
Sani memeluk Indra. Indra laki-laki yang awal kenal bukan dengan cara baik-baik ternyata memiliki pemikiran yang sangat matang. Sani berucap syukur karena bisa memiliki suami seperti Indra. Bahkan kini Adel pun sudah tidak menganggu keluarga kecil mereka lagi. Ponsel Indra berdering menandakan adanya panggilan masuk. Panggilan masuk dari Rania. Berbedarlah jantung Indra karena sebelumnya belum pernah Rania menelponnya sama sekali.
"Assalamualaikum Ran" salam Indra dan langsung mendegarkan suara tangis Rania dari sana. Dengan suara bergemetar Rania menjelaskan maksudnya menelpon Indra. Indra melebarkan matanya dan membeku seketika membuat Sani mengangkat alisnya bingung. Bahkan Sani pun merasa jika telah terjadi sesuatu.
"Baik kakak kesana sekarang ya Ran. Assalamualaikum" putus Indra dan memasukan ponselnya ke saku celananya.
"Kenapa kak? Ada apa?" tanya Sani yang memegangi lengan Indra.
"Rizki sayang, Rizki menghembuskan nafas terakhirnya" jawab Indra dan Sani langsung luruh tak percaya
"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Kamu di rumah dulu ya sama Mika. Nanti kalau mau nyusul sama Sena aja. Aku harus bantu mengurus Rizki disana"
***
Suara tangis ibu Titi pecah saat Rizki dinyatakan menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit lalu. Bahkan ibu Titi sampai pingsan dan menangis lalu pingsan lagi. Ayyas segera menghubungi keluarga Rizki lainnya begitu juga Ayyas menghubungi Rosa dan Yuda.
Percaya tidak percaya Rosa merasa diberikan kejutan yang tiada henti. Setelah resmi bercerai di hari yang sama hanya berbeda jam mantan suami atau sahabatnya atau ayah anak-anaknya menghembuskan nafas terakhirnya. Pertanyaan mulai bermunculan di pikiran Rosa. Ada apa yang bisa membuatnya meninggal? Lalu bagaimana dengan anak-anaknya yang saat ini sudah menyandang status anak yatim?
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Rosa berjalan bersama dengan Yuda. Tidak, tidak ada air mata di mata Rosa hanya ada bentuk khawatir dengan tanya yang dirinya tidak tahu jawabannya apa. Pandangan matanya bertemu dengan ibu Titi yang masih pingsan di pangkuan Rania, juga dengan Ayyas, Rania, Riyan, Alif dan Indra. Rosa menenangkan dirinya dan segera berjalan menghampiri Ayyas. Iya, Rosa merasa jika Ayyas pasti tahu segala sesuatu dari semua yang Rosa tidak tahu.
"Ros" sapa Ayyas yang melihat Rosa semakin mendekatinya.
"Lo utang penjelasan sama gue" ucap Rosa langsung dan di angguki Ayyas karena mengerti maksud Rosa.
Riana, adik Rizki segera mendekatkan diri kepada Rosa dan memeluk mantan kakak iparnya itu. Mereka menangis melihat Rosa dan atas kepergian kakaknya tanpa pesan apa pun. Dan yang mereka tahu jika kakaknya hanya meninggalkan luka dan juga tanggung jawab besar kepada mantan istrinya ini.
"M-mas Rizki kak" kata Riana, adik Rizki yang paling dekat dengan Rosa. Rosa menggeluskan tangan di pungung Riana. Pelukan Riana seolah membuat Rosa merasakan sesak hatinya kembali. Bahkan kini Rosa menyadari tidak akan ada lagi Rizki disisinya lagi dan membuat Rosa menerka-nerka apa selama ini Rizki sengaja membuatnya sendiri agar bisa di tinggalkan seperti ini. Oh tidak fokusnya saat ini berdamai dengan rasa sakit agar pikiran bisa berpikir dengan tenang.
"Doakan yang terbaik untuk mas Rizki, kita semua enggak mau seperti ini tapi Allah berkata lain" kata Rosa dan di anggukan Riana.
