Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
72. Apa yang harus di lakukan?


__ADS_3

Rizki segera meninggalkan pekerjaan setelah mendapat kabar dari Deby tentang kondisi Rosa. Detak jantung Rizki berdetak lebih cepat menandakan rasa khawatir yang sangat kepada Rosa. Apa yang terjadi sehingga Rosa bisa pingsan seperti itu padahal saat berangkat kerja tadi Rosa baik-baik saja dalam pandangan matanya. Apa Rizki melewatkan sesuatu hingga tak mengetahui apa yang terjadi dengan Rosa? Pikir Rizki pun melayang.


Setelah sampai rumah sakit, Rizki langsung menuju ke ruang rawat VVIP Rosa. Disana masih dengan setianya ada Deby dan Ayyas. Bahkan Ayyas terlihat rapuh dan bersalah dengan apa yang terjadi dengan Rosa. Dan Rosa sendiri belum kembali kesadarannya. Masih menutup matanya dengan wajah pucat.


Dada Rizki tiba-tiba sesak dan sakit melihat orang tercintanya terbaring tak berdaya di atas brankar di depan matanya ini.


Rizki semakin mendekat dan segera menjatuhkan dirinya di kursi sebelah brankar Rosa yang sudah di sediakan. Rizki meraih tangan Rosa yang tidak terpasang infusan itu. Di genggamnya dan cium punggung tangan Rosa dengan sangat lembut. Rizki merasa bersalah juga dan gagal karena tak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Rosa baik-baik aja Ki. Sekarang kita tunggu dia sampai dia sadar" kata Ayyas yang memberanikan diri menghampiri Rizki dan berdiri di sebelah Rizki.


Ayyas sudah menceritakan kronologinya. Ayyas pun menyesali apa yang terjadi tapi Rizki paham jika ini bukanlah salah Ayyas. Bahkan dengan luka jahitan yang ada di kening Rosa saat ini.


"Terima kasih Yas udah nolong Rosa hingga Rosa dapat penolongan terbaik" ucap Rizki tulus dan di anggukan oleh Ayyas.


"Gak usah sungkan. Udah seharusnya Ki" sahut Ayyas dengan memandangi perempuan yang sudah terlelap cukup lama itu. Hingga akhirnya ada pergerakan dari jemari Rosa dan juga perlahan Rosa membuka matanya.


Rizki meluruhkan air matanya dan menghujami punggung tangan Rosa lalu meletakannya di pipinya. Rizki menatap wajah Rosa yang tengah menusuri ruang inap dimana dirinya berada saat ini. Bahkan Ayyas dan Deby juga ada disana. Apa yang terjadi? Tanyanya dalam hati dan mencoba memutar kejadian sebelumnya. Tapi bukan bisa mengingat malah membuat kepalanya berdenyut akibat luka jahitan yang di terimanya.


"Aaww ssshhhttt" katanya sambil mencoba ingin memegang keningnya. Rizki segera meraih tangan Rosa dan menurunkan tangan Rosa agar tak menyentuh lukanya.

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak. Nanti semakin terasa sakitnya" ucap Rizki yang sangat khawatir dengang istrinya. Ayyas menganggukan kepalan kala Rosa melempar pandangan padanya.


"Jangan mikir apa-apa. Lo harus istirahat dan cepet sembuh" kata Ayyas dengan menatap Rosa serius. Rosa hanya menganggukan kepalanya mengerti maksud Ayyas. Meski sebenarnya Rosa ingin tahu kenapa dirinya bisa berakhir di dalam ruang rawat inap itu.


"Iya sayang. Kamu gak perlu khawatir dan mikir macem-macem. Ada aku disini sekarang yah" kata Rizki dengan merapikan anak rambut Rosa.


"Gue seneng lo udah sadar. Lo ada mau makan apa gitu? Biar gue beliin sekalian buat Rizki juga. Lo mau makan apa?" tanya Ayyas yang sejujurnya tak tega melihat wajah Rosa yang pucat. Rosa tampak berpikir dan juga menoleh ke arah suaminya.


