
Untuk : Rosa♡
Assalamualaikum Rosa Malinka.
Apa kabar?
...
Untuk : Rosa♡
Assalamualaikum Rosa
Bisakah kita bertemu?
...
Untuk : Rosa♡
Assalamualaikum Rosa
Aku rindu
...
Hari terus menatap layar ponselnya terus. Sudah beberapa hari dirinya merasa gelisah. Bahkan sejak terakhir bertemu dengan Rosa, Rosa sama sekali tak meresponnya sama sekali. Lalu bagaimana caranya agar Rosa mau menjadi istrinya? Itulah pikiran Hari yang terus menerus dalam otaknya. Memikirkan cara meluluhkan hati perempuan yang jelas pernah dirinya sakiti dulu.
"Kenapa Rosa gak membalas pesan gue bahkan nomer ponselnya tidak bisa dihubungi. Apa dia masih marah dengan semua sikap gue dulu sama dia? Iya gue salah. Gue tau itu tapi apa gak ada maaf gitu buat gue sedikit?" tanya Hari pada dirinya frustasi.
Hari, Rosa bukan seperti itu dia sudah memaafkan kamu dan satu dekade itu cukup lama untuk melupakan serpihan debu seperti kamu jadi please gak usah ngarep yah!
"Gue harus segera bertindak. Iya harus. Agar gue bisa mendapatkan Rosa lagi. Gue gak sabar bisa bersanding dengan dirinya lagi. Terlebih Rosa sekarang jauh berbeda dari dulu bahkan kecerdasannya pun gak berubah. Meski dia status kerjanya sebagai karyawan di rumah sakit sahabatnya, Ayyas. Tapi jabatan dia udah jadi direktur keuangan rumah sakit malah sekarang dia udah punya toke bakery. Luar biasa kemampuannya gak di ragukan lagi. Gimana kalo dia jadi istri gue. Pasti dia bisa bantu gue majuin perusahaan papa ini. Gue yakin itu. Yakin banget" gumam Hari pada dirinya sendiri dan membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya berhasil menaklukan hati Rosa dan bisa memilikinya kembali.
"Tapi gimana caranya? Rosa aja gak ngerespon gue sama sekali" tanya Hari pada dirinya sendiri dan memikirkan caranya namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerjanya.
Tok tok tok
Ceklek
__ADS_1
"Permisi pak, saya ingin mengingatkan jika hari ini setelah makan siang bapak ada meeting dengan PT Gemilang Bersama dan ini berkas yang sudah siapkan untuk bahan meeting nanti, silahkan bapak pelajari" kata Lisa, sekretaris Hari.
Hari menganggukan kepalanya dan mengerti apa yang di katakan sekretarisnya ini.
"Baik terima kasih Lisa"
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi" kata Lisa undur diri dari hadapan Hari.
"PT Gemilang Bersama? Sepertinya gue pernah denger nama ini. Nama perusahaan ini. Tapi perusahaan siapa yah?" tanya Hari lagi setelah membuka dan membaca dokumen dari sekretarisnya.
"Ahh ntar juga kalo ketemu mereka mungkin gue bisa inget" katanya lagi dan kembali fokus dengan bahan meetingnya.
***
Waktu makan siang telah selesai. Hari bersiap untuk menghadiri meeting perusahaannya dengan perusahaan lain. Hari kali ini pergi sendiri padahal bisanya Hari selalu di dampingi oleh Lisa.
"Nah mungkin itu dia orangnya. Gila gue gak ajak Lisa bisa telat gini. Biasanya gue gak pernah telat. Tapi gak apa-apa mudah-mudahan klien gue kali ini gak garang masalah waktu" ucap Hari sambil membenahi penampilannya dan memasuki tempat yang sudah di sepakati untuk meeting.
Hari melangkah dan menghampiri klien yang kebetulan seorang perempuan bahkan perempuan itu sendiri tanpa di temani asisten mau pun sekretarisnya.
"Selamat Siang. Maaf saya terlambat" sapa Hari dengan binar ramah dan senyum lebar.
"Ahh gak apa-apa saya juga belum lama sampai" jawabnya dengan lembut.
"Oke baik perkenalkan saya Hari Samuel Dirgantara perwakilan dari perusahaan Dirgantara grup" kata Hari mengulurkan tangannya.
