
"Mah, mama bener gak mau kasih tahu dimana Rosa berada? Rizki seperti kehilangan separuh jiwa Rizki mah. Rizki khawatir dengan Rosa, Rizki juga kangen Rosa mah" ucap Rizki dengan mata yang sudah memerah. Rizki tiba-tiba saja menjadi seseorang yang cengeng setelah perginya Rosa.
"Mama bukannya gak mau kasih tahu kamu Ki tapi mama memang gak tahu dimana Rosa. Mama pun sama, mama khawatir dan juga mama kangen anak mama itu" jawab mama Wina dengan hembusan nafas panjang.
"Tapi mama yang jemput Rosa pulang saat itu kan? Rizki tanya susternya dan bilang seperti itu. Terus Rosa kemana mah? Mama harusnya tahu"
Mama Wina menganggukan mengiyakan jika dirinyalah memang menjemput Rosa pulang dari rumah sakit.
"Tapi mama gak pulang bareng dengan Rosa ke rumah ini. Rosa hanya menitipkan semua barang-barangnya" kata mama Wina beranjak dan mengambil barang-barang Rosa berupa ponsel dan dompet. Setelahnya mama Wina kembali dan memberikan kedua barang tersebut kepada suami anaknya ini. Rizki menerima dengan air mata yang luruh.
"Kenapa Rosa menitipkan ini mah?" tanya Rizki bingung. Pantas saja Rizki telpon gak pernah di angkat bahkan terkadang tidak aktif, itu karena ponsel Rosa sudah kehabisan daya saat di pegang mama Wina.
"Mama salah Ki. Mama yang mengizinkan Rosa untuk pergi. Karena mama kecewa. Mama kecewa sama kamu" ungkap mama Wina jujur. Rizki menoleh dan menatap mama Wina serius.
"Rizki minta maaf mah. Maaf sudah buat mama kecewa. Tapi apa yang bikin mama kecewa dari sikap Rizki? Biar Rizki bisa memperbaiki. Maafin Rizki mah" kata Rizki tulus. Entah kenapa hatinya sakit mendengar pengakuan ibu mertuanya kecewa seperti ini.
"Apa kamu gak tau kesalahan kamu?" tanya mama Wina mencoba ingin mengetahui dari mulut Rizki. Rizki menghembuskan nafasnya pelan lalu menundukan kepalanya sedikit.
"Sebelum menikah dengan Rosa. Rizki sempat bertemu dengan Hari. Hari menginginkan Rosa kembali dan Rizki gak mau hal itu terjadi. Karena Rizki gak mau Rosa kembali sakit hati seperti dulu lagi mah. Sampe akhirnya Hari ngajak Rizki taruhan untuk siapa yang bisa menikahi Rosa" ucap Rizki pelan tapi masih terdengar jelas di telinga mama Wina.
__ADS_1
Mama Wina menggelengkan kepalanya dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga. Kebenaran pahit yang menimpa rumah tangga anak dan menantunya ini.
"Iya mama kecewa akan hal itu. Mama sudah mengetahuinya" ucap mama Wina pelan.
"Apa Rosa menceritakan ini sama mama? Maafin Rizki mah. Jauh dari taruhan itu, Rizki sangat amat mencintai Rosa. Rizki gak tahu kalo akhirnya malah jadi kayak gini" ucap Rizki penuh sesal.
"Awalnya bukan Rosa yang menceritakan ini tapi Hari. Hari datang menjenguk Rosa saat itu dan menceritakan semuanya. Jujur mama kaget, mama gak tau harus gimana karena mama gak nyangka kamu seperti itu. Kamu di luar dari apa yang mama bayangkan. Dan itu melukai hati anak mama" ungkap mama Wina jujur.
Rizki mendesah merasa semakin bersalah hingga Rizki bersimpuh di kaki mama Wina untuk memohon maaf.
"Maafin Rizki mah. Rizki menyesal. Gak seharusnya Rizki kayak gitu. Maafin Rizki mah"
"Hal lain?" tanya Rizki sambil berpikir dan mengingat hal apa yang sudah terjadi. Mama Wina menganggukan kepala dan menatap menantunya dengan serius.