"Makan apa aja Yas. Gue mau makan apa aja yang lo beli" kata Rosa yang enggan meminta sesuatu kepada Ayyas meski sebenarnya ada makanan yang sangat ingin dirinya makan.


"Yakin? Tapi beneran di makan yah. Gue beliin makan kesukaan lo dan cemilan buat lo juga. Yaudah gue keluar dulu ya. Gak apa-apa kan disini sama Rizki dulu?" tanya Ayyas yang seolah lupa jika Rizki kini sudah menjadi suami Rosa.


Rosa tersenyum menganggukan kepalanya sambil menatap kepergian Ayyas dan Deby hingga tak terlihat lagi dari balik pintu.


"Kamu kenapa?" tanya Rosa pelan dan membelai rambut Rizki dengan tangan yang satunya. Rizki diam dan masih terisak disana.


"Aku gak apa-apa. Jangan nangis kayak gini" ujar Rosa dengan sangat lembut. Rizki bangun dan mencoba memeluk Rosa yang masih terbaring itu.


Rizki mengusel-ngusel di leher Rosa dan mencium aroma tubuh Rosa yang keluar dari sana. Sangat nyaman rasanya dan membuat Rizki akhirnya diam dengan sendirinya. Rizki bangun lagi dari pelukannya dan segera mencium bibir Rosa pelan menumpahkan rasa khawatirnya disana. Setelahnya Rizki menghapus sisa basah bibir Rosa akhibat ulahnya sendiri.

__ADS_1


"Udah lebih baik?" tanya Rosa lagi dengan sama lembut seperti sebelumnya. Rizki mengangguk dan menerbitkan senyum meski terpaksa.


"Apa kening kamu sakit?" tanya Rizki balik dengan menatap luka jahitan di kening Rosa.


"Iya tapi gak sakit banget kok. Kamu jangan khawatir lagi yah"


"Gak bisa gitu sayang. Jantung aku kayak mau pindah pas di kabarin kamu ada di IGD bahkan saat sampe sini ada luka di kening kamu. Aku merasa gagal gak bisa jaga kamu dengan baik tau" curhat Rizki dengan mengenggam tangan Rosa. Rosa menggeleng dengan tersenyum manis kepada Rizki.


"Bukan salah kamu mas. Gak boleh nyalahin diri sendiri. Ini gak apa-apa kok, aku juga salah" Rizki menggelengkan kepalanya lalu mencium bibir Rosa sekilas. Rizki tak ingin mendengar Rosa menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu juga gak boleh nyalahin diri kamu sendiri sayang. Pokoknya sekarang kamu harus fokus untuk sembuh yah. Gak boleh mikir macem-macem. Okeyy" Rosa mengangguk paham dan Rizki segera menaiki brankar Rosa membuat Rosa sedikit bingung.


"Mau ngapain?"


"Mau peluk istri aku. Nih kamu rasain. Jantungku masih berdebar dengan cepat. Aku masih khawatir sama kamu. Jadi biarin aku peluk kamu dalam istirahat kamu yah" ucao Rizki yang merebahkan tubuhnya di brankar Rosa dan meletakan satu tangan Rosa di dadanya.


Brankar Rosa cukup besar jadi cukup untuk dua orang. Rosa tak protes karena Rosa mengerti rasa khawatir yang di rasakan suaminya ini. Rosa tersenyum dengan sikap Rizki saat ini tapi tetap saja dalam hatinya sangat ragu. Rosa takut jika sikap Rizki saat ini hanya sebuah kewajiban suami yang khawatir kepada istrinya. Semakin Rosa menepis semakin pula perasaan itu mengganggu pikirannya.


Tak berselang lama Rizki terlelap dalam memeluk Rosa. Tapi tidak dengan Rosa. Rosa hanya memandangi wajah Rizki yang terpejam di sampingnya. Apa yang harus Rizki lakukan agar Rosa tidak ragu lagi? Apa yang harus Rizki lakukan agar Rosa percaya bahwa semua yang Rizki lakukan murni ketulusan cintanya bukan hanya sekedar kewajiban suami terhadap istrinya?

__ADS_1


Dan akhirnya Rosa ikutan terlelap di dalam pelukan Rizki.


***


__ADS_2