Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
28. Perasaan Yuda


__ADS_3

Setelah di kiranya selesai, Rizki langsung membereskan bedcover Rosa hingga lehernya lagi dan memilih untuk tidur di sofa yang tak jauh dari kasur berukuran besar itu. Rizki merebahkan dirinya dan memiringkan tubuhnya menghadap Rosa. Rizki mengulas senyum melihat sang istri yang menurutnya sangat cantik saat terlelap seperti itu.


"Selamat tidur Rosa Malinka, selamat tidur istrinya Rizki Adipati Prasetya" katanya tersenyum lalu ikut memejamkan matanya.


Waktu yang terus berjalan akhirnya membuat Rosa merasa tak tenang. Gimana mau tenang, Rosa tidurnya gak anggun banget. Berbeda dengan penampilannya. Bedcovernya tersingkap hingga pahanya yang membuat dirinya kini kedinginan dengan suhu ruangan yang semakin malam semakin terasa dingin. Rizki meski telah lelap dalam tidurnya tetap menyadari jika istrinya seperti tidak sedang baik-baik saja. Rizki bangun dari tidurnya dan mendapati sang istri yang menggigil kedinginan.


"Astagfirullahaladzhim Rosa" katanya lalu mendekati sang istri.


"Kamu kedinginan?" tanyanya dan di anggukan oleh Rosa. Rosa yang setengah sadar bukannya menarik bedcovernya malah memposisikan dirinya dengan meringkuk. Rizki merebahkan diri di sebelah Rosa lalu membawa Rosa dalam pelukannya. Perlahan pelukan Rizki dapat memberikan kehangatan di tubuh Rosa. Bahkan Rosa terlihat nyaman hingga tidurnya kembali tenang seperti sebelumnya.


Rizki merasa dirinya sangat dekat dengan wajah sang istri bahkan sampai terlihat tahi lalat Rosa yang hanya setitik di bawah alisnya. Yang tak begitu jelas terlihat jika berhadapan dengannya. Hanya dengan lebih dekat seperti ini baru terlihat jelas.


Tangan Rizki memeluk bahu Rosa yang terlihat jelas. Lembut. Iya lembut dan terasa harus menusuk indra penciumannya. Rizki tersenyum lembut lalu mencium puncak kepala istrinya yang juga tak kalah harumnya. Suka dan sangat suka, membuat Rizki rasanya tak ingin melepaskan pelukannya kepada sang istri.


***


"Yud lo ada acara abis ini?" tanya Ayyas setelah ingin meninggalkan pesta resepsi Rosa dan Rizki.


"Hmm enggak ada. Kenapa? Lo mau ngajak gue ngopi dulu?" tanya Yuda seperti cenayang yang sedang membaca pikiran kliennya.


"Kurang lebih begitu kalo lo mau. Udah lama juga kita gak ngopi bareng"


"Okelah. Kapan lagi kita ngopi sambil makan mis instan kan ha ha ha" kata Yuda sambil mengingat hal yang suka mereka lakukan dahulu sebelum sibuk dengan kerjaan masing-masing.


"Nah cakep. Ayoo" ajak Ayyas langsung menggandeng Yuda.


"Gak usah pegang-pegang. Gue masih normal" kata Yuda berusaha melepas tangan Ayyas yang menempel di lengannya.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ayolah sayang"


"Diiih jijik gue" kata Yuda lagi sambil terus mencoba melepaskan tangannya Ayyas.


"Eh Deby gimana?" tanya Yuda yang memang tahu tadi Deby bersama dengan Ayyas.


"Deby balik sama nyokap dan kakak gue. Biarinlah mereka biar makin deket. Lagi pula sebentar lagi juga mereka bakalan sering keluar bertigaan begitu" kata Ayyas lalu menodongkan tangannya di wajah Yuda.


"Mau ngapain lo?" tanya Yuda dengan tatapan horor.


"Biasa aja kali itu mata. Gue colok tau rasa lo. Gue mau minta kunci mobil lo. Biar gue aja yang nyetir" jawab Ayyas dengan menyimpulkan senyum. Aneh, iya aneh begitulah pikir Yuda.


