa ke ruang rawat inap VVIP ya. Biar Rosa di rawat disana, jika memang Rosa sedang mengandung biarkan dia istirahat"


"Baik pak Ayyas. Memang baiknya mbak Rosa bedrest dulu. Demi kebaikan mbak Rosa dan calon janinnya" ucap dokter Tita dan segera berlalu dari hadapan Ayyas.


Ayyas tersenyum bahagia tapi Ayyas tak mau kecewa sehingga Ayyas meminta segera dilakukan pemeriksaan akan sample darah Rosa untuk memastikan tebakan dokter Tita.


Beberapa jam kemudian semua sudah teratasi. Rosa sudah ada di dalam ruang rawat inap VVIP keluarga Ayyas dan juga sudah keluar hasil dari pemeriksaan sample darah Rosa. Dan hasilnya memang menunjukan jika Rosa benar mengandung.


"Puji Tuhan Ros" syukur Ayyas ketika membaca secara langsung hasil test darah Rosa. Rosa mengandung dan akan di pastikan berapa usia kandungannya setelah Rosa sadar akan di lakukan USG dan pengecekan dari kapan terakhir Rosa datang bulan.


Kening Rosa mendapat empat jahitan dan sudah di tutup oleh perban. Ayyas menatap Rosa yang terbaring di brankar dengan kondisi wajah yang sangat pucat. Bahkan sangat terlihat putih sekali bibir sahabatnya itu.


"Lo akan jadi ibu Ros. Lo akan jadi ibu" ucap Ayyas tanpa sadar menitikan air mata di sudut matanya.


"Astaga gue belum kasih tau Rizki" gumamnya lalu menrogoh dan mencari keberadaan ponselnya namun tak ketemu.


Ah Ayyas lupa jika ponselnya tertinggal di ruang kerja karena tadi dirinya segera menggendong Rosa untuk mendapatkan pertolongan.


"Sayang" panggil seseorang tak lain Deby setelah membuka pintu rawat inap Rosa.


Ayyas menoleh dan segera menghampiri Deby lalu memeluk istrinya mencari kenyaman dan ketenangan setelah kekhawatiran menyelimutinya.

__ADS_1


"Rosa kenapa?" tanya Deby yang masih memeluk Ayyas dan mengelus punggung suaminya.


Ayyas tak menjawab malah mengusel di puncak kepala istrinya dan menghirup wangi rambut Deby.


"Yaudah kamu tenang dulu ya sayang" kata Deby lagi dan di anggukan Ayyas. Hingga beberapa menit kemudian Ayyas melepaskan pelukannya dan menatap Deby yang kini ikut khawatir dengan kondisi Rosa.


Ayyas melemparkan senyum dengan sudut masih ada sisa air matanya tadi. Ayyas juga membenahi anak rambut Deby hingga belakang telinga.


"Rosa tadi pingsan di ruang kerja aku terus keningnya kebentur meja, terus sobek dan tadi udah di jahit" ucap Ayyas merasa bersalah padahal ini semua bukanlah salahnya.


"Lalu kata dokter apa?" tanya Deby dengan lembut dan menghapus sisa air mata di sudut mata Ayyas.


"Dokter bilang Rosa seperti sedang memikirkan sesuatu, entah apa tapi aku rasa iya. Karena belakangan ini aku merasa perubahan sikap Rosa tapi aku gak berani tanya kalau dia gak cerita"


"Apa kamu sudah hubungi Rizki?" tanya Deby dan Ayyas menggelengkan kepalanya.


"Belum. Tadi aku panik dan langsung bawa Rosa ke IGD bahkan aku gak bawa ponselku. Kayaknya masih di ruang kerjaku. Kamu sendiri tau aku disini dari mana?"


"Aku tadi ke ruang kerja kamu sayang dan kata sekretaris kamu, tadi kamu keluar sambil gendong Rosa ke IGD dan kamu keliatan panij banget jadi aku ke IGD dan setelah itu perawat disana bilang kamu disini"


"Hmm makasih ya sayang. Maaf gak sempet kabarin kamu" sesal Ayyas yang takut membuat Deby marah. Tapi nyatanya Deby malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Iya gak apa-apa sayang. Aku ngerti kok. Mungkin kalo aku di posisi kamu, aku akan melakukan hal yang sama. Rosa udah kamu anggap sebagai adik kamu begitu juga aku. Aku juga udah anggap Rosa sebagai adik aku bukan hanya sekedar sahabat. Terima kasih sudah menolong Rosa ya sayang" ucap Deby yang langsung memeluk Ayyas. Ayyas menganggukan kepalanya tanda bersyukur karena Deby satu frekuansi dengan dirinya.


"Yaudah sekarang hubungi Rizki dulu ya. Rizki kan suaminya jadi dia harus tahu kondisi Rosa sekarang" ucap Deby lagi dan Ayyas menganggukan kepala setuju.

__ADS_1


***


__ADS_2