Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
70. Menenangkan


__ADS_3

Rosa terbangun dalam tidurnya. Di tatapnya wajah Rizki dengan mata yang masih terpejam. Damai tapi rasanya sakit didalam dada. Bahkan sampai tak terasa Rosa sampai menitikan air matanya. Bukan bermaksud berlebihan, Rosa merasa pernikahannya seperti sebuah permainan yang kini keduanya terjebak dengan perasaan yang sesungguhnya.


"Aku sayang kamu mas" ucap Rosa sambil menjatuhkan air matanya.


Rosa segera menghapus air matanya dan perlahan bangun untuk menjalankan shalat malamnya. Rosa ingin meminta ketenangan pada dirinya dan juga keyakinan akan perasaannya. Rosa menjadi ragu dan takut setelah Hari mengungkapkan taruhannya dengan Rizki. Rosa merasa bersalah karena telah jatuh hati kepada suaminya sedangkan Rosa sedikit tak percaya dengan perasaan suaminya meski Rizki selama ini sangat terlihat tulus kepadanya.


Selepas shalat, Rosa tak langsung tidur karena jam sudah menunjukan pukul tiga lewat lima puluh menit. Rosa bergegas meninggalkan kamarnya perlahan dan menuju dapur sebelum Rizki bangun. Karena biasanya Rizki akan bangun sebelum azan subuh berkumandang atau setelah azan subuh berkumandang.


Rosa membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan yang akan dia siapkan untuk sarapan pagi ini. Bukan sarapan yang sulit, hanya nasi goreng dengan telur mata sapi.


"Ros kamu udah bangun? Tumben?" tanya mama Wina yang baru tiba di dapur dan melihat anak semata wayangnya sedang menyiapkan bahan-bahan untuk di buat sarapan.


"Iya mah kebetulan tadi kebangun jadi sekalian aja bikin sarapan kalo di paksa tidur lagi takutnya kebablasan. Mama kan tau Rosa kalo tidur kayak apa he he he" kata Rosa dengan sedikit tertawa kecil. Mama Wina juga ikut tertawa kecil sambil mengiyakan apa yang di katakan anaknya barusan.


"Tapi kamu lagi gak ada masalah kan sayang?" tanya mama Wina merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Rosa. Rosa terdiam lalu menatap mama Wina dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Enggak kok mah. Rosa gak ada masalah" jawan Rosa dengan senyum indah tapi apalah mama Wina tak yakin dengan jawaban sang anak.


"Sini mama bantu siapin bahan-bahannya" ucap mama Wina mendekati anaknya dan segera membantu Rosa.


"Ros kamu bahagia?" tanya mama Wina dan Rosa terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.


"Bahagia donk mah. Gak ada alasan untuk Rosa gak bahagia. Ada mama juga Rizki yang selalu ada udah lebih dari cukup membuat Rosa bahagia" jawab Rosa yang jelas mama Wina tahu ada sedikit kebohongan di mata Rosa.

__ADS_1


Rosa sendiri meragukan definisi bahagia yang dirinya rasakan. Rosa merasa bahagia tapi Rosa juga merasakan kecewa. Dua kata yang sedang berperang di dalam hatinya itu.


"Sayang maafin mama ya, mama sering sekali sibuk sendiri sampai-sampai kurang memperhatikan kamu" ucap mama Wina dengan menatap anaknya sendu.


"Mama udah lebih dari cukup memperhatikan Rosa mah. Gak usah berkata demikian mah. Rosa yang harusnya minta maaf karena masih sering menghabiskan waktu Rosa sendiri"


"Kamu seperti itu karena kamu sudah punya suami nak. Waktu kamu sudah seharusnya diberikan penuh kepada suami kamu. Kamu dan suami kamu mau tinggal sama mama aja mama udah bahagia banget sayang"


"Rosa bahagia kalo mama bahagia" ucap Rosa sambil menyenderkan kepalanya di bahu mama Wina sekilas.


