
"Gimana kondisi Adele dok?" tanya Indra ketika dokter Yola keluar dari ruang ICU Adele.
Dokter Yola menghempas nafas panjang dan menyimpulkan senyum kepada Indra, Rizki dan Rosa.
"Alhamdulillah kondisi pasien membaik. Tadi sempat sadarkan diri namun kini sedang tidur kembali. Pak Indra bisa menjenguknya besok pagi ya" jawab dokter Yola dengan senyum khasnya.
Indra menghela nafas lega begitu pun Rizki dan Rosa. Setelah tidak ada yang di tanyakan lagi dokter Yola pun undur diri.
"Kamu pulang aja Ki. Kasian Rosa pasti capek. Apalagi dia habis kerja kan. Kamu juga seharian nemenin kakak disini" kata Indra tak enak hati.
Rizki menoleh dan menatap istrinya yang juga menatapnya dengan senyum.
"Tapi kalo ada apa-apa kak Indra harus hubungin aku ya. Jangan sungkan. Oke" pinta Rizki dan di anggukan oleh Indra.
Rizki dan Rosa pun pamit dan meninggalkan Indra di rumah sakit menemani sang pacar meski dalam ruang terpisah.
***
"Hari ini kamu mau ke kantor atau nemenin kak Indra lagi mas?" tanya Rosa yang masih duduk di depan meja riasnya. Rosa menatap Rizki dari pantulan cermin yang mana Rizki sedang asyik dengan ponselnya.
"Aku ke kantor dulu sayang. Ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani. Mungkin pas jam makan siang aku ke rumah sakit sekalian makan siang dengan istri aku" jawab Rizki dengan mata yang masih fokus kepada ponselnya. Iya Rizki sedang mengejakan pekerjaan yang di kirimkan lewat ponselnya.
Rosa tersenyum menatap suaminya yang tengah fokus seperti itu. Mengakui jika pesona Rizki membuatnya jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Terlebih sikap Rizki yang hangat dan perhatian sekali.
Rizki menyadari jika istrinya terus menatap dirinya dari cermin dengan senyum manis. Rizki beranjak dari tepi tempat tidurnya dan menghampiri Rosa di posisi yang masih sama.
"Gak usah bikin aku salting pagi-pagi karena di liatin terus sama kamu. Aku tau kalo aku cukup mempesona hingga buat kamu gak mau jauh kan dari aku" kata Rizki yang memeluk Rosa dari belakang dengan meletakan dagunya di bahu Rosa. Bahkan sesekali Rizki mengusel-ngusel di leher belakang Rosa. Rosa terkekeh kecil karena merasakan geli atas kelakuan suaminya ini.
__ADS_1
"Geli mas" ucap Rosa mencoba melepaskan Rizki dari posisinya. Tapi bukannya melepaskan diri justru Rizki semakin gemas dengan Rosa.
"Ngapain pagi-pagi ngeliatin aku sambil senyum-senyum gitu?" bisik Rizki dengan manja.
"Kan yang di liatin suami sendiri. Salah?" tanya balik Rosa dan di gelengkan kepala Rizki yang masih ada di bahu Rosa.
"Terus?" tanya Rosa lagi yang menatap Rizki dari pantulan cermin meja riasnya.
"Ekspresi kamu ngeliat aku bikin aku tergoda sayang. Jangan suka bangunin yang lagi tidur" bisik Rizki dengan suara sedikit berat. Rosa menautkan alisnya dengan senyum dan menikmati pelukan suaminya.
"Tuh senyumnya. Jangan senyum kayak gitu. Bikin aku kegoda tau. Dan jangan pernah senyum kayak gitu kepada siapa pun. Cuma boleh sama aku aja ya" kata Rizki dengan mendaratkan kecupan di pipi Rosa berkali-kali. Rosa menganggukan kepala paham dengan maunya Rizki ini.
"Sebelum berangkat boleh yah? Biar aku makin semangat kerjanya" bisik Rizki di telinga Rosa yang membuat Rosa mengidik geli.
Rosa tak menjawab, hanya tersenyum melihat tingkah suaminya seperti ini. Rosa menganggukan kepala dan dengan siap Rizki tak menyia-nyiakan kesempatan dan waktu yang ada.
