Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
117.


__ADS_3

Adel tersenyum menatap ponselnya yang mengabari jika Indra mengajaknya bertemu. Adel sangat berharap hubungannya dengan Indra akan berjalan dengan baik seperti sebelumnya. Adel akan berusaha untuk dapat mendapatkan hatinya Indra lagi.


Indra mencoba melebarkan senyumnya kala melihat Adel mulai menghampirinya. Bahkan senyum Adel masih sama seperti dulu tapi kali ini senyum yang Adel tunjukan seolah membuat dada Indra terasa berdenyut.


Indra masih menelaah atas semua kejadian satu demi satu yang terjadi dalam hubungannya bersama Adel. Indra juga mulai memutar memori dimana dirinya saat jauh perlahan dari keluarganya. Dan semua itu setelah ada Adel dalam hidupnya.


"Hai" sapa Adel lalu memeluk Indra dengan erat. Meluapkan rasa rindu kepada laki-laki yang masih sangat dirinya cinta hingga saat ini. Sedangkan Indra sendiri hanya diam tanpa membalas pelukan Adel.


Sani dan Yuda melihat dari meja yang berbeda atas pergerakan Adel saat ini. Memang bisa di lihat dari sorot mata Adel jika perasaan Adel begitu besar terhadap Indra.


"Aku kangen banget sama kamu Ndra. Aku juga yakin jika kita akan bersama lagi" ucap Adel setelah melepas pelukannya terhadap Indra. Indra masih terasa kaku karena Indra merasa melukai perasaan istrinya yang saat ini jelas melihat dan mendengar apa yang di katakan Adel.


Indra hanya menatap Adel dengan senyum tanpa sulit di artikan. Awalnya Indra menolak usulan Yuda untuk bertemu dengan Adel. Tetapi setelah Yuda menjelaskan maksud dan tujuannya Indra pun menyetujui. Dan Sani pun mendukung karena jujur dalam hati kecil Sani merasa sangat bersalah kepada Rizki dan juga Rossa.


"Sayang kamu kangen juga kan sama aku?" tanya Adel dengan wajah polosnya. Wajah yang dulu menurut Indra gemas. Indra membalas dengan anggukan kepala kaku.


"Kamu kenapa tiba-tiba ajak aku ketemu? Pasti kamu menyesal kan sekarang menikah dengan dia? Sayang aku akan menerima kamu kembali, mari kita memulai hubungan ini dari awal lagi. Aku minta maaf atas kesalahan aku ke kamu dan aku juga sudah memaafkan atas kesalahan kamu kepada ku" ucap Adel dengan sangat serius sambil menggenggam tangan Indra.


"Apa kamu juga bisa menerima anakku?" tanya Indra dengan ekspresi serius. Adel terdiam lalu menganggukan kepalanya dengan senyum. Meski dalam hatinya tak mau menerima anak Indra dan Sani tapi saat ini Adel akan berusaha memenangkan hati Indra dahulu dan selebihnya akan di pikirkan nanti.


"Aku akan menerima anak kamu. Anak kamu anak ku juga. Kamu memang laki-laki yanh sangat bertanggung jawab. Gak salah jika aku mempertahankan kamu dan berjuang untuk terus bersama kamu" jawab Adel tapi tidak sama sekali menggoyahkan hati Indra.

__ADS_1


"Heemm baik. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu dan sepertinya bukan disini tempatnya. Kamu mau ikut denganku?" tanya Indra dan langsung di anggukan Adel dengan semangat.


"Mau, aku mau ikut kemana pun kamu pergi. Tapi apa yang mau kamu tanyakan? Enggak biasanya kamu mau bertanya dengan aku tapi gak langsung kamu tanya. Kamu biasanya to the point lho sayang"


"Karena aku mau sekalian kasih kamu kejutan" jawab Indra asal dengan senyum agar Adel tak curiga.


"Oh oke. Ayoo dimana tempatnya?"


"Ayooo. Nanti kamu juga akan tahu" ucap Indra lalu beranjak berdiri, berjalan bersama Adel.


Sani dan Yuda pun juga beranjak dan mengikuti keduanya sampai ke tempat yang sudah di tentukan oleh Yuda.


