
Rosa memilih diam setelah mendengar apa yang di katakan Sena. Rosa memikirkan apa yang di katakan Sena sebelumnya. Meski sudah bisa menebak siapa sahabat yang di maksud Sena tapi Rosa masih belum bisa menebak siapa dalang dari semua kejadian yang telah dirinya lalui.
Rosa pun memikirkan bagaimana jika dirinya menjadi Sani, jelas semua pun juga tak adil bagi Sani dan Sani sebagai korban disini, selain dirinya bahkan Sani di jadikan kambing hitam agar terkesan Sani memanglah tersangkanya.
"Kenapa melamun?" tanya Yuda yang baru datang dan menghampiri Rosa. Rosa tengah menatap jendela memandangi gedung-gedung yang berjajar tinggi di baliknya. Rosa menoleh dan tersenyum tipis kepada Yuda. Rosa pun enggan menanyakan apa yang sudah dirinya dengar dari Sena. Rosa ingin sekali jika Yuda sendiri yang menceritakan tanpa harus dirinya menanyakan.
"Gak kok. Gue cuma mikir aja. Kayaknya udah lama juga gue disini" sahut Rosa lalu menatap kembali keluar jendela.
"Sabar, yakin sebentar lagi anak-anak dan suami lo pulang" ucap Yuda enteng lalu duduk di sofa dan memandang Rosa yang masih berdiri.
"Lo udah makan?" tanya Yuda lagi.
"Udah alhamdulillah. Eehh gue mau liat anak-anak dulu. Lo mau ikut apa mau disini?"
"Ikut" kata Yuda lalu keduanya beranjak.
***
"Alhamdulillah kondisi pasien mulai ada kemajuan. Pasien sudah siuman namun kami akan tetap terus memantau kondisi pasien" kata sang dokter yang menangani Rizki.
"Puji Tuhan" ucap Ayyas bersyukur.
"Terima kasih dok, tetap lakukan yang terbaik untuk sahabat saya"
"Baik pak Ayyas. Kalau begitu saya permisi" kata dokter berlalu dan Ayyas menghampiri brankar Rizki.
Rizki menoleh dan matanya bertemu dengan mata Ayyas. Entah apa yang di pikirkan Rizki sehingga membuat matanya sedikit memerah padahal yang di lihatnya adalah Ayyas.
__ADS_1
"Syukurlah lo udah sadar sekarang. Lo kalo tidur jangan lama-lama. Biaya rumah sakit bengkak tau" celoteh Ayyas memecahkan keheningan antara dirinya dan Rizki. Karena setelah kejadian itu, rasanya Ayyas marah terhadap Rizki tapi marah pun sepertinya tidak berguna. Dan Ayyas memendamkan rasa marahnya agar tidak memperumitkan masalah.
Rizki tersenyum tipis kepada Ayyas dan menggerakan kepalanya menjadi menatap lurus kamar ICU nya.
"Gue bercanda. Gak usah di ambil hati, lo harus semangat sembuh ya Ki. Demi Rosa dan anak kembar lo" kata Ayyas lagi dan Rizki hanya merespon dengan anggukan kepala.
Ingin Rizki menanyakan Rosa dan anak kembarnya namun lidahnya terasa kelu. Rizki hanya diam sambil mengingat pecahan kejadian sebelum dirinya terbaring di ruang ICU ini.
"Mikirin apa? Rosa? Baik-baik aja dia. Lo kan tahu kalo dia perempuan kuat jadi apa pun yang udah terjadi, Rosa pasti bisa lewatinnya. Dan selamat ya atas kelahiran anak kembar lo. Mereka cantik dan tampan" jelas Ayyas memberitahukan keadaan saat ini. Seolah Ayyas bisa memahami dari raut wajah Rizki yang ingin tahu keadaan istri dan anaknya.
"Y-yas" panggil Rizki lirih dengan air mata yang sudah basah. Ayyas segera mendekatkan diri kepada Rizki dengan menatap Rizki sambil menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya.