"Mama juga bahagia kalo Rosa bahagia. Jadi Rosa jangan lupa bahagia ya" sahut mama Wina yang tentunya Rosa hanya membalas dengan senyum kecil.


"Boleh sekarang kamu ceritakan ada apa sayang?" tanya mama Wina pada intinya karena ingin tahu apa yang di sembunyikan anaknya.


"Kamu yakin?" Rosa menganggukan pelan.


Mama Wina mencoba mengerti dan tak bertanya lebih lanjut lagi. Mama Wina mengerti tapi mama Wina tak ingin memaksakan. Hingga beberapa menit kemudian.


"Mah" panggil Rosa lirih dengan menggigit bibir bawahnya.


"Hm"


"A-ku aku" kata Rosa gugup. Mama Wina menoleh dan menatap Rosa dengan senyum bahkan tangan mama Wina terulur menyentuh pipi chubby anaknya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya mama Wina yang sangat terdengar menghangatkan. Rosa membalas dengan senyum kecil namun namanya sudah mulai memerah.


"Apa aku boleh punya waktu untuk sendiri dulu mah? Eemm maksud ku aku mau sendiri dulu"


"Hal apa yang membuat kamu ingin sendiri dulu? Kamu ada masalah dengan suami kamu? Selesaikanlah nak jika iya, jangan menghindarinya" ucap mama Wina dengan sangat lembut. Rosa akhirnya meneteskan air matanya yang sudah terbendunh itu.


"Bukan masalah dengan Rizki mah. Tapi masalah dengan diriku sendiri. A-aku aku bukannya menghindar hanya aku gak bisa terus bersama Rizki saat ini. Itu membuat dada ku sesak mah. Bahkan rasanya aku ingin menghilang barang sebentar untuk mengendalikan dan mengembalikan diriku lagi" Rosa bergetar menceritakan apa yang di rasakan. Bukan apa yang terjadi. Rosa tak mau jika dirinya menceritakan apa yang terjadi akan membuat mama Wina berpikir lain. Meski saat ini mama Wina sudah mulai ke pikiran anaknya.


"Mama sebenarnya gak tau apa yang kamu alami nak dan mama juga yakin jika saat ini kamu enggan menceritakan apa yang kamu alami bukan. Mama memgerti maksud kamu. Mama mengizinkan jika kamu butuh waktu untuk sendiri tapi ada baiknya kamu izin juga dengan Rizki. Biar bagaimana pun Rizki adalah suami kamu saat ini sayang" saran mama Wina yang membuat Rosa jadi terisak. Justru Rosa ingin menjauh dari Rizki sambil mencari tahu apa Rizki benar mencintainya atau hanya sekedar terpaksa akibat taruhan.


"Tapi Rosa gak bisa izin dengan Rizki mah. Rosa izin sama mama biar mama gak khawatir sama Rosa saat Rosa ingin sendiri itu"


"Apa yang ingin kamu pastikan?"


"Semuanya mah. Rosa ingin mengetahui semuanya. Rosa melakukan ini dan Rosa terpaksa melakukan ini" isak Rosa lalu di peluk mama Wina.


Mama Wina mengelus rambut Rosa juga punggung Rosa. Mama Wina mencoba menangkan anaknya yang sedang menangis. Hati mama Wina pun rasanya seperti teriris melihat Rosa menangis di hadapannya dengan keluh sesuatu yang di alaminya.


"Mama mengizinkan jika Rosa mau sendiri dulu. Mama yakin kamu sudah tahu mana yang baik atau tidak untuk kamu. Tapi mama mohon jangan membuat tambah rumit ya nak" Rosa pun menganggukan kepalanya.


"Terima kasih mah. Rosa mengerti. Maafin Rosa kalo Rosa masih menyusahkan mama, maafin Rosa karena nantinya Rosa akan membuat mama khawatir dan sedih. Maafin Rosa ya mah"


"Tapi dengan satu syarat jika kamu ingin waktu sendiri. Kami harus kabari mama saat kamu ada dimana pun itu. Mama harus tau kabar kamu dan keadaan kamu" pinta mama Wina dan Rosa menganggukan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2