"Lo sakit Yas? Tumben banget mau nyetir. Biasanya juga lo nyuruh gue atau Rizki yang nyetir kalo mau kemana-mana. Gue curiga nih"


"Suudzon aja lo. Gak baik tau. Gak boleh berpikiran yang enggak-enggak. Kalo kata Rosa dosa tau Yud"


"Yeee bisa banget lo ngalihinnya. Yaudah nih. Yang bener lo ya nyetirnya. Awas mobil gue sampe lecet. Gue minta ganti baru, gak mau tau"


"Bodo pokoknya gue gak mau tau" kata Yuda yang langsung masuk ke kursi di sebelah pengemudi.


Ayyas pun sama masuk kedalam pengemudi dan mulai menjalankan mobil Yuda dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Bagaimana tidak hati-hati, selain Yuda memang sangat apik akan hal barang, Ayyas juga tak ingin membuat masalah dengan mobil Yuda.


Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah Cafe tempat biasa meras sering berkunjung dahulunya.


"Ada apa lo ngajak gue ngopi? Ada hal yang mau lo omongin? Penting gak? Kalo gak abis makan gue mau langsung pulang. Capek banget gue" kata Yuda jujur.


"Yaelah baru juga sampe Yud. Sadis amat abis makam pulang. Cacing perut gue juga perlu penyesuain kali sama makanan yang baru gue makan nantinya. Gak asyik ah lo"

__ADS_1


"Masih asyik kali gue Yud. Cuma mager aja ngomong sama lo lama-lama ha ha ha"


"Tuh gitu tuh" kata Ayyas sambil memanyunkan bibirnya.


"Apa? Lo pasti mau ngomongin Rosa sama Rizki kan?" tanya Yuda dan di anggukan langsung oleh Ayyas.


"Apa-apa, lo mau tanya apa?" tanya Yuda lagi dengan senyum menantang kepada Ayyas.


"Biasa aja kali itu muka. Mau ngajakin gelut apa gimana?"


"Lo aja yang salah artiin maksud dari muka gue ha ha ha" kata Yuda dengan tertawa meledek Ayyas.


"Yaudah buruan lo mau nanya apa? Gue jawab jujur tapi cuma malem ini. Besok-besok gue gak mau jawab. Season tanya jawab cuma malam ini sampe gue ngantuk dan mau pulang. Oke"


"Ahh gak asyikk. Tau gitu gue siapin pertanyaan dari kemaren-kemaren"


"Lagian lo niat banget si" sahut Yuda tak habis pikir dengan Ayyas.


"Ha ha ha ha iyalah niat. Apalagi buat kebahagiaan sabahat gue. Pastilah gue harus niat seniatnya"


"Cuma gue gak percaya sama niat lo Yas. Udah buruan pertanyaan pertama apa?"


"Oke-oke. Yud. Gimana perasaan lo sekarang?" tanya Ayyas langsung pada intinya dan menatap Yuda dengan oenuh keseriusan. Iya Ayyas mengkhawatirkan Yuda dan juga memikirkan perasaan apa yang saat ini sedang Yuda rasakan.


"Gimana maksudnya?" tanya Yuda balik mencoba ke pertanyaan yang lebih signifikan lagi.


"Iya gimana perasaan lo sekarang? Gue tau perasaan lo ke Rosa kayak apa dan kayak gimana. Apa lo baik-baik aja kalo Rosa sama Rizki?" tanya Ayyas yang menatap mata Yuda mencoba ingin Yuda menjawab dengan jujur. Meski Ayyas sendiri tahu itu pasti berat untuk Yuda.

__ADS_1


"Gue baik-baik aja Yas. Dan akan baik-baik aja selama Rosa juga baik-baik aja. Lo sendiri tau kalo bahagia Rosa itu bahagia gue. Jadi kalo Rosa bahagia dengan pilihannya ke Rizki. It's oke gue gak apa-apa" jawab Yuda benar adanya dan jujur. Bahkan sebuah senyumnya timbul saat mengatakan hal demikian.


"Lo yakin? Lo yakin lo bakalan bahagia karena Rosa bahagia? Padahal bahagia Rosa bukan lo yang ciptain tapi orang lain? Meski Rizki sahabat kita. Tapi apa bener lo rela?" tanya Ayyas ingin mengetahui semua dari Yuda sendiri. Dan Ayyas tak ingin Yuda merasakan sakitnya sendiri.


__ADS_2