Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
123.


__ADS_3

"Twins kabarnya gimana Ros?" tanya Deby yang baru mengunjungi Rosa. Deby memendam rindu karena hanya bisa menemani Rosa lewat ponsel saja. Setelah di pastikan kondisi Deby dan kandungannya lebih baik, Deby memohon kepada Ayyas untuk bisa menemui sahabatnya itu. Dan setelah persyaratan panjang Ayyas pun mengizinkan Deby.


"Alhamdulillah semakin baik. Doakan semoga segera bisa pulang ya" jawab Rosa sambil membayangkan wajah kedua anaknya yang masih di dalam inkubator.


Deby menggenggam tangan Rosa dan menatap Rosa hampir menangis. Perempuan di hadapannya sungguh sangat kuat dan tangguh. Deby berpikir jika dirinya mengalami hal seperti Rosa sepertinya belum tentu sanggup.


"Kamu gimana? Jangan capek-capek. Harusnya gak usah kesini Deb" kata Rosa dengan menatap Deby. Deby melengkungkam senyum keatas lalu beranjak dan memeluk Rosa.


"Aku kangen, emang kamu gak kangen aku? Lagi pula aku bosan dirumah terus Ros. Ayyas bahkan gak mengizinkan aku untuk melakukan apapun" serunya dengan mengurai pelukannya.


"Memang. Aku pun bosan disini tapi karena aku gak mau jauh dari anak-anak ku jadi aku bertahan disini terlebih mertuamu sangat baik sampai aku di berikam fasilitas kamar ini yang sudah jelas kalau aku membayarnya sendiri jelas berapa nol nya sudah bikin geleng-geleng"


"Mertuaku itu orang tua kamu Ros. Mamih sudah menganggap kamu anaknya jadi aku rasa ini bukanlah hal yang harus di perhitungkan"


"Hmm. Tapi aku masih merasa engga enak Deb. Mamih sangat baik, pantas Ayyas dan ci Alina sangat baik itu karena ajaran mamih. Dan aku pun berharap aku bisa seperti itu kepada kedua anak-anakku" ucap Rosa dan di anggukan oleh Deby.


Deby dan Rosa pun berbincang apa pun. Bahkan sering kali Deby menanyakan bagaimana perasaan Rosa saat ini, begitu oun Rosa yang menanyakan perihal kehidupan setelah menikah Deby dan Ayyas. Hingga akhirnya suara ketukan pintu mengganggu mereka. Rosa tidak membiarkan Deby untuk membuka pintu dan memutuskan untuk dirinya yang membuka.


Ceklek.


Tatapan Rosa berubah sambil menatap seseorang yang ada di hadapannya. Seulas senyum tercetak di seseorang tersebut tapi tidak dengan Rosa yang hanya menatapnya kikuk. Jelas Rosa tidak mengenalnya hanya sebatas mengetahui siapa seseorang tersebut.


"Hai" sapa seseorang tersebut dengan sangat ramah dan melambaikan tangannya. Rosa hanya menganggukan kepalanya dan akhirnya memaksakan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Aku Sena. Kembarannya Sani. Boleh aku berkunjung menjengukmu dan ini... Ini ada bingkisan untukmu dan anak-anakmu" katanya dengan senyum yang masih tercetak jelas.


Rosa terdiam sesaat lalu menatap mata Sena mencari maksud dari kedatangannya.


"Ambillah. Tidak boleh menolak rezeki. Boleh aku masuk ke dalam?" kata Sena lagi dengan memberikan bingkisan yang di bawakan kepada Rosa.


Rosa menghembuskan nafasnya lalu membiarkan Sena memasuki kamar Rosa. Deby yang melihat seseorang yang semakin dekat dengan dirinya menghimpitkan alisnya dan menajamkan penglihatannya. Iya, Deby mengira jika Sanilah yang datang.


"Duduklah, biar aku ambilkan minum untukmu" kata Rosa sambil berlalu dan menggambilkan minum untuk Sena.


Sena melempar senyum kepada Deby yang sedari tadi menatapnya tidak suka. Entahlah mengapa yang pasti Sena pun tak turut pusing. Sudah jelas dan sudah pasti karena wajahnya yang sangat mirip dengan sang kembaran.


