
"Sayang ini dimana?" tanya Adel setelah keluar dari mobil yang di kendarai Indra. Indra menoleh dan tersenyum kepada Adel. Padahal Indra sendiri tidak tahu jika mereka berada dimana.
"Rumah boss ku" jawab Indra asal. Indra hanya di suruh Yuda untuk membawa Adel ke rumah ini.
"Ayooo" ajak Indra dan Adel mengikuti dari belakang, malah Adel mencoba mensejajarkan langkahnya lalu dengan memeluk lengan Indra seperti biasanya. Indra menatap dari ujung matanya tidak suka. Diakui jika dulu Indra sangat menyukai jika Adel bersikap demikian tapi kali ini tidak lagi.
Sesampainya di dalam ruangan rumah tersebut membuat Adel terkagum dengan desain dan interior yang ada disana. Matanya berbinar seolah ingin memiliki desain dan interior tersebut.
"Kalau nanti kita menikah, aku ingin punya rumah dengan desain dan interior seperti ini sayang" ucapnya yang masih terkagum dan tanpa menoleh ke Indra.
Indra hanya diam dan tak menyahut karena Indra tidak mau memberikan harapan kepada mantan pacarnya ini. Indra sangat menyadari jika hubungannya dengan Adel tak akan bisa kembali seperti sedia kala. Kini hanya ada Sani dan Mika yang harus dipikirkannya.
Indra mengajak Adel untuk duduk terlebih dahulu dimana disana terdapat satu tv berukuran besar yang sedang berhadapan dengan posisi Adel duduk. Tiba-tiba lampu dalam ruangan tersebut mati dan keadaan ruangan menjadi gelap.
"Sayang" sentak Adel sedikit terkejut.
"Aku disini, tunggu sebentar" ucap Indra sesuai intruksi Yuda sebelumnya.
"Iya" jawab Adel pelan tapi sungguh dirinya merasa takut. Adel berusah menepis segala takutnya dan meyakinkan dirinya akan baik-baik saja setelah ini karena Indra akan kembali bersamanya.
Dalam hitungan detik.
Satu
Dua
Tiga
__ADS_1
TV besar tersebut memantulkan cahaya. Adel terfokus dengan apa yang sedang di tayangkan di hadapannya. Seulas senyum terbit di bibirnya karena sebuah cuplikan video dirinya bersama Indra terpapang jelas disana. Memori dalam kenangan yang terukir saat hubungan asmara mereka terajut manis kala itu. Begitu pula di tengah video berputar rencana-rencana Adel yang sedikit menyimpang dari rasa cintanya kepada Indra.
Terlihat jelas bagaimana Adel merencanakan semuanya. Mulai memanipulasikan data penyakitnya hingga merencanakan jebakan Sani yang berakhir di ranjang dengan Indra. Bahkan rencana percobaan penabrakan atas Sani dan Mika tapi yang tertabrak salah sasaran.
Senyum Adel berubah pias setelah video demi video tersebut berputar. Adel melebarkan matanya dengan degup jantung yang tidak karuan. Otaknya terus bertanya dan memikirkan apa yang harus di jelaskan kepala Indra. Adel paham betul jika Indra bukanlah orang yang akan mudah memaafkan dengan kesalahan yang sangat fatal seperti ini.
Tepuk tangan terdengar dan mulai melamurkan pikiran Adel sambil mencari suara tepuk tangan itu berasal. Tepat suara tepuk tangan itu berada di hadapannya, lampu ruangan tersebut lun menyala. Dan sangat terlihat jelas wajah pucat Adel saat tepat di hadapannya berdiri Yuda, Indra dan Sani. Bahkan Indra tak segan menggenggam tangan Sani dengan erat di depan hadapan Adel.
"Ma-maksud kamu apa sayang?" tanya Adel dengan menatap ketiga orang di hadapannya secara bergantian.
"Seharusnya aku yang tanya kamu Del. Apa maksud dari semua ini?" balik Indra bertanya tak habis pikir.
