
"Gak usah gitu deh Rosa Malinka istrinya Rizki Adipati Prasetya. Ini aku lagi berusaha jujur lho sama kamu. Meski aku udah lama menjalin hubungan sama sahabat kamu tapi aku itu masih suka malu kalo nunjukin sifat aku yang lainnya gitu. Terlebih nih bawain lagu bukan hobi aku, cuma aku suka aja bawain lagu gitu kan. Paham gak sih kamu? Aku jadi bingung sendiri jelasinnya" jabar Deby yang terheran sendiri.
"Bukan gitu maksud aku Deb. Cuma agak heran sedikit aja. Aku kira kamu udah terbuka sama Ayyas jadi kayak udah gak ada malu gitu he he. Hmm mau bawain lagu apa memangnya?" tanya Rosa kali ini dengan serius. Deby tersenyum lebar mendengar kalimat yang sangat di dengarnya. Deby langsung memajukan badannya dan berbisik tepat di telinga Rosa sambil menyebutkan judul lagu apa yang ingin ia di bawakan.
"Hah? Lagu yang lagi viral itu? Tapi apa bisa aku dengan nada tinggi kayak gitu?" tanya Rosa yang tak yakin dengan kemampuannya.
"Pasti bisalah Ros. Yakin aku mah. Kan aku juga suka denger kamu bawain lagu dengan nada tinggi kayak gitu. Dan aku rasa itu juga bakalan jadi kejutan buat suami kamu"
"Aku boleh nolak gak sih?" tanya Rosa yang sudah jelas digelengkan kepala Deby.
"No. Tidak ada penolakan kalo kamu sahabat aku" jawab Deby dengan menghimpitkan alis dan menatap serius Rosa.
"Emang kita sahabatan ya Deb?" tanya Rosa pura-pura dengan memutar-mutar kan bola matanya ke sembarang arah.
Bibir Deby seketika maju lima senti dengan tatapan yang berubah sinis kepada Rosa.
"Ha ha ha ha. Dduuuuh gemes banget aku sama sahabat aku yang satu ini" seru Rosa dengan deraian tawa karena di tatap sinis.
"Jadi gimana? Mau kan?" tanya Deby memastikan dan jelas memaksakan.
"Hemm aku coba denger lagunya dulu ya. Tapi kalo aku gak bisa gimana?"
"Kalo gak bisa berarti kamu bukan sahabat aku" kata Deby pura-pura merajuk. Bukan tanpa alasan jika Deby menginginkan membawakan lagi bersama Rosa. Karena memang lagu yang akan di bawakan ini seperti kisah yang sedang terjadi di diri Rosa.
"Tuh tuh tuh kalo kayak gitu malah makin mirip sama Ayyas. Ayyas ngasih kamu apa sih sampe kamu kayak gini? Herman deh aku"
"Heran Ros" kata Deby memperbaikin kata Rosa yang salah.
__ADS_1
"Jadi gimana? Mau kan? Mau donk. Masa enggak" lanjut Deby penuh pengajakan.
***
Waktu berlalu dan hari ini adalah hari pernikahan Ayyas dan Deby. Semua berjalan sesuai rencana meski diawali dengan ke tegangan di antara keduanya.
Ayyas terlihat sangat bahagia begitu juga Deby yang terbalut dalam gaun pernikahan karya Yuda Munandar. Sungguh bak princes Deby ini. Cantik ya sangat cantik bahkan di mata Ayyas lebih dari itu.
Ayyas merupakan anak dari pemilik rumah sakit Rosa bekerja tentu sangat banyak sekali tamu undangannya. Bahkan teman dari kedua belah pihak juga turut meramaikan acara pernikahan mereka.
Rizki, Rosa dan Yuda menghampiri dua orang yang tengah berbahagia di atas pelaminan. Pelukan mendarat dari Rosa kepada Deby begitu juga Yuda dan Rizki kepada Ayyas saling bergantian.
"Selamat Ayyas akhirnya udah punya tanggung jawab. Gue turut bahagia bisa menjadi saksi dari kisah kalian" kata Yuda selepas pelukannya kepada Ayyas.
