
"Pah. Kadang Rosa suka bertanya. Kenapa Allah begitu cepat panggil papa? Padahal Rosa belum ngerasain kasih sayang papa. Padahal Rosa masih ingin punya papa. Padahl Rosa masih ingin ada papa"
"Papa maaf bukannya Rosa enggak menerima kenyataan ini. Rosa hanya berandai aja. Gak apa-apa kan pah? Rosa suka berandai, kalo papa masih ada mungkin Rosa akan ada di pelukan papa saat Rosa banyak pikiran kayak gini. Mungkin juga kalo papa masih ada, Rosa gak harus kemana-mana sendiri lagi. Pasti akan ada papa yang akan ngelindungin Rosa. Iya kan pah?"
"Pah tapi biar gimana pun juga Rosa tetaplah anak yang beruntung. Meski Rosa kehilangan kasih sayang papa tapi Allah ganti dengan kasih sayang dari ketiga keluarga sahabat Rosa. Papa tahu kan?"
"Rosa enggak kesepian pah. tapi maaf terkadang Rosa masih suka merasa iri dengan mereka yang masih berorang tua lengkap. Eh tapi Rosa juga bersyukur pah. Papa pasti tau kan semenjak kepergian papa kalo mama itu jadi orang tua double buat Rosa. Mama super hero Rosa lho pah"
"Rosa sayang banget sama mama pah. Rosa gak mau kecewain mama dan Rosa mau mama selalu bahagia"
"Pah. Mama minta Rosa menikah. Memang sih yang di katakan mama benar. Usia Rosa udah 28 tahun. Udah cukup kan pah buat nikah. Malah harusnya usia Rosa ini udah punya anak ya pah he he he"
^^^"Tapi sayang pah. Rosa belum punya pacar. Rosa masih jomblo lho. Pernah sih Rosa pacaran dan deket sama beberapa laki-laki. Tapi rasanya belum ada yang bikin Rosa nyaman. Belum ada yang bisa bikin Rosa percaya. Ada sih yang bikin Rosa nyaman dan percaya. Ya ketiga sahabat Rosa itu pah. Tapi masa iya Rosa menikah dengan salah satu di antara mereka. Apa itu lucu pah?"^^^
"Huft! Hmm sebenernya Rizki pah. Rizki ngelamar Rosa secara pribadi 3 hari lalu. Dan kemarin ibu nya juga bilang sendiri ke Rosa dan malamnya Rizki ngelamar Rosa lewat mama pah"
"Jujur Rosa bingung pah. Selama ini Rosa menganggap Rizki sama kayak Ayyas dan Yuda. Mereka sahabat Rosa. Mereka teman baik Rosa. Sekarang Rosa harus apa?"
"Selain itu mama juga sebenernya setuju dengan Rizki. Kenapa? Karena Rizki memang sudah tau Rosa luar dan dalam. Sikap dan sifat. Baik dan buruk Rosa dan hampir semua tentang Rosa, Rizki itu tau pah"
"Rosa minta restu papa. Jika memang mama setuju dengan Rizki. Rosa akan coba pikirkan semuanya. Doain Rosa juga ya pah" ucap Rosa tersenyum sambil mengusap batu nisan sang papa.
"Rosa pamit yah pah. Terima kasih udah dengerin celotehan Rosa. Rosa sedikit lega sekarang"
__ADS_1
"Assalamualaikum pah" ucapnya lalu beranjak meninggalkan pusara papanya. Rosa pun berjalan kaki hingga halte bus terdekat dari tempat pemakaman umum tersebut.
Rosa duduk sambil menunggu bus. Tak lupa Rosa pun memeriksa ponselnya yang ternyata sudah mati karena kehabisan daya. Akhirnya Rosa pun memasukan kembali ponselnya ke dalam tas yang di bawanya.