***
Bahkan Bulan seketika berubah jadi diam dan sering menundukan kepalanya karena merasa canggunh dengan tatapan sang papa yang heran kepada kakaknya ini.
"Bang, papa mau bicara sama kamu" kata papa Aji melamunkan Hari hingga mengangkat kepalanya menatap sang papa dan tersenyum tipis.
"Aahh iya pah. Mau bicara apa?" tanya Hari setelah meletakan ponselnya dan menatap sang papa dengan sopan.
"Abang masih inget dengan pesan papa?" tanya papa Aji mencoba mengingatkan pesan yang telah di sampaikannya saat itu. Hari mengangguk pelan dengan menyimpulkan senyum tipis.
"Jadi kapan abang akan menikah?" tanya papa Aji lagi dan Hari menghembuskan nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Di usahakan secepatnya pah. Kalo jodohnya udah siap. Hari akan segera menikah" jawab Hari sedikit santai padahal pikirannya sedang berpikir bagaimana bisa mendapatkan Rosa kembali. Iya, Hari bersungguh ingin menjadikan Rosa sebagai istrinya.
"Siapa calon istri kamu? Jika belum ada atau calon istri kamu belum siap, biar kamu papa nikahkan dengan anaknya sahabat papa. Dan yang sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya" ucap papa Aji membuat Hari menatap sang papa serius.
"Pah. Jangan memaksakan kehendak. Hari masih muda. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Pernikahan yang menjalani Hari pah bukan papa" kata mama Melani membela anak sulungnya. Iya mama Melani mengetahui jika Hari menginginkan Rosa dan mama Melani mendukung jika Rosa yang akan cocok menjadi pendampinya Hari.
"Mau sampai kapan? Sampai perusahaan papa alihkan ke yayasan? Papah juga ingin segera menimang cucu mah" ujar papa Aji sedikit menaiki suaranya.
"Sebentar pah. Hari sedang berjuang mendapatkan hati calon istri Hari"
"Berjuang mendapatkan hati? Maksud kamu apa? Calon istri kamu tidak mencintai kamu?" tanya papa Aji dengan serius.
"Bukan tidak mencintai pah hanya belum mencintai Hari lagi. Hari harus tunggu sebentar agar bisa mendapatkan hatinya lagi. Papa bisa kan tunggu sebentar?"
"Sampai kapan?"
"Secepatnya pah"
"Tapi kamu ingatkan jika kamu tidak segera menikah maka kamu tidak bisa mengambil alih perusahaan papa?" tanya papa Aji dan di anggukan oleh Hari.
"Hari ingat pah. Yaudah kalau begitu Hari berangkat dulu ke perusahaan ya pah. Sampai ketemu di perusahaan" pamit Hari dan beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan tak lupa mendaratkan kecupan di pipi sang adik dan sang mama.
Setelah kepergian Hari, mama Melani menatap suaminya sedikit sinis. Bagaimana tidak, suaminya ini terlalu memaksakan kehendak yang belum tentu orang itu mau melaksanakannya. Terlebih ancaman yang di katakan tak main-main karena perusahaan kan menjamin masa depan anak-anaknya.
"Pah. Jangan terlalu memaksakan kehendak apalagi meminta Hari segera menikah. Lagi pula Hari kan baru selesai kuliah pasca sarjananya. Jadi biarkan dia beradaptasi dulu dengan perusahaan sebelum akhirnya menikah dan sibuk dengan keluarganya. Apa papa gak mau menghabiskan waktu dengan anak-anak kita dulu?" tanya mama Melani dengan pelan dan lembut.
"Mah. Mama tau kalau papah sudah tak sesehat dulu. Papah gampang sekali capek saat ini bahkan papah lemah mah. Papah hanya mau melihat anak sulung papah menikah. Terlepas dari itu supaya Hari bisa menjadi pribadi lebih bertanggung jawab lagi akan hidupnya. Tidak seperti sekarang yang masih suka ke club malam Mah. Papah gak mau Hari terjebak di masa mudanya ini" jawab papa Aji menatap sendu istrinya.
__ADS_1