
Pak Beny berlalu begitu saja tanpa mendengarkan protes dari Tita. Begitu juga bu Ratna yang segera menghampiri Rosa. Tita yang tak terima ikut menghampiri Rosa dan segera mendorong Rosa dengan tenaga yang di milikinya. Bu Ratna dengan yang lain sampai melebarkan kedua matanya masing-masing. Terkejut karena secara penglihatan Rosa sedang hamil dengan perut yang sudah terlihat buncit.
"Apa yang sedang kamu lakukan!!" bentak Yuda yang tepat menangkap Rosa. Rosa jauh tepat di pelukan Yuda. Bahkan Yuda memeluk perempuan hamil itu dengan erat.
Mata Yuda memerah, menahan amarah melihat karyawannya memperlakukan Rosa seperti ini. Tidak disangka padahal pak Beny, papahnya Yuda sudah memecatnya secara tidak hormat tetapi masih saja membuat keributan.
Tita diam dengan nafas yang memburu dan berani menatap Yuda dengan tajam. Yuda pun membalas dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Pergi dan segera tinggalkan perusahaan ini atau kamu akan menyesal!" kata Yuda menurunkan suaranya namun terdengar sangat tegas.
Rosa terdiam dan tak berani mendongakan kepalanya. Rosa menutupi wajahnya di depan dada bidangnya Yuda yang tertutup kemeja dan jas. Sungguh penampilan Yuda sangat berbeda dari biasanya. Terlihat lebih rupawan dan berwibawa.
Yuda melonggarkan pelukannya lalu membawa Rosa menuju ruang kerjanya tanpa melihat wajah dari sahabatnya dulu. Bu Ratna terdiam dan membiarkannya karena bu Ratna kira jika Yuda adalah saudara Rosa yang mana sebelumnya pak Beny mengatakan jika Rosa adalah anaknya jadi bu Ratna memilih untuk pergi meninggalkan perusahaan dan kembali ke warung miliknya.
Sesampainya di dalam ruang kerja Yuda. Yuda memeluk Rosa semakin erat dan mencurahkan kerinduannya. Yuda tak memperdulikan bagaimana dan kenapa Rosa bisa ada di sini. Yang Yuda tahu jika dirinya sangat rindu dengan sahabat yang sudah berhasil menguasai hatinya ini. Yuda sesekali mencium puncak kepala Rosa dengan sudut mata yang sudah basah.
"Yud" panggil Rosa pelan yang masih di pelukan Yuda. Yuda tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya dengan arti jangan dulu meminta untuk melepas pelukan. Rosa pun membiarkannya hingga beberapa menit Yuda melepaskannya sendiri sambil menyeka sudut matanya.
Yuda memperhatikan penampilan Rosa yang mana pakaiannya kotor dari tumpahan air kopi juga kemeja dan jasnya ikutan kotor karena terserap saat memeluk Rosa. Rosa pun tak berani menatap Yuda langsung dan matanya tertuju pada kemeja Yuda dan Jas Yuda yang kotor.
"Maaf. Jadi ikutan kotor" ucap Rosa pelan.
Mendengar suara Rosa entah kenapa membuat Yuda terasa sesak hingga tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Yuda pun menangis dan menarik Rosa kembali ke pelukannya. Rosa yang mendengar suara tangis Yuda bingung harus berbuat bagaimana karena memang Yuda belum pernah seperti ini. Iyalah belum pernah kan orang yang membuat Yuda seperti ini kamu sendiri Ros.
__ADS_1
"Yud" panggil Rosa kembali.
"Hm" balas Yuda yang hanya berdehem.
"Kenapa nangis?" tanya Rosa yang merasakan tangis Yuda membasahi puncak kepalanya.
"Gue kangen. Maaf selama ini gue gak hubungin lo"
"Gak apa-apa" jawab Rosa dengan senyum tipis dengan pikiran jika Yuda selama ini tidak tahu kalau sebenarnya Rosa kabur dari Rizki.
"Begini dulu ya Ros" pinta Yuda dan mengingatkan Rosa pada sikap manjanya Rizki yang sering kali seperti ini.
