Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
126.


__ADS_3

"Tapi aku memang bersalah kak" kata Sani lirih


"Semua sudah jalannya. Kamu gak salah. Seandainya kakak ada di posisi Rizki, kakak akan melakulan hal yang sama"


"Jika itu terjadi pada Adel maksud kakak?" tanya Sani dengan menatap mata Indra. Indra tak menjawab dan hanya tersenyum kecil sambil membelai puncak kepala istrinya.


"Apa kamu cemburu?" tanya Indra dan kini Sani yang diam tak menjawab pertanyaan Indra. Seketika Sani lalu memikirkan bagaimana perasaan Rosa saat itu hingga saat ini. Sudah pasti Rosa cemburu.


"Aku. Aku harus apa kak?"


"Semua butuh waktu. Baik Rosa, Rizki dan juga kamu begitu juga dengan Adel" kata Indra dengan nada lembut agar tidak menyinggung perasaan istrinya.


"Dan kakak pun minta maaf karena secara tidak langsung semua terjadi dengan keterlibatan kakak. Selesainya hubungan kakak dengan Adel yang tidak baik-baik salah satunya. Bukan kakak membela Adel, disini juga kakak tahu jika kamu juga korban yang di kambing hitamkan oleh Adel sehingga semua seolah salah kamu sepenuhnya dalam hubungan Rosa dan Rizki. Kita semua butuh waktu untuk menurunkan emosi kita. Kakak harap kamu mengerti dan mau menurunkan ego sebentar. Rasa bersalah kamu bukan hanya kepada Rizki tetapi pada Rosa dan kedua anaknya. Kamu paham kan maksud kakak?" kata Indra lagi dan membuat Sani termenung memikirkan ucapan sang suami.


***


Satu minggu kemudian


Si kembar sudah di perbolehkan pulang. Begitu pula dengan kondisi Rizki yang semakin membaik. Rosa tidak memutuskan pulang kerumah karena Rizki yang meminta untuk tidak berjauhan dengan sang anak. Hubungan keduanya pun sudah tidak secanggung sebelumnya. Yang mana memang setelah kedua anaknya bertemu dengan sang ayah, membuat hati Rosa meluluh bahkan seolah keajaiban datang kepada anaknya dengan kemajuan pesat selama perawatan.


"Jadi kamu sudah siapkan nama untuk anak-anak kamu?" tanya mama Wina yang sedang menggendong anak laki-laki Rosa dan Rizki saat ini. Rosa menatap mama Wina lalu menggelengkan kepalanya.


"Kasian ini si ganteng sama si cantik belum di kasih nama. Dari dia dirawat dinamain sama susternya baby boy aja nak" protes mama Wina dengan mengkerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siapkan nama Ki?" tanya mama Wina kini kepada menantunya.


"Hmm. Sudah mah tapi belum bilang Rosa"


"Ihk kalian bagaimana sih. Kasih nama anak itu segera jangan di tunda-tunda. Kasian anak kalian. Anak ganteng dan cantik gini gak ada namanya"


"Kamu udah siapin nama mas?" tanya Rosa menoleh dan menatap Rizki yang juga sedang berbaring dengan anak perempuannya. Iya anak perempuan mereka sedang tidur terlelap di samping ayahnya. Rizki tersenyum sambil membelai pipi gembul anak perempuannya dengan senyum.


"Sudah sayang. Nama anak perempuan kita Risa Malinka Prasetya dan nama anak laki-laki kita Roki Maulana Prasetya" jawab Rizki lalu menoleh kepada sang istri dan mertuanya.


Mama Wina tersenyum senang mendengar nama kedua cucunya. Meski agak terngiang dengan nama cucu laki-lakinya ini.


"Maulana namanya Yuda?" tanya Rosa tak mengerti kenapa Rizki menyelipkan nama Yuda di anak laki-lakinya.


"Risa dan Roki adalah dua gabungan nama kita. Risa yaitu Rizki Rosa. Dan Roki yaitu Rosa Rizki" lanjut Rizki yang masih membelai pipi bayi perempuannya.