"Hm"
"Ro-rosa di-dimana?" tanyanya dengan sedikit terbata dan bergetar. Rizki pun berperang dengan perasaannya sendiri. Rizki merasa bersalah setelah mengingat kejadian yang sudah membuatnya terbaring di dalam ruangan ini.
"A-anak gu-gue ke-kenapa?"
"Gak apa-apa, mereka baik-baik aja. Mereka lahir premature jadi sekarang mereka di nicu. Lo gak perlu khawatir, lo fokus sembuh dulu ya dan setelahnya gue akan anter lo ketemu anak-anak lo" Jawab Ayyas dengan tenang membuat Rizki sedikit terlihat lega. Rizki pun memberanikan untuk menanyakan hal-hal yang yang terlintas di pikirannya dan Ayyas pun menjawab dengan berusaha tidak membuat Rizki tertekan. Helaan nafas panjang terdengar dari Rizki dengan pelupuk mata yang masih basah.
"Gu-gue pengen ketemu mereka. Ta-tapi ra-rasanya gak mungkin" ucap Rizki dan membuat Ayyas menautkan alisnya.
"Gak mungkin kenapa? Mau gue hubungi Rosa sekarang? Lo pasti kangen kan sama sahabat yang merangkap jadi istri lo itu?" Rizki tersenyum kecil namun dirinya tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Ayyas.
"Kenapa? Ada hal apa yang lo pikirin sekarang?" tanya Ayyas lagi yang tidak bisa mengartikan tatapan Rizki saat ini.
"Gu-gue ma-mau ketemu Yuda" jawab Rizki dengan bergetar tapi masih terdengar jelas dalam pendengaran Ayyas. Lagi dan lagi Ayyas menautkan alisnya bingung. Merasa fellingnya menjadi tidak enak. Terlebih Yuda menarik diri setelah Rizki menikahi Rosa.
__ADS_1
"Ada apa? Mau gue sampein aja?" tanya Ayyas lagi dan di gelengkan kepala Rizki.
"Gu-gue ma-mau ketemu Yuda, Yas. Please!!" pinta Rizki dengan tatapan memohon kepada Ayyas. Ayyas pun menganggukan kepalanya lalu meraih ponselnya dan segera menghubungi Yuda.
Dering demi dering dan saat dering ketiga panggilan pun menghubungkan.
"Iya Yas" jawab Yuda dalam sambungan telepon.
"Lo dimana?" tanya Ayyas langsung dengan tatapan kepada Rizki.
"Gue di rumah sakit lagi di ruang Nicu sama Rosa. Alhamdulillah anak-anak Rosa udah ada kemajuan dan bisa pulang dalam waktu dekat" jawab Yuda dengan suara yang sangat senang. Begitu juga dengan Ayyas yang tersenyum sambil mengucap syukur.
"Puji Tuhan. Semoga si kembar terus membaik dan segera bisa pulang. Amin"
"Iyaa aamiin. Lo sendiri lagi dimana?" tanya Yuda balik kepada sahabat karibnya.
"Gue di ruang ICU Rizki. Lo bisa kesini sebentar?"
"Nanti gue kesana sama Rosa. Sebentar lagi paling sekitar 20 sampe 30 menitan lagi. Rosa lagi seneng banget bisa gendong anaknya pertama kali Yas. Nanti gue kirimin video sama fotonya ya"
"Duh gue jadi gak sabar mau liat mereka. Eh btw lo kesini sendiri aja bisa gak? Rosa biar nyusul nanti aja" pinta Ayyas dengan suara serius. Yuda terdiam dengan pikiran bertanya dalam dirinya sendiri.
"Hmm, ada apa?"
"Rizki udah sadar dan sekarang dia mau ketemu sama lo. Mungkin ada yang mau dia bicarain sama lo. Temuin aja sebentar biar nanti gue yang susul Rosa di ruang Nicu"
"Oke gue kesana sekarang" sahut Yuda memutuskan sambungan telepon lalu mengkode Rosa untuk pergi sebentar. Rosa menganggukan dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Sungguh senyum yang di rindukan Yuda selama ini kembali terlihat saat Rosa sedang menggendong anak laki-lakinya itu.
__ADS_1