***


"Mau apa? Minum? Makan? Negokin Twins? Negokin Rizki? Atau mau yang lain?" tanya Ayyas dengan suara lembut tapi matanya masih fokus kepada layar laptopnya.


Ayyas menemani Rosa saat Yuda tak ada dan memindahkan pekerjaannya keruang rawat Rossa. Deby dan mama Wina pun sedang pulang kerumah masing-masing untuk membawa perlengkapan untuk Rosa dan Ayyas yang sudah beberapa hati stay di rumah sakit.


"Gue keterlaluan ya Yas?" tanya Rosa dengan nada suara lemas tapi masih terdengar jelas di telingga Ayyas.


Keterlaluan? Kata yang sedang Ayyas definisikan menurut pandangannya. Ayyas paham jika selama masuk rumah sakit Rosa sama sekali belum menemui suaminya. Begitu pula dengan keluarga Rizki selain Riana dan Alif yang sering datang menemui Rosa.

__ADS_1


"Menurut gue gak juga Ros. Lagi pula kan kondisi lo emang lagi gak memungkinkan dan juga kondisi Rizki pun sama. Gue gak mau ambil resiko kondisi lo semakin drop after lo liat kondisi suami lo. Dan gue pun gak mau lo merasa bersalah barang sedikit. Kenapa? Karena lo gak salah titik. Lo korban yang seolah menjadi tersangka aja" jelas Ayyas panjang lebar lalu menutup laptopnya dan menatap Rosa yang sedang mengartikan perkataannya.


"Kondisi Rizki gimana Yas?" tanya Rosa akhirnya. Ayyas tersenyum kecil karena Ayyas sangat tahu jika Rosa pun pasti mengkhawatirkan suaminya meski kecewa dengan menghampiri.


"Jangan senyum gitu. Gue butuh jawaban bukan senyuman"


"Ceritanya lo mau tahu aja apa lo khawatir?" goda Ayyas gemas.


"Mau tahu dan juga khawatir. Apa gue boleh lihat suami gue?" tanya Rosa membuat Ayyas semakin kagum dengan sahabatnya. Ayyas memang kecewa dengan kejadian ini tapi Ayyas juga tidak bisa menyalahkan Rizki sepenuhnya.


"Boleh. Lo mau lihat suami lo kapan?"


"Sekarang boleh?" tanya Rosa dan Ayyas langsung bangkit dari duduknya dan mengambilkan Rosa kursi roda lalu membantu Rosa sampai masuk kedalam ruang ICU Rizki.


"Gue tinggal ya. Gue tunggu di depan ruangan. Lo pasti butuh waktu berdua. Meski Rizki belum sadar tapi Rizki bisa mendengar apa yang lo ucapkan. Kasih semangat. Gue rasa dia memang nungguin lo disini" kata Ayyas dan di anggukan oleh Rosa.


Keluarga Rizki pun sedang tidak ada disana saat Rosa datang melihat Rizki dan setelahnya datang ibu Titi bertepatan dengan Ayyas keluar dari ruang ICU.


"Ada Rosa di dalam bu" kata Ayyas berhasil membuat denyut hati ibu Titi sakit. Ibu Titi merasa bersalah juga karena belum melihat menantu dan juga cucunya. Ibu Titi masih belum sanggup atas kejadian ini, merasa malu kepada Rosa atas kebodohan yang anaknya lakukan.


"Ibu gak perlu merasa bersalah terlalu berlarut. Semua memang butuh waktu untuk mengartikan ini, bahkan bisa di bilang penyebab utamanya pun belum menunjukan batang hidungnya kepada Rosa"

__ADS_1


Ibu Titi tak dapat menahan tangisnya lagi. Terlihat jelas dari jendela ruang ICU tatapan Rosa yang kecewa tapi rindu kepada suaminya. Genggaman tangan Rosa terasa hangat di tangan Rizki yang terasa dingin. Tapi Rosa sama sekali tidak mengeluarkan air matanya. Rosa hanya tersenyum dan mencoba menyalurkan semua keluhannya lewat genggaman tangan dirinya dan Rizki.


***


__ADS_2