Hingga akhirnya Yuda pun melepaskan pelukannya, Yuda merasa pelukan kali ini merasa ada yang menganjal di perutnya. Entah apa Yuda masih tak memikirkannya. Tetapi setelah memindai penampilan Rosa dari atas hingga bawah lagi kini Yuda memantapkan kepada perut yang sedikit membuncit di hadapannya. Yuda menatap perut buncit Rosa dengan bingung lalu mencoba memegangnya. Setelahnya Yuda menatap Rosa lagi dengan bibir yang bergetar.
Tak tahu perasaannya seperti apa yang jelas Yuda turut bahagia atas kehamilan Rosa ini. Yuda merasa bersyukur bisa bertemu dengan Rosa sebelum dirinya melahirkan.
"Hai. Kamu baik-baik aja di perut mama yah" kata Yuda lalu mencium perut buncit itu.
Rosa merasa lemas dan melengkungkan bibirnya ke bawah sambil menahan air matanya. Bagaimana tidak, karena yang seharusnya seperti itu adalah suaminya tapi kini bukanlah Rizki melainkan sahabatnya, Yuda.
Yuda kembali berdiri yang kini menatap Rosa bingung, sangat terlihat dari raut wajah Rosa jika dirinya tidak sedang baik-baik saja. Tapi Rosa enggan menceritakan dan Yuda enggan bertanya.
Yuda membingkai wajah Rosa lalu melemparkan senyum tampannya. Lalu menatap Rosa dengan tatapan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Gue tahu lo lagi gak baik-baik aja. Dan gue gak akan memaksa lo buat cerita. Tapi satu yang harus lo tau. Sekarang ada gue disini, gue gak akan membiarkan air mata lo keluar lagi, gue akan mencoba menghapus luka yang saat ini mungkin sedang lo rasakan" kata Yuda tulus dan Rosa membalas dengan senyum meski sedikit terpaksa karena dadanya sangat terasa sakit.
"Terima kasih" ucap Rosa melepaskan tangan Yuda yang berada di pipinya lalu kini Rosa yang memeluk Yuda dengan erat. Rosa seolah menumpahkan sesaknya dalam pelukan itu. Yuda pun mengelus punggung Rosa dengan lembut dan mencoba memberikan ketenangan disana.
***
Kondisi Adel semakin membaik. Indra merasa begitu beruntung karena dengan begitu usahanya selama ini tidak sia-sia. Indra sangat menyayangi dan mencintai Adel sehingga apa pun akan Indra lakukan untuk sang pujaan hati.
"Aku bisa sendiri. Kamu gak perlu lakuin itu" ucap Adel dengan lembut dari bibir yang masih terlihat pucat. Indra tersenyum lebar dengan menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa. Biar kamu gak kecapean sayang" sahut Indra tulus dengan binar mata yang bahagia.
Sejujurnya Adel sendiri merasa sangat bahagia bisa memiliki laki-laki seperti Indra tapi Adel tak bisa menampik jika dendamnya kepada keluarga Hartono bisa di salurkannya melalui Indra.
Melalui Indra? Gimana gimana?
Iya Adel adalah dalang dari malam yang terjadi antara Indra dan Sani. Adel merelakan Indra demi dendamnya. Tetapi Adel tidak takut kehilangan Indra karena Adel mengetahui jika Indra sangat menyayanginya. Terasa sesak awalnya tapi semua tak sia-sia karena Indra tetap memilih dirinya di banding Sani yang telah mengandung anaknya.
"Udah kamu istirahat aja" kata Indra dengan senyum melengkung di sudut bibirnya. Adel akhirnya mengalah dan membiarkan Indra melayaninya dengan sepenuh hati.
"Terima kasih ya sayang. Aku sayang kamu" sahut Adel lembut. Indra menganggukan kepalanya pelan dan membalas dengan senyuman hangat.
"Aku lebih sayang dari kamu" ucap Indra lalu menghampiri Adel dan mendaratkan kecupan di kening Adel sambil membenarkan selimut menutup hingga dada Adel.
__ADS_1
"Selamat beristirahat" ucap Indra lagi dan Adel segera memejamkan matanya hingga terlelap.
***