"Mama setuju. Apapun nama yang kalian berikan semoga nama tersebut bisa membuat anak-anak menjadi anak yang taat agama, berbakti kepada kedua orang tuanya, bisa berguna bagi keluarga dan lingkungan mereka nantinya" sahut mama Wina dengan senyum dan mencium cucunya.


"Aamiin" balas Rosa dan Rizki bersamaan.


"Mas kamu ...." kata Rosa lalu menghampiri Rizki. Memperhatikan wajah suaminya yang terlihat pucat. Rizki membalas tatapan Rosa dengan senyum mengukir sudut bibirnya.


"Mimisan" kata Rosa lagi dengan menyeka darah yang mengalir dari hidung suaminya.

__ADS_1


Mama Wina melebarkan matanya dengan sedikit panik meletakan cucu laki-lakinya di bed bayi yang sudah di sedikan oleh Ayyas lalu menggambil cucu perempuannya juga memindahkan untuk berbaring di sebelah bed kembarannya.


"Gak apa-apa nanti juga berhenti sayang" sahut Rizki dengan menggenggam tangan Rosa agar berhenti menyeka darahnya dan segera mendonggakan kepalanya agar darahnya segera berhenti.


"Panggil dokter Ros buruan" seru mama Wina menghampiri brankar Rizki dan memperhatikan raut wajah sang menantu.


Meski kondisi Rizki semakin membaik dari hari ke hari tetapi raut wajah Rizki sangat terlihat berbeda, lebih pucat dan tidak seperti biasanya. Rosa segera menekan tombol di dekat brankar Rizki dan setelahnya tidak lama dokter datang bersama dua suster.


Dokter memeriksa Rizki dan juga membersihkan bekas darah yang keluar dari hidung Rizki. Selebihnya Rizki hanya tersenyum kepada dokter juga bertatap seolah ada yang mereka bicarakan dalam tatapan mata. Rosa tak memperhatikan namun mama Wina yang menyadari hal itu. Bahkan tidak lama kemudian pula Ayyas datang dengan raut wajah sedikit panik. Panik? Nah lho?


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Ayyas langsung setelah dokter selesai memeriksa Rizki. Kegugupan dokter sangat sedikit sekali kelihatannya tapi Ayyas bisa pastikan memang terjadi seseuatu kepada sahabatnya itu.


"Ba-baik-baik saja pak Ayyas. Pasien harus banyak istirahat lagi supaya kondisi semakin membaik" jawab dokter dan setelahnya segera berpamitan meninggalkan semuanya.


Ayyas segera menghampiri brankar Rizki begitu juga Rosa. Sedangkan mama Wina memperhatikan ketiganya dari bed si kembar.


"Tuh harus banyak istirahat Ki. Anak-anak biar pindah ke kamar Rosa aja ya. Biar lo bisa istirahat dan cepet sembuh" kata Ayyas dengan menatap horor keoada sahabatnya.


"Gak apa-apa Yas. Gue cuma mau nebus waktu gue sama anak-anak yang sebelumnya. Gue mau ngabisin sisa hari dengan mereka" sahut Rizki yang entah sadar atau tidak mengatakan hal itu.


"Lo pasti ngabisin sisa hari sama mereka cuma gue takut lo drop kalo maksain mereka disini. Meski disini ada mama Wina dan Rosa tapi lo harus inget kalo Rosa juga belum lama habis operasi sc, jahitannya juga belum kering sepenuhnya. Dan juga si kembar belum lama baru boleh pulang setelah di rawat" jelas Ayyas dengan hati-hati dan dada yang berdebar.


Rizki tersenyum mendengarnya. Merasa egois saat ini tapi Rizki merasa tidak punya pilihan lagi setelah mengetahui vonis penyakitnya semakin memburuk. Semenjak dirinya sadarkan diri, Ayyas sudah membondong banyak pertanyaan. Terlebih Ayyas melakukan penge-check-an kesehatan keseluruhan dalam dirinya. Dan Rizki tidak bisa menghindari bahkan menutupinya lagi. Semua itu terjadi begitu saja dan begitu cepat setelah Rosa meninggalkannya dulu.

__ADS_1


***


__ADS_2