
Keesokan harinya ibu Titi sudah pulang dari pagi-pagi sekali. Rizki selepas melaksanakan ibadah subuhnya lanjut merebahkan tubuh memeluk sang istri. Rizki memandangi wajah Rosa yang terpejam dengan wajah yang sangat terlihat polos, lugu dan lucu. Bulu mata yang lentik dan hidung mancung meski tak semancung dirinya.
Di kecupnya dengan lembut kedua mata, hidung, pipi dan bibir Rosa. Rosa pun membuka matanya setelah merasakan hembusan hangat nafasnya Rizki. Kedua mata mereka saling bertemu dan terlihat wajah Rizki dengan senyum khasnya yang kini mendebarkan hati Rosa. Tapi tiba-tiba Rosa mengingat setiap kata yang di ucapkan Rizki dan menurutnya itu melukai hatinya karena seolah mempermainkan sebuah permainan. Apakah pernikahan itu sebuah permainan, pikir Rosa saat itu. Rosa memutuskan tatapan mata itu dan menundukan kepalanya, tersenyum getir dengan menghembuskan nafasnya perlahan.
Rizki menarik dagu Rosa lalu mendekatkan bibirnya lagi dengan bibir Rosa yang dirasa manis, sangat manis. Bukan hanya sekilas namun kecupan Rizki kali ini lebih menuntun dengan menekan tengkuk Rosa hingga memperdalam kecupannya. Melepaskan rindu yang Rizki rasakan dan mencurahkan rasa sayang kepada Rosa. Sayang? Tapi tidak sadar jika sebenarnya selama ini menyakiti, hmm.
"Cepet sehat sayang, aku kangen" bisik Rizki tepat di telinga Rosa setelah Rizki melepas kecupannya. Rosa hanya membalas dengan senyum kecil tanpa berkata sepatah kata pun.
Getar ponsel Rizki sangat terasa dan membuat Rizki segera meraih ponselnya ini. Rizki beranjak duduk dengan Rosa yang masih rebahan di sampingnya.
'Aku mencintai kamu mas tapi kenapa mencintai kamu sesakit ini. Lebih sakit saat Hari meninggalkan aku dulu. Kenapa aku selalu merasa sakit seperti ini kala aku benar-benar mencintai seseorang? Aaah iya sebenarnya siapa aku di hati kamu? Apa aku hanyalah seorang sahabat yang gak bisa berganti menjadi seorang istri?' tanya Rosa dalam hatinya dengan menatap Rizki yang tengah sibuk dengan ponselnya. Rizki sedang mengurusi pekerjaannya dari Alif sang asistent. Ya memang tak mengenal waktu karena waktu Rizki di habiskan untuk Rosa meski pekerjaannya sangat membutuhkannya saat ini.
"Sayang" panggil Rizki setelah menaruh ponselnya di atas nakas dan menoleh mematap Rosa yang tengah menatapmya.
"Hm" sahut Rosa dengan senyum manis namun hatinya sakit.
"Kalau aku tinggal ke kantor dulu boleh? Tapi aku gak tega kamu sendirian" izin Rizki yang memang sedang ada pekerjaan tak bisa di tunda.
"Boleh" jawab Rosa dengan senyum dan anggukan kepala.
__ADS_1
"Tapi kamu sendirian sayang" keluh Rizki dengan mengelus rambut Rosa pelan.
"Enggak. Nanti aku telpon mama Wina buat temenin aku kesini. Mama pasti ngiranya aku nginep dirumah ibu"
"Maaf aku gak kabarin mama Wina, aku juga takut mama Wina khawatir sama kamu"
"Wajar. Aku anak satu-satunya. Yaudah bersiaplah untuk berangkat ke kantor mas" ucap Rosa tanpa menatap kedua mata Rizki. Rizki mengecup kening istrinya lama lalu segera beranjak dari posisinya.
Bukan langsung ke kamar mandi melainkan ke pintu masuk dan menguncinya dari dalam. Rosa tak mengetahui apa yang di lakukan suaminya karena posisi Rosa membelakangi Rizki.