Ayyas merangkul Yuda dan Rizki dengan dirinya berada di tengah.
"Emang dugaan lo kayak gimana Yas? Lo pasti berpikir negatif ya tentang kita berdua?" tanya Yuda dari ekor matanya.
"Lo tuh yang negatif aja kalo bales perkataan gue Yud. Ngerusak momen deh. Kan ceritanya gue lagi terharu"
"Yaelah terharu apanya. Muka lo aja santai gitu. Terharu dimananya?" seru Yuda sambil memindai wajah Ayyas. Sejujurnya Yuda tau jika Ayyas serius dalam perkataannya namun biasalah Yuda kalo gak gitu rasanya enggak afdol.
"Ki lo gak mau belain gue gitu? Lo percaya kan sama perkataan gue?" kata Ayyas menampilkan wajah memelas kepada Rizki agar membelanya. Yuda menggelengkan kepalanya sambil menatap Rizki dengan menahan tawanya.
"Lah? Yang di bilang Yuda kan emang bener Yas" seru Rizki entah mengerti atau tidak maksud Ayyas.
Yuda tersenyum seperti penuh kemenangan. Puas rasanya bisa meledek Ayyas di hari bahagianya.
__ADS_1
"Ah gak asyik lo Ki" ucap Ayyas meranjuk melepas rangkulan Yuda dan Rizki juga bibirnya sudah mengkrucut.
"Yaelah gitu aja ngambek. Malu lho di liatin tamu. Gak usah sok sok di tekuk itu muka" celetuk Yuda lalu merangkul Ayyas dengan senyum dan kekehan kecil begitu pun dengan Rizki yang melakukan hal yang sama kepada Ayyas.
"Auu ah rese ah. Males" sebel Ayyas masih dengan merajuknya.
"Iya nih Ayyas gitu aja baper. Baper apa laper he he he" kata Rizki mulai bersuara.
"Versi lapernya gue beda Ki. Pahamlah lo pasti ha ha ha" sahut Ayyas menggoda Rizki.
"Hah?" tanya Rizki meloading tapi akhirnya mengerti dan memilih diam dengan senyum malu-malu.
"Tau deh yang udah nikah. Beda bahasanya sama gue yang masih jomblo" protes Yuda melirik Ayyas dan Rizki bergantian.
"Ha ha ha bodo amat makanya buruan masa lo kalah telak sama Rizki. Keduluan kan akhirnya" kata Ayyas yang tanpa sadar membuat senyum Rizki sedikit memudar. Lho?
"Berarti bukan jodoh gue Yas. Itu jodohnya Rizki. Ahelah lo gak usah begitu. Gak usah di dengerin perkataan Ayyas Ki. Emang itu mulut sama penampilan bertolak belakang. Ganteng si ganteng tapi LEMES BANGET" protes Yuda segera menjelaskan supaya Rizki tak salah paham.
Namun meski begitu tetap saja terkadang membuat Rizki merasa tak enak hati akan yang terjadi. Mereka mencintai satu orang yang sama.
Rizki mengulas senyum kepada Yuda yang berusaha tak membuat salah paham atas perkataan Ayyas. Hingga akhirnya Rizki menatap dengan rasa bersalah kepada Yuda.
"Maaf Yud. Gue gak maksud nikung lo tapi gue gak bisa bohong sama perasaan gue sendiri".
Yuda spechless dan merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat. Yuda menggelengkan kepalanya dan melepas rangkulan Ayyas lalu menghampiri Rizki yang berada di sebelah Ayyas.
"Kenapa harus minta maaf? Nikung? Kan gue gak ada hubungan apa-apa sama Rosa sebelumnya Ki. Kita deket sama halnya kayak lo dan Ayyas. Gue juga salah Ki karena bukan anggep Rosa sebagai sahabat melainkan seorang wanita. Tapi gue baik-baik aja saat gue tau lo adalah calon suaminya saat itu..."
__ADS_1