"Kamu percaya dengan video bohong itu? Kamu kenal aku baik-baik, mana mungkin aku seperti itu" bela Adel dengan air mata yang bergenang di pelupuk matanya. Jujur dalam diri Adel sangat takut tetapi Adel tak ingin semua terbongkar begitu saja setelah semua yang sudah dirinya korbankan.
"Iya aku percaya. Dan aku pun percaya bahwa kamu tidak sebaik yang aku kira"
"Setelah semua yang kita lalui? Ck" geram Indra dengan melempar tatapan amarah.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu. Setelah semua yang kita lalui, kamu hancurkan begitu saja hanya karena dendam kamu. Bahkan aku meragukan perasaan kamu setelah berapa tahun kita bersama. Kamu hancurkan aku begitu saja tanpa kamu sadari itu. Aku memang cinta sama kamu, aku sangat sayang sama kamu sampai aku terlalu bodoh dan menjadi sangat bodoh. Dan sejak aku mengetahui ini semua sejak saat itu juga semua perasaan aku ke kamu hilang" kata Indra dengan nafas yang mengebu-gebu. Sani hanya menundukan kepalanya dengan tangannya yang semakin erat di genggam Indra.
"Enggak sayang. Perasaan kamu masih sama dan kita pun akan sama-sama sebentar lagi"
"Jangan bermimpi. Akui semua perbuatan kamu sebelum aku yang akan menyeret kamu dan membawa masalah ini ke ranah hukum!"
"Ck!! Apa kamu setega itu?" tanya Adel memasang wajah melasnya. Biasanya Indra tidak akan sanggup dengan wajah melas Adel seperti ini.
"Why not? Kamu bahkan lebih tega melibatkan orang-orang yang tidak bersalah atas dendam kamu itu. Bahkan dengan egoisnya kamu menginginkan aku setelah kamu membuat aku menghamili saudara kamu sendiri" teriak Indra tak tahan lagi. Sani menoleh dan menatap Indra dari samping wajahnya. Raut amarah Indra sangat terlihat jelas disana. Tapi ucapan Indra barusan membuat Sani berpikir seketika. Saudara kamu sendiri?.
__ADS_1
Adel semakin melebarkan matanya karena dirasa sudah tidak bisa mengelak dengan apa yang di tuduhkan Indra. Tuduhkan? Lho itu kan kenyataannya.
"Sejauh apa kamu tahu?" tanya Adel kini dengan suara beratnya dan tatapan tidak suka kepada Indra dan Sani.
"Hampir semua. Hampir semua aku tahu niat busuk kamu Adel!!"
"Ck" ucap Adel dengan senyum miring.
"Ini semua pasti kerjaan lo kan Yud" kata Adel dengan tatapan sinis kepada Yuda. Yuda pun membalas tatapan Adel tidak kalah sinis.
"Kerjaan gue? Ck!" tanya Yuda pura-pura tidak mengerti.
"Lo sengaja mau menjatuhkan gue di hadapan pacar gue kan" tuduh Adel dengan suara keras.
"Pacar lo? Siapa?" tanya Yuda lagi dengan ekspresi polos.
"Gak usah belaga gak tahu Yud. Gue tahu lo bukan orang sembarangan bahkan lo juga orang yang sangat berpengaruh. Dengan kekuasaan orang tua lo sudah sangat di pastikan ini semua pasti kerjaan lo!!"
"Ck!! Cerdas tapi harus lo ralat. Gue gak akan ngelakuin kerjaan gak penting ini kalo bukan lo salah sasaran!!"
"Apa mau lo hah? Lo kira gue mau salah sasaran?? Enggak!"
"Adel" panggil Sani dengan suara lembutnya. Bahkan terdengar gemetar karena merasa sakit dalam dadanya setelah menelaah apa yang barusan di dengarnya.
Adel pun kini menatap Sani dengan wajah penuh amarah terlebih di hadapannya Indra sangat melindungi istrinya.
"Ha ha ha ha" gelak tawa Adel mencoba melepas rasa pertanyaan yang tak terjawab dalam otaknya.
__ADS_1