***
Rosa pun telah sampai di rumahnya tiga puluh menit yang lalu. Rosa juga sudah membersihkan dirinya dan mengisi daya ponselnya. Saat menyalakan ponselnya terlihqt banyak pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab. Terlebih lagi semua itu dari Rizki. Rosa pun tersenyum kecil dan hendak membalas pesan yang di terimanya namun tiba-tiba ponselnya berdering dan panggilan masuk itu dari Rizki tentunya.
'Halo' sapa Rosa setelah sambungan telpon tersambung.
'Halo Sa. Kamu dimana?' tanya Rizki langsung yang sangat terdengar khawatir. Rosa menghimpitkan kedua alisnya sambil menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar.
'Gue dirumah'
'Yaudah tunggu. Jangan kemana-mana. Aku kesitu sekarang!' kata Rizki langsung dan memutuskan sambungan telponnya dari sebrang sana.
Beberapa menit kemudian pun berlalu dan benar saja Rizki telah sampai di halaman rumah Rosa sedang memarkirkan mobilnya dan kali ini Rizki memarkirkannya secara asal lalu berlari sambil menenteng paper bag yang di berikan Rosa tadi.
"Sa. Rosa" teriak Rizki saat sudah di ruang tamu menuju ruang keluarga. Rosa menoleh sata mendengar panggilan namanya dari lantai bawah yang tak lain itu Rizki. Rosa oun membuka pintu kamarnya dan sudah terlihat Rizki di depannya dengan nafas yang sudah tergesa-gesa.
Brugh
Rizki pun langsung memeluk Rosa dengan erat sekali sampai Rosa terkejut dan hampor kehilangan keseimbangannya.
__ADS_1
"Aku hampir gila nyariin kamu dari siang. Kamu kemana? Kenapa hapenya gak aktif? Ishks" celoteh Rizki yang masih memeluk Rosa dan malah semakin erat. Rosa pun menepuk-nepuk punggung Rizki karena merasa sesak dengan pelukan Rizki.
"Le-pas" katanya sambil mencoba menvatur nafas.
"Maaf" ucap Rizki sambil melepas pelukannya. Rizki pun menatap lekat Rosa dengan raut yang sangat jelas terlihat khawatir. Rosa lun seperti memindai Rizki yang terlihat cukup berantakan. Bahkan rambutnya juga acak-acakan. Dan di lihatnya paper bag yang dirinya bawakan tadi masih dalam genggaman tangan Rizki. Rosa menghela nafasnya lalu menatap Rizki lagi.
"Mau mandi dulu apa mau makan dulu?" tanya Rosa langsung. Rizki pun langsung mekihat dirinya sendiri yang memang lantas pertanyaan Rosa seperti itu.
"Mandi tapi..." jawab Rizki ragu.
"Apa?"
"Gak bawa baju ganti" jawab Rizki sedikit malu dengan menundukan kepalanya.
"Nanti gue siapin baju gantinya. Mandi di kamar mandi dalam kamar gue aja" kata Rosa sambil menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Rizki masuk ke dalam kamarnya.
Pertama kali. Iya ini pertama kalinya Rizki masuk ke dalam kamar Rosa. Rapih dan wangi katanya saat memasukin kamar itu. Rizki pun tersenyum kikuk lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi kamar Rosa.
Rosa pun sudah memberitahukan letak handuk bersihnya dan Rizki pun mulai membersihkan tubuhnya. Rosa menyiapkan pakaian ganti untuk Rizki. Kaos oversize dan celana training cocok untuk Rizki gunakan malam ini sepertinya.
"Pakaian gantinya di atas kasur ya Ki. Gue ke bawah mau siapin makan buat lo. Ini paper bagnya gue bawa ke bawah ya" teriak Rosa dari balik pintu kamar mandi. Rizki menganggukan kepalanya spontan padahal tak terlihat oleh Rosa.
"Iya" katanya dan Rosa langsung keluar dari kamarnya.
__ADS_1
***
Rosa menghembuskan nafasnya setelah melihat bekal yang di buatnya siang tadi belum di makan oleh Rizki. Sedikit kesal namun Rosa paham pasti Rizki khawatir dan sibuk mencarinya sampai bekal makan siang untuknya tak sempat dia makan.