Dengan cepat Rizki melangkah lalu memeluk Rosa dari belakang, Rizki mengusel seperti kebiasaannya yang mana kelakuannya membuat Rosa kegelian.
***
Meski keningnya masih terasa berdenyut tapi Rosa terlihat lebih segar. Setelah memenuhi suaminya melepaskan kangen, Rizki membantu Rosa untuk membersihkan diri. Rizki pun berangkat menuju kantornya dan meninggalkan Rosa setelah menelpon mama Wina untuk segera ke rumah sakit.
Selang tiga puluh menit kemudian mama Wina muncul di balik pintu dengan wajah sangat khawatirnya. Bahkan mama Wina sampai menjatuhkan air mata melihat anak satu-satunya terdapat kasa menempel di keningnya.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya mama Wina setelah melepas pelukannya dan mengelus pipi chubby Rosa.
__ADS_1
"Gak apa-apa ihk. Aku gak hati-hati jadinya jatuh kena meja mah. Gak apa-apa kok" jawab Rosa tak ingin membuat mama Wina khawatir.
"Ini sampe di kasain lho Ros. Berapa jaitan ini?" tanya mama Wina meneliti wajah Rosa.
"He he he peluk ah sini kangen. Maafin aku ya gak ngabarin mama. Aku takut mama khawatir padahal ujung-ujungnya hubungin mama juga. Maaf ya mama Winaku sayang" kata Rosa dengan memeluk mama Wina dengan erat. Mama Wina sendiri mengelus punggung Rosa dengan mendaruh dagunya di bahu Rosa.
"Udah tahu mamanya khawatir tapi enggak di kasih tahu kalo terjadi sesuatu sama kamu. Suami kamu juga gak ada insiatifnya buat bilang ke mama gitu Ros? Kalo udah gini tuh mama jadi kepikiran terus tau Ros" curhat mama Wina dengan perasaannya.
"Maaf ya mama sayang. Aku yang larang Rizki aku kira akan secepat itu untuk segera pulang ke rumah tapi ternyata Ayyas melarang dan meminta dokter buat tahan aku disini. Katanya supaya aku bedrest. Padahal kan enakan di rumah bedrestnya mah"
"Heeh si Ayyas juga terlibat ternyata. Tapi yang di bilang Ayyas bener sih. Kamu kalo di rumah pasti bukannya bedrest. Kemungkinan gak bedrestnya banyak. Apa lagi sekarang udah punya suami yang harus di urusin kan. Kalo suami kamu tiba-tiba ngajak bikin cucu buat mama gimana? Kan jadi gak bedrest tuh" kata mama Wina menggoda Rosa.
Rosa tersipu malu dengan pipi yang sudah merona. Bagaimana jika mamanya tahu bahwa beberapa waktu lalu mereka juga melakukan hal pembuatan cucu itu? Meski sebenarnya cucu mama Wina sudah jadi dan sedang berkembang di rahim Rosa.
Aahh Rosa terdiam sebentar sambil memikirkan apa yang harus dirinya lakukan? Bahkan tentang kehamilan yang baru dirinya ketahui dalam hitungan jam beberapa waktu lalu?
"Nah melamun. Kenapa? Ada apa? Atau mau makan apa? Maaf mama gak bawa apa-apa karena tadi pas Rizki kabarin kamu ada di rumah sakit, mama buru-buru dan gak sempet beliin kamu makanan. Mama bawaannya pengen liat anak mama dulu, pengen tahu kondisi anak mama dulu. Nah sekarang kan mama udah tahu nih kondisi kamu. Jadi kamu mau makan apa? Mama tahu kalo kamu gak suka makan makanan rumah sakit. Jadi biar mama beliin sekalian mama juga mau beli sarapan. Terkuras euy tenaga mama lari-larian kesini belom makan" kata mama Wina panjang lebar dan menerbitkan senyum di bibir Rosa. Entah kenapa mendengar mamanya berceloteh seperti ini membuat hati Rosa menghangat dan melupakan sedikit rasa sakit hatinya.
Emang cuma ibu obat dari segala obat, bagi Rosa seperti itu.
__ADS_1