"Sena, Sena Aulia Putri. Saya perwakilan dari PT Gemilang Bersama" sambut Sena dengan senang hati.
'Kayak pernah liat. Dimana ya?' tanya Hari dalam hatinya.
"Silahkan duduk pak Hari. Mau pesen apa? Kopi atau teh dan camilannya? Biar lebih enak dalam hal yang akan kita bahas" kata Sena menawarkan sambil menyodorkan buku menu.
"Oh iya terima kasih" sahut Hari menerima buku menu dan segera memesan apa yang di inginkannya. Setelah selesai dan memesan apa yang di inginkan Hari kembali menatap Sena yang telah siap dalam pembahasan meeting ini.
Mereka membahas apa yang akan di kerjakan dalam proyek yang mereka bangun. Proyek besar tentunya.
***
__ADS_1
Rosa kembali di buat terpana dengan kamar yang di sediakan bude Murni dan pakde Rahmat. Kamar yang luasnya 4x5 meternya cukup dan sangat cukup untuk mereka berdua.
Lagi dan lagi dalam ke terpanaan Rosa yang sedang mengedarkan pandangan matanya di setiap sudut kamar itu, Rizki segera menghampiri Rosa dan melingkarkan tangan kekarnya di perut Rosa setelah dirinya meletakan koper di dekat lemari.
Rosa sedikit terkejut kala Rizki bukan hanya memeluknya saja tapi juga mulai mengunyel-unyel belakang lehernya yang membuat Rosa kegelian.
"Geli. Kamu ngapain sih?" tanya Rosa yang terus bergerak karena merasa geli dengan sikap manjanya Rizki.
Bukannya berhenti, Rizki malah semakin jadi. Dirinya mendaratkan kecupan di belakang leher Rosa juga menggigitnya kecil bahkan sampai meninggalkan bekas kepemilikan berwarna merah keunguan.
Rosa merasakan sesuatu yang aneh saat Rizki melakukan hal demikian. Duuh Rizki ada apa sih?
Rizki melepas kecupan di leher Rosa sambil menyibakan rambut Rosa kesamping sebelahnya. Setelahnya Rizki melihat hasil karyanya, Rizki tersenyum malu tak menyangka dengan apa yang telah di perbuat.
"Kamu ngapain?" tanya Rosa heran dengan senyum yang terbit di sudut bibir suaminya.
"Bikin maha karya" jawab Rizki asal sambil memperlihatkan karyanya di leher Rosa.
"Ini basah. Agak sakit tau" protes Rosa dan memegangi hasil karya Rizki itu.
Rizki terkekeh kecil karena Rosa tak mengerti dengan hasil karyanya itu.
"Aku mau bikin karya yang lain boleh?" tanya Rizki yang entah Rosa tak mengerti maksudnya.
Rosa mengerutkan keningnya sambil menatap Rizki yang menaik turunkan alisnya. Rosa merasa aneh dengan tatapan Rizki yang seolah menginginkan dirinya sekali. Rosa memundurkan langkahnya dengan susah payah menelan salivanya karena Rizki terus melangkahkan kakinya dengan senyum yang tak pudar.
"Ka-kamu ma-mau a-apa?" tanya Rosa gugup dengan tingkah suaminya.
Rizki tersenyum puas melihat ekspresi Rosa yang terlihat semakin menggemaskan dan semakin menggoda menurutnya.
"Aku mau kamu sayang" ucap Rizki saat Rosa sudah menghentikan langkahnya karena sudah mentok dengan dinding kamar tersebut.
"Ma-mau a-aku?" tanya Rosa dengan gugup dan jantung semakin berdebar.
Rizki hanya membalas dengan anggukan kepalanya dan berusaha mengendalikan diri yang sudah mengebu bahkan debaran jantungnya sangat berdesir saat di hadapkan dengan perempuan impiannya selama ini. Rizki semakin mendekat dengan kepala yang sudah miring menatap kecantikan istrinya.
Rosa menutup matanya saat Rizki semakin mengikis jarak di antara keduanya. Lembut, iya sangat lembut Rizki memaut bibir Rosa namun lama kelamaan semakin menuntut hingga tanpa sadar Rizki telah melepaskan pakaian istrinya begitu saja bahkan Rizki sudah berhasil merebahkan Rosa di atas ranjang yang akan menjadi saksi dari hasil karyanya hari itu.
__ADS_1
****