Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
109.


__ADS_3

Indra sudah berganti baju dan meminta izin kepada Sani untuk mengantarkan Adel pulang. Indra tidak mau jika Adel membuat keributan semakin parah lagi terlebih dengan apa yang sudah di lakukan Adel membuat Indra menjadi lebih berhati-hati dalam menyikapi pacarnya itu. Oh iya pacar karena Indra dan Adel memang belum putus meski Indra sudah menikahi Sani.


Sani mencium punggung tangan Indra dan Indra mencium kening Sani. Semanis itu meski pernikahan mereka baru beberapa hari saja.


Tok tok tok


Tok tok tok


Ketukan pintu kamar terdengar jelas di telinga Indra membuat Indra memutar bola matanya malas. Duuuh malas sekali menghadapi pacarnya saat ini.


"Kamu hati-hati di kontrakan. Setelah aku pergi mengantar Adel, jangan lupa kunci pintu depan dan jangan bukakan pintu untuk orang yang kamu gak kenal. Kamu bisa mengintip dari balik pintu siapa orang yang ada di luar. Dan kamu harus kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Mika. Oke" pesan Indra dan Sani menganggukan kepalanya dengan senyum.


"Lama banget. Kamu ngapain aja di dalam??" protes Adel setelah melihat Indra menghampirinya.


"Ayo" jawab Indra tanpa menjawab protes yang di lontarkan Sani.


***


"Secepat itu lo balik ke Bandung? Aahh rese banget!!" kata Ayyas ketika bertemu dengan Yuda berdua di cafe tak jauh dari rumah sakitnya.


"Yaa lo kan tahu kalo sekarang gue kerjanya di Bandung. Lagi pula lo juga lagi bangun rumah sakit disana kan? Ntar kalo rumah sakitnya sudah jadi, kantor lo pindah ke Bandung biar lo gak jauh-jauh lagi dari gue" jawab Yuda dengan menyeruput kopi hitamnya.


Ayyas menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Masih lama banget Yuda Maulana. Aaiissshhh keburu anak Rosa masuk TK itu rumah sakit baru selesai pembangunan. Suka ngadi-ngadi dah lo" cerocos Ayyas dengan tatapan sinis.


"Jakarta Bandung kan gak terlalu jauh Yas. Lo drama banget sih. Bisa saja pas weekend lo ke Bandung atau gue yang ke Jakarta. Simple lho itu, gak usah di buat ribet. Cukup hidup gue saja yang ribet!" sahut Yuda santai.


"Ha ha ha ha" tawa Ayyas lepas begitu saja.


"Tanpa lo bilang gue sudah tahu kalo hidup lo ribet" lanjut Ayyas meledek Yuda.


"Sssttt berisik deh lo"


"Eh tapi Rosa tahu lo mau balik ke Bandung?"


"Harusnya sih tahu kan gue ke Jakarta cuma anterin dia saja bukan bakal stay disini lama. Butik juga udah di terusin sama Bintang jadi gak ada alasan yang bikin gue buat stay di Jakarta lebih lama lagi Yas" jawab Yuda terdengar putus asa. Dalam hati kecilnya masih ingin tinggal di Jakarta lebih lama lagi tapi hatinya tidak bisa di biarkan semakin terluka karena perasaannya


"Entah kapan sahabat gue yang satu ini bisa terbalas perasaanya. Gue gak bisa berkomentar apa-apa bro. Gue cuma bisa do'ain lo semoga lo segera bisa menemukan kebahagiaan" kata Ayyas yang sangat yakin tentang perasaan Yuda kepada Rosa. Yuda berhasil menjaga perasaannya untuk Rosa, padahal bisa saja saat terpuruk Rosa itu Yuda mengambil hatinya Rosa untuk di milikinya tapi begitulah Yuda. Pikirnya kebahagiaan Rosa adalah prioritasnya.


"Iya bahagia karena cinta mati lo udah bahagia juga bersama suaminya!!" celetuk Ayyas yang tak bohong menusuk hati Yuda tapi Yuda tetap menapiknya dengan senyum.