"Aku sudah memaafkan kembaranmu" ucap Rosa setelah memberikan Sena minum dan duduk berhadapan dengan Sena. Sena sama sekali tak melunturkan senyumannya tapi ekspresi wajah Deby berubah menjadi tanya. Seolah memang Deby sama sekali belum mengetahui banyak tentang Rosa.


"Hmm, apa lagi ada yang kamu kamu bahas? Oh iya sebelumnya terima kasih untuk bingkisan yang kamu bawakan untuk anak-anakku"


"Ada. Dan kamu harus mengetahui apa yang seharusnya. Dan juga sama-sama"


"Katakanlah" kata Rosa yang sungguh sudah sangat malas.


"Di balik kecelakaan itu murni ada dalangnya dan dalangnya adalah seseorang yang memiliki dendam dengan orang tuaku. Aku pun bermaksud meminta maaf atas hal yang tidak bisa terkendali ini dan mengorbankan keluarga kecilmu" kata Sena langsung pada intinya kedatangannya.


Rosa mencerna perkataan yang barusan di dengarnya. Dendam seseorang yang mengorbankan keluarga kecil Rosa?

__ADS_1


"Bukan maksudku membela kembaranku. Hanya aku pun menegaskan jika dia dan suaminya pun korban dari seseorang tersebut. Bahkan saat pikiran kembaranku buntu setelah di nyatakan hamil, dengan sangat bodoh mendatangi suamimu dan meminta pertanggung jawaban. Ha ha ha sungguh sangat konyol"


"Aku tahu ini pasti sulit untuk di mengerti tapi ketahuilah jika kembaranku tidak seburuk itu bahkan dirinya masih hampir setiap hari menangis karena merasa bersalah dengan kamu. Merasa merusak keluarga kecilmu dan hingga membuat anak-anak serta suamimu seperti ini"


"Aku dan sahabatmu sudah membereskan semuanya. Meski belum sepenuhnya karena orang tuaku masih belum mempercayai jika kesalahan masa lalunya bisa menimbulkan masalah dan kerugian seperti ini. Tapi setidaknya seseorang itu telah menjalani hukumannya"


"Aku tidak membalikan kondisi semua menjadi semula. Aku hanya berharap ketegaranmu atas semua yang terjadi. Aku meminta maaf bukan atas kembaranku tetapi atas nama papihku dan juga seseorang itu yang tak lain saudara seayahku. Dan aku berjanji hal ini tidak akan terulang kembali"


***


Suatu keajiban sangat di nantikan dalam perkembangan kondisi Rizki. Ya Alhamdulillah malam itu tubuh Rizki memberikan respon baik. Tangannya mulai tergerakan perlahan juga kedua matanya perlahan terbuka pelan-pelan. Rizki memandangi langit kamar rumah sakit dan mencoba mengingat kejadian terakhir yang di alaminya. Sakit, rasanya sakit sekujur tubuhnya juga kepalanya yang berdenyut.


Dan siapa sangka tepat saat itu ada Ayyas yang sedang mengunjungi ruang ICU Rizki. Ayyas melebarkan matanya kala melihat mata Rizki yang sudah terbuka sempurna namun tatapan mata Rizki masih menatap langit kamar rumah sakitnya.


"Oh my God" kata Ayyas yang lalu menekan tombol untuk memanggil suster atau dokter yang sedang berjaga.


Tidak lama dokter datang dan segera memeriksa kondisi Rizki saat ini. Lagi dan lagi Ayyas mengucap Puji Tuhan atas sadarnya Rizki dari tidur lamanya. Ayyas menunggu dokter yang memeriksa Rizki sambil menggigit kuku di jarinya menandakan Ayyas sangat khawatir, panik, senang menjadi satu.


"Akhirnya lo sadar juga Ki" kata Ayyas lirih yang masih memandangi kesibukan dokter dan suster dalam memeriksa kondisi Rizki.


"Bertahanlah, setidaknya jika bukan untuk Rosa tapi untuk kedua anak lo" kata Ayyas lagi sambil menetralkan perasaannya. Bahkan Ayyas pun belum menghubungi siapa pun. Dirinya masih setia menantikan kabar baik.


***

__ADS_1


__ADS_2