Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
12. Naik Jabatan


__ADS_3

"Nanti mau makan siang bareng?" tanya Rizki setelah sampai di depan rumah sakit tempat Rosa bekerja. Rosa belum menjawab karena Rizki saat ini sedang membukakan seatbelt yang terpasang di tubuhnya.


"Sa" panggil Rizki lembut dengan jarak mereka sangat dekat.


Rosa kesulitan menelan salivanya karena jarak yang terlalu dekat ini kali pertama yang dirinya sadari. Berarti selama ini gak pernah sadar donk Sa? Iyalah enggak karena biasanya menganggap hal itu hal biasa beda dengan sekarang yang udah dalam status serius.


"Hm" jawab Rosa lalu menoleh ke arah Rizki yang posisinya sudah di kursi pengemudi.


"Nanti siang mau makan bareng? Kalo mau aku jemput yah" kata Rizki dengan tatapan yang sangat lembut. Ya Rizki memang sangat lembut orangnya. Meski Rizki kerap sekali dingin kepada orang lain tapi tidak kepada Rosa.


"Lo mau makan siang sama gue?" tanya Rosa yang entah ingin menggoda Rizki atau memang tak mengerti maksud Rizki. Rizki menatap Rosa sendu.


"Iya mau banget. Mau banget makan siang sama kamu. Calon istrinya Rizki Adipati Prasetya" jawab Rizki dengan bibir manyunnya. Rosa tersenyum lebar mendengar jawaban dari sang calon suami. Tak habis pikir. Itulah katanya dalam hati.


"Yaudah" ucap Rosa singkat yang langsung menerbitkan senyum Rizki.


Entah kenapa setiap dengan Rosa, Rizki bisa berubah menjadi anak kecil yang manja, juga bisa jadi seseorang yang hangat bahkan Rizki bisa jadi seseorang yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Yaudah nanti aku jemput lagi yah. Selamat bekerja calon istri" kata Rizki tulus dan di anggukan oleh Rosa.


***


"Ros laporan yang minggu lalu liat gak ada dimana?" tanya Ayyas yang langsung masuk saja ke dalam ruangan kerja Rosa.

__ADS_1


"Bukannya bapak taruh di laci bawah meja bapak?" tanya Rosa yang bersikap profesional saat mereka ada di dalam satu kantor.


"Bisa minta tolong carikan Ros? Saya pusing cari-cari dari tadi enggak ketemu" kata Ayaas dengan wajah memelas. Rosa mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Ayyas yang sedang memohon carikan laporan yang ingin di periksanya. Rosa pun tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.


"Baik pak akan saya carikan di lemari bawah ruangan kerja bapak. Apa bapak mau sekalian keruangan bapak?" tanya Rosa sangat pelan dan sopan.


Ayyas memamerkan cengiran kuda khasnya dan menganggukan kepalanya. Sebenarnya Ayyas hanya ingin mengerjai Rosa saja. Sebab Rosa bila sudah bekerja suka telalu serius sehingga tidak bisa di ajak berbicara non formal seperti saat mereka di luar tempat kerjanya.


Rosa melangkahkan kaki ke ruangan kerja Ayyas yang tak jauh dari ruang kerjanya. Memang Ayyas kurang kerjaan, hal seperti itu saja harus menghampiri Rosa di ruangannya padahal bisa saja dia menanyakan hal demikian dengan via telpon saja bukan?


"Pak, ini berkas laporan minggu lalu yang bapak cari. Selebihnya ada hal lain yang mau bapak bahas dengan saya? Bila tidak ada saya akan kembali ke ruang kerja saya pak" kata Rosa yang membuat Ayyas terkekeh mendengarnya.


"Gak usah formal banget sih Ros. Lo lagi berdua doang sama gue. Yaelah!!" sahut Ayyas yang tak habis pikir.


"Bodo amat. Intinya sekarang lo cuma berdua doang sama gue jadi gak usah maen profesional segala. Biasanya juga lo bersikap biasa aja sama gue juga" protes Ayyas yang tak mau tau.