"Jodoh gak akan kemana Yas" ucap Yuda asal dengan menyeruput kopi hitamnya.


"Ku tunggu jandamu ha ha ha ha" lanjut Ayyas tak kalan tertawa dengan perkataannya.


"Gak usah di perjelas" kata Yuda dengan tatapan sinis karena tawa Ayyas mengundang banyak perhatian pengunjung cafe.

__ADS_1


***


Setelah Indra pulang mengantar Adel. Adel semakin berkecambuk dengan pikiran demi pikirannya. Adel semakin mengebu dan segera meraih ponsel dan menghubungi orang suruhannya. Dengan cepat dan menunggu tak sampai satu jam, orang suruhan Adel menghubungi Adel dan memberitahukan informasi yang dirinya dapatkan.


Adel terdiam sesaat dengan jatuh duduk di lantai. Adel menelaah perkataan demi perkataan yang di lontarkan oleh orang suruhannya dan merasa sangat tidak percaya. Bagaimana bisa ini terjadi tanpa sepengetahuannya? Bagaimana bisa ini terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Iya tidak genap satu minggu waktu itu.


"Gak, gak mungkin, gak mungkin. Indra? Indra menikahi Sani? Gak, gak, ini pasti salah. Iya ini pasti salah" ucap Adel sedikit histeris.


"Tapi tadi... Tadi... Tadi... Sani dan bayi itu? Mereka? Mereka sudah tingal bersama?" tanya Adel pada dirinya sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya.


"Kenapa kamu tega Indraaaa, hisk hisk hisk"


"Kamu tega ndraaa. Kenapa, ke kenapa kamu bisa menikahi perempuan itu? Aaaggggrrrrhhh aku gak bisa biarin ini. Gak, aku gak bisa. Indra harus pisah dengan perempuan itu. Indra cuma milikku, Indra milikku.. Aaaaaaaaa" rancau Adel semakin histeris di dalam rumahnya.


Adel segera meraih ponselnya lagi dan menghubungi orang suruhan. Adel memberi perintah untuk mereka mencelakai Sani entah bagaimana caranya. Adel tidak bisa membiarkan orang yang dicintai harus bersama perempuan lain meski perempuan itu adalah saudara satu ayah dengan dirinya.


***


Satu bulan kemudian.


Hari semakin indah dirasakan oleh pasangan baru Indra dan Sani. Dan kelahiran Mika membuat hidup Indra berubah. Indra pun sudah memutuskan hubungannya dengan Adel. Tapi tidak bagi Adel yang belum menerima hubungan bertahun-tahun mereka kandas begitu saja. Adel memanipulasi penyakitnya dengan terus berpura-pura sakit hingga melakukan perawatan dirumah sakit. Dan tentu dengan biaya yang cukup lumayan, namun sayangnya kali ini Indra sama sekali tidak kegoyah dengan tidak membayarkan biaya rumah sakit yang terus membengkak.


Adel tidak peduli akan biaya tersebut, bagi Adel hanya Indra saat ini harus kembali lagi dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa gak apa-apa Adel di rumah sakit sendirian kak? Kata kakak Adel gak punya siapa-siapa lagi selain kakak. Kalau Adel di rawat seperti ini, siapa yang jagain dia kak?" tanya Sani yang masih memikirkan orang yang sudah membuat hidupnya berantakan.


Indra tersenyum lalu mengelus puncak kepala Sani. Indra tidak menyangka jika satu sisi kebaikan Sani yang tidak di ketahuinya. Bahkan setelah Sani menjadi seorang istri dan ibu, Sani semakin terlihat berbeda dari sebelumnya. Sani tidak pernah marah, Sani tidak pernah membantah Indra, Sani selalu mengikuti apa yang Indra ajarkan pada dirinya dan yang pasti Sani tidak menuntut Indra apapun. Dalam segi financial pun Sani menerima pemberian Indra dengan ikhlas. Bahkan Sani mampu menjalani hidup dengan sangat sederhana bersama dirinya dan juga Mika.


__ADS_2