Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
107.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Sani sudah di perbolehkan pulang bersama bayinya. Setelah sepakat, Sani dan Indra akan tinggal sementara di kontrakan yang selama ini Indra tempati. Sani tidak keberatan dan rela meninggalkan fasilitas yang masih di berikan kedua orang tuanya.


Papi Roni mengizinkan untuk Sani tinggal di kontrakan Indra dengan syarat Indra harus mulai bekerja di perusahaan milik papi mertuanya itu, meski awalnya menolak tapi akhirnya Indra setuju karena bagaimana pun Indra memikirkan kehidupan kedepannya untuk Sani dan bayi mereka.


"Maaf kalau kontrakan ini terlalu kecil untuk kamu dan maaf kalau kamu nantinya jadi enggak nyaman. Untuk sementara tinggal disini dulu gak apa-apa kan? Sampai aku dapat rumah yang lebih kayak untuk kamu dan Mika" kata Indra setelah sampai di dalam kontrakan miliknya.


Sani membalas senyum kepada sanh suami dan memandangi setiap sudut ruang dalam kontrakan tersebut. Rapi, iya sangat rapi dan bersih. Indra merawatnya dengan baik.


"Kamu dan Mika istirahat dulu saja. Biar semua barang-barang kamu dan Mika aku rapihkan" kata Indra lagi dan membantu Sani meletakan Mika di atas kasur miliknya. Beruntung kasur milik Indra berukuran no 2 yang mana bisa menampung untuk dirinya, istri dan anak mereka.


Sani mengangguk patuh dengan yang di minta Indra. Sani juga masih dalam tahap pemulihan karena luka jahit selepas operasi melahirkannya itu. Tapi ya begitu lah Sani, dirinya merasa tidak enak hati dengan suami yang baru menikahinya beberapa hari lalu.


***


Disisi lain Adel merasa ada yang kurang dalam harinya. Adel yang baru bangun setelah semalaman menghabiskan waktu di club merasakan pusing di kepala. Terasa sangat berat dan masih berputar-putar. Entah berapa banyak alkohol yang sudah di minumnya.


Adel meraih handphonenya dan memaksakan membuka kedua matanya. Tidak ada satu notif dari seseorang sudah sudah menemaninya beberapa tahun terakhir ini. Kemana? Tanya Adel dalam pikirannya.


"Indra tumben gak hubungin aku beberapa hari ini? Biasanya kalo aku gak hubungin dia, dia pasti hubungin aku dengan over prosesifnya. Tapi kok ini enggak. Kenapa yah? Apa dia sakit? Hmm" ucap Adel menerka-nerka dan membenarkan tubuhnya hingga duduk dan bersandar.


"Apa aku telpon Indra saja ya? Atau aku chat saja kalo aku sakit? Apa ke kontrakannya saja? Hmm tapi gak usahlah nanti juga dia bakal hubungin aku. Toh Indra kan cinta mati banget sama aku. Dduuuh jam berapa sih ini? Hooaaamm" ucap Adel lagi dengan menguap melepas kantuknya.


Adel beranjak dari kasurnya dan mulai membersihkan diri di kamar mandi. Setelah merasa semua sudah tidak bau alkohol lagi dan Adel sudah rapi dengan pakaian sederhana yang biasa di gunakannya sehari-hari jika bersama Indra. Berbeda dengan pakaian Adel yang biasa di gunakan saat pergi ke club malam.

__ADS_1


"Tapi gak bisa gini deh, gimana kalo sekali-kali aku kasih kejutan ke Indra. Hmm baiknya hari ini aku masak kesukaan Indra dan aku bawain makanan kesukaannya ke kontrakannya. Indra biasanya kalo gak kesini kan pasti di kontrakan saja. Hmm oke oke" gumam Adel dengan senyum melekat di sudut bibirnya.