Ayyas menuntun Rosa untuk masuk kedalam ruangan ICU sebelum jenazah Rizki akan di pindahkan keruang jenazah dan di urus disana. Entah, entah apa tiba-tiba debaran jantung Rosa berdegup lebih cepat, bahkan badannya melemas ketika melihat laki-laki yang pernah dicintainya telah terbaring kaku dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Ayyas bersigap dengan memegang kedua bahu sahabatnya ini agar tidak jatuh atau pun pingsan.
"Kuat Ros" ucap Ayyas pelan di telingga Rosa. Rosa mengangguk dan terus melangkahkan kakinya menuju brankar Rizki.
Akhirnya luruh juga air mata yang sempat mengering selama ini, air mata yang tidak keluar sejak menerima surat gugatan cerai dari suaminya itu. Rosa menangis hingga bahunya bergetar bahkan Ayyas pun ikut menangis dengan melihat semua secara nyata. Yuda hanya diam meski matanya juga memerah, memilih mengalihkan pandangan matanya ke langit-langit kamar rumah sakit agar tidak tumpah air matanya.
__ADS_1
"Belum sempat kamu memberitahu alasan semua ini tapi kamu memilih pergi. Sebegitukah enggankah kamu mas sampai ini pilihan kamu? Setidaknya meski bukan untuk aku, bertahanlah demi anak-anak mas. Apa segitu yakinnya kamu aku bisa melakukannya sendiri? Apa segitu percayanya kamu?" kata Rosa setelah membuka penutup wajah Rizki. Wajah tenang dengan senyum di sudut bibirnya. Bahkan wajah Rizki terlihat sangat bersih disana. Bagai belati menusuk dadanya, Rosa menangisi jenazah mantan suaminya.
"Entah tepat atau enggak Ros, sekarang kita urus jenazahnya dulu sampai di makamin. Setelah itu gue akan jawab semua pertanyaan yang mau lo tanyakan. Gue mewakili Rizki dan keluarganya meninta maaf atas semua yang sudah pernah terjadi. Termasuk atas perceraian kalian. Dan gue dengan senang hati akan membantu lo buat merawat anak-anak lo. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, gue akan menganggap anak-anak lo menjadi kakak dari anak gue kelak" kata Ayyas yang masih memegang bahu Rosa. Rosa tak menjawab, pandangan matanya masih menatap Rizki, mantan suami yang sejujurnya masih dirindukan.
***
Selesai memakamkan Rizki di pemakaman dekat rumah ibu Titi, semua keluarga yang datang bahkan sudah beralih ke rumah ibu Titi untuk di adakan tahlilan malam pertama. Rosa izin pulang dahulu untuk membersihkan diri dan memompakan asi untuk anak-anaknya setelahnya Rosa kembali ke rumah ibu Titi.
Hembusan nafas panjang Rosa setelah selesai acara tahlilan dan membantu membereskan semua. Ayyas dan Yuda masih setia mendampingi Rosa sampai akhirnya Rosa pamit akan pulang dan akan kembali besok hari sebelum acara tahlilan malam kedua di mulai.
Ibu Titi masih tersendu lalu memeluk Rosa dan memohon maaf atas sikap anaknya, ibu Titi mencurahkan penyesalan yang dirinya rasakan kepada Rosa.
"Maafin ibu, maafin Rizki, maafin kami semua ya Ros, hisk" kata bu Titi di sela isakan tangisnya.
"Rosa sudah memaafkan bu, ibu jangan nangis lagi yah" jawab Rosa lembut.
"Kamu anak baik nak, bodoh sekali anak ibu. Kasian cucu-cucu ibu. Seandainya Rizki jujur dengan keadaannya, semua gak akan kayak gini. Mungkin Rizki masih melakukan perawatan yang di dampingi kamu, mungkin hidup Rizki gak akan berakhir seperti ini, hisk hisk hisk" kata bu Titi lagi dan membuat Rosa melepas pelukan bu Titi perlahan.
__ADS_1
"Maksud ibu?"