"Saya gak mau buat keirian antar karyawan aja pak. Bapak kan tahu dengan gosip-gosip saya anak emasnya bapak karena saya teman baiknya bapak jadi ada baiknya jika kita masih di dalam satu tempat kerja, saya akan menjaga sikap saya kepada bapak selaku atasan saya".


"Ya ya ya terserah lo deh!!" kata Ayyas pura-pura merajuk dan memanyunkan bibirnya dengan tatapan tak suka kepada Rosa.


"Jangan merajuk seperti itu pak. Nanti di kiranya saya berbuat macam-macam dengan bapak. Terlebih penggembar bapak ini suka bikin saya naik darah lho pak"


"Biarin!!"

__ADS_1


"Bapak mau saya berikan ice cream? Mau rasa apa pak?" tanya Rosa mencoba mencairkan Ayyas yang tengah merajuk. Padahal Ayyas hanya ingin menggoda sahabat perempuan satu-satunya ini.


"Enggak mau" sahut Ayyas dengan bibir yang semakin maju.


"Lalu bapak mau apa? Ada yang ingin bapak lakukan?" tanya Rosa lagi dengan sangat sabar. Ayyas menyodorkan sebuah map kepada Rosa. Rosa menghimpitkan kedua alisnya bingung namun tetap di terimanya dan di buka. Mata Rosa melebar setelah membaca isi dari kertas di dalam map tersebut.


"Pak. I-ini maksudnya?" tanya Rosa yang masih terkejut dengan isi kertas itu.


"Itu sudah jelas Ros apa yang saya tuliskan pada kertas itu. Apa kamu gak bisa baca? kayaknya kamu perlu ke optik deh buat cek mata kamu" jawab Ayyas sedikit menaikan nada suaranya dan berbicara kembali formal.


"Bapak ini serius? Bapak gak bercanda? Enggak lagi ngeprank saya kan pak? Bapak ngerjain saya ya?" tanya Rosa borongan ingin tahu.


"Enggak! Saya lagi dalam mode serius. Enggak lagi bercanda. Kan tadi kamu sendiri yang bilang ini lagi di dalam tempat kerja" jawab Ayyas lagi dengan nada yang masih terdengar kesal.


"Aaaaagggghhhh Ayyaaaaasss. Bisa-bisanya ya lo naikin jabatan gue. Buat apa hah?" teriak Rosa yang kini di buat kesal dengan Ayyas.


Ayyas sebenarnya dari dulu ingin sekali menaikan jabatan Rosa. Selain agar Rosa tidak di rendahkan dengan beberapa rekan kerjanya, kemampuan Rosa tidak usah di ragukan lagi. Memang sudah cerdas sedari sekolah dulu. Bahkan semenjak keuangan rumah sakit di kerjakan oleh Rosa. Semua pembukuan sangat terlihat transparan dan mudah di mengerti oleh para petinggi perusahaan. Apa lagi mami Mayang, maminya Ayyas selaku pemilik pertama sebelum Ayyas.


"Berisik ishks" kata Ayyas yang tak habis pikir.


Bagaimana tidak. Biasanya semua karyawan sangat menantikan kenaikan jabatan namun tidak dengan Rosa yang sangat tidak ingin naik jabatan dalam pekerjaannya ini.


"Makin jadi aja penggemar lo ngiranya gue pake hal-hal gak bener buat dapetin ini jabatan. Secara dan seharusnya buat dapet jabatan ini harus melakukan proses selesksi yang rumit, ribet dan panjang. Lah gue? Gak ada angin gak ada ujan langsung naik gitu aja? Bikin orang-orang makin iri lau iissshhkss" gerutu Rosa mencibikan bibirnya lalu duduk dengan kasar di sofa milik Ayyas.

__ADS_1


Ayyas menggelengkan kepalanya. Benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya ini. Naik jabatan malah marah-marah dan malah memikirkan perkataan orang lain. Padahal naik jabatannya semua karena kemampuan dirinya yang sangat baik bukan semata-mata karena dirinya sahabat sang bos.


__ADS_2