"Apa itu mah? Hal apa itu? Maaf Rizki berbuat salah tapi Rizki tidak menyadari hal itu. Maafin Rizki mah" sahut Rizki yang tak mengingat kesalahannya.
"Seorang perempuan hamil menemui Rosa sebelum Hari. Mama gak bisa bilang apa yang di sampaikan perempuan itu kepada Rosa. Karena mengingatnya saja sudah membuat mama benci bahkan terkadang mengingat itu mama jadi benci sama kamu. Yang jelas perempuan itu mengatakan jika kalian masih saling mencintai. Apa benar seperti itu?" tanya mama Wina ingin tahu.
Rizki menelan salivanya kasar bahkan dadanya semakin berdebar.
__ADS_1
"Perempuan hamil? Siapa mah? Apa itu Sani?" tanya Rizki mencoba menebak. Padahal udah jelas banget dia tapi kok masih nanya sih Ki.
"Iya dia adalah Sani. Mantan pacar kamu" jawab mama Wina yang memang tahu siapa perempuan itu. Rizki melebarkan matanya sambil mencoba memutar ingatannya. Dengan pertanyaan apa yang di katakan Sani kepada Rosa juga apa Sani mengatakan ucapannya saat membela Sani dari Indra. Bodoh! itulah yang Rizki katakan pada dirinya sendiri.
Ternyata membela Sani adalah suatu kesalahan dan ancaman bagi hubungannya dengan Rosa. Lalu kenapa Rosa bisa percaya dengan mudah? Padahal selama ini Rosa bukanlah orang yang mudah percaya terlebih itu perkataan Sani. Terus kenapa sekarang percaya?
Rizki tersungkur lemas saat ingatan dirinya membela Sani di hadapan Indra saat itu. Menyesal kembali karena sudah mengatakan hal demikian yang nyatanya malah menyakit kedua perempuan ini. Perempuan yang pernah dicintainya dan perempuan yang sangat di cintainya.
"Mama tanya sekali lagi Ki. Apa benar kalian masih saling mencintai? Kalau jika iya, mama gak akan keberatan jika kamu kembali dengan perempuan itu tapi tolong lepaskan Rosa. Jangan sampai kalian menjalin cinta bertiga atau hubungan bertiga. Itu menyakitkan Ki. Biar bagaimana pun Rosa anak mama. Mama gak mau anak mama merasakan sakit sendiri yang jelas kalau sampai terjadi mama akan merasakan sakitnya juga"
Rizki menggelengkan kepala cepat dengan menatap sendu mama Wina. Demi Tuhan di hatinya cuma Rosa saat ini dan tak ada yang lain bahkan tak akan pernah ada yang lain, itulah yang di rasakan dan di janjikannya setelah menikahi Rosa.
"Rizki cuma cinta Rosa mah. Rizki cuma sayang Rosa. Rizki cuma mau Rosa. Dan Rizki hanya menginginkan Rosa bersama Rizki hingga kami menua bersama. Rizki berani bersumpah hanya Rosa yang ada dalam ingatan Rizki. Maafin Rizki mah maafin Rizki, hisk" ucapnya pilu dengan derai air mata.
"Apa perempuan itu masih mencintai kamu?"
"Rizki gak tau dan gak mau tau mah. Dia masa lalu Rizki. Dan Rizki gak mau mengingat masa lalu Rizki lagi. Terlebih Rosa yang udah sembuhin luka dari masa lalu yang dia buat itu mah" ungkap Rizki jujur dengan mama Wina menghembuskan nafasnya.
"Mama gak tau harus percaya atau enggak sama kamu Ki. Tapi jika kamu memang mencintai anak mama. Tolong jangan sakiti anak mama. Rosa anak mama satu-satunya. Rosa kebahagiaan mama. Kalau Rosa sakit hati, mama pun sama. Kamu paham maksud mama?" tanya mama Wina meski Rizki menatapnya dengan nanar.
__ADS_1