***


"Kamu gak ke kantor hari ini mas?" tanya Rosa setelah mendapati Rizki masih memeluk dirinya dari belakang, tangan Rizki melingkar di perut Rosa. Rizki mengusel bahu Rosa dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan karena aku kamu jadi enggak ke kantor mas"


"Aku cuma takut kamu pergi lagi" jawab Rizki dengan mengeratkan pelukannya. Rosa melepas pelukan Rizki dan membalikan badannya. Menatap lekat suaminya yang berantakan ini. Di elus pipi suaminya dan di raup wajah Rizki.


"Aku janji gak akan pergi lagi mas. Lagian buat apa aku pergi, kamu gak lihat hasil perbuatan kamu di perutku ini? Mau pergi kemana? Aku gak sanggup pergi jauh-jauh" kata Rosa serius dan membuat Rizki tersenyum lalu mencium bibir Rosa sekilas, dilihatnya bibir Rosa lagi yang membuat Rizki ingin menciumnya lagi dan lagi.


"Eemmm mas" ucap Rosa setelah ciuman Rizki terlepas dari bibirnya. Rizki menghapus bibir basah Rosa dengan jarinya lalu membawa Rosa dalam pelukannya dengan mengelus rambut Rosa yang sudah semakin panjang.


"Aku tahu" jawab Rosa yang mendengarkan suara detak jantung suaminya, iya Rosa masih berada didalam pelukan Rizki dan menepel kepala Rosa di dada bidang Rizki.


"Jangan pernah pergi lagi. Aku gak biaa hidup tanpa kamu" ujar Rizki jujur.


"Beberapa bulan terakhir kemarin bisa mas" goda Rosa.


"No, kamu gak tahu terpuruknya aku sayang. Pokoknya janji gak boleh pergi ninggalin aku lagi"


"Aku tahu mas. Buktinya kamu sampe gak keurus kayak gini kan?"

__ADS_1


"Sayang" panggil Rizki lembut.


"Hm" jawab Rosa bersamaan Rizki melepas pelukannya. Di tatap kedua mata Rosa lagi dan diciumnya oleh Rizki kedua mata Rosa.


"Hari ini temenin aku cukur rambut, terus abis itu kita beli perlengkapan buat si kembar. Kamu mau kan?" ajak Rizki dengan semangat. Rosa membalas dengan anggukan kepala dan senyum.


***


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara ketukan pintu sudah terdengar sejak beberapa menit lalu. Indra yang masih menjalankan ibadah shalat, Sani perlahan beranjak bangun dari duduknya dan mencoba membukakan pintu untuk tamu yang Sani rasa adalah temannya Indra.


Perlahan dan pasti saat Sani membukakan pintu kontrakan Indra, kedua mata mereka saling bertemu. Mata Adel menghimpit melihat perempuan yang tak lain saudaranya ada di depan matanya dan ada di kontrakan pacarnya. Lho?


"Ngapain lo disini?" tanya Adel dengan suara meninggi. Sani seketika terhentak terkejut saking kerasnya suara Adel yang terdengar oleh telinganya.


"Gue tanya ngapain lo disini?" tanya Adel lagi dengan suara yang masih sama. Sani diam dan tak membalas atau menjawab pertanyaan Adel. Adel yang geram langsung masuk paksa ke dalam kontrakan Indra begitu saja.


Terlihatlah Indra dengan baju koko dan sarungnya sedang menggendong bayi kecil di tangannya. Mata Adel menoleh dan memperhatikan perutnya Sani. Aahh iya perut Sani sudah mengecil itu artinya Sani sudah melahirkan. Hah? Melahirkan? Apa bayi yang ada di gendongan Indra itu anak mereka? Tanya Adel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa aneh dengan apa yang di lihatnya saat ini, banyak pertanyaannya berputar di kepala, hingga tanpa sadar Adel pun jatuh dan tak sadarkan diri. Eehh ini pingsannya pura-pura.


Jujur Adel bingung harus berekspresi apa. Adel juga cukup terkejut dengan ini tapi yang Adel ingat jika Indra mengetahui dirinya ada sakit bawaan jantung yang mana pasti akan tak sadarkan diri jika menerima sesuatu yang cukup mengejutkan. Yaah ini salah satunya, pikir Adel begitu.

__ADS_1


"Kak" panggil Sani takut dan